Pasanganku pernah bertanya, “mengapa kau menggunakan ikon itu?” sambil menunjuk gambar seorang bocah berkepala botak dengan pakaian compang-camping di blog-ku. Aku menjawab dengan sederhana, “semangatnya membuatku termotivasi untuk terus bekerja demi pembebasan manusia”! Pasanganku masih bingung. Pertanyaannya tetap tidak terjawab. Seandainya dia mengetahui makna dari gambar itu, wajahnya pasti berseri.

Handala.gifHandala, itulah nama tokoh yang mulai muncul pada tahun 1969. Tokoh ini kemudian identik dengan penciptanya Naji Ali, seorang pejuang pembebasan Palestina . Sejak tahun 1973, Handala selalu muncul dengan tampak belakang. Tokoh ini menggambarkan seorang anak kecil yang berumur 10 tahun berkepala botak dan tangan yang disilangkan di punggungnya dengan penampilan yang compang-camping.

Semuanya bagian menyimbolkan berbagai nilai bagi penciptanya. Bocah 10 tahun adalah saat Naji Ali terusir dan harus hidup di pengungsian. Penampilan yang compang-camping adalah penggambaran bagaimana penderitaan warga Palestina yang terusir dan harus hidup di pengungsian. Tangannya yang mengepal di belakang adalah simbol penolakan terhadap model penyelesaian yang berasal dari luar. Sebagai seorang anak, Handala tidak akan tumbuh dewasa jika masih terjadi penindasan terhadap bangsa Palestina.

Naji Al-Ali wrote: “The child Handala is my signature, everyone asks me about him wherever I go. I gave birth to this child in the Gulf and I presented him to the people. His name is Handala and he has promised the people that he will remain true to himself. I drew him as a child who is not beautiful; his hair is like the hair of a hedgehog who uses his thorns as a weapon. Handala is not a fat, happy, relaxed, or pampered child. He is barefooted like the refugee camp children, and he is an icon that protects me from making mistakes. Even though he is rough, he smells of amber. His hands are clasped behind his back as a sign of rejection at a time when solutions are presented to us the American way.”1

Handalah adalah sebuah sumpah. Begitu pula aku memaknai Handala, perlawanan terhadap ketidakadilan akan terus berlangsung dan tidak akan pernah berakhir.

Aku yakin, banyak orang di Indonesia yang tidak mengenal Handala. Jika banyak kalangan Islam, khususnya kelompok fundamentalis menganggap bahwa persoalan Palestina adalah masalah pertarungan antara Islam dan Yahudi, maka itu salah besar. Banyak orang yang justru salah melihat konteks perlawanan rakyat Palestina terhadap penjajahan Israel. Seperti yang disampaikan oleh salah satu pengagas Intifada, Mubarak Awad dalam sebuah diskusi di sudut Jakarta. Ini adalah masalah penjajahan yang dilakukan oleh sebuah bangsa terhadap bangsa lainnya! Bukan kebencian berdasarkan suku, ras apalagi agama! Ini masalah ketidakadilan!

Catatan kaki
  1. silahkan kunjungi http://www.handala.org/handala/index.html []