Persis seperti apa yang aku tuliskan di judul tulisan ini, di berbagai wilayah di Indonesia tersebar gambar-gambar orang ‘jelek’. Mulai saat ini, sebaiknya anda berhati-hati saat mengendarai kendaraan, berjalan kaki bahkan saat nongkrong di pojok jalan. Gambar mereka sudah bisa dipastikan akan menganggu pemandangan anda saat beraktifitas. Bisa-bisa menyebabkan kecelakaan yang fatal karena konsentrasi anda terganggu saat menyetir mobil atau mengendarai motor. Kaki anda tersandung jika kurang berhati-hati.

Fenomena ini mulai jadi perhatianku sejak 3 atau 4 bulan yang lalu. Banyak sekali bertebaran iklan mereka yang sedang mengejar kursi, baik itu di Dewan Perwakilan Rakyat (DPR-RI) dan DPR Daerah pada pemilu 2009. Para calon legislatif (caleg) mencoba mempengaruhi para pemilih dengan iklan. Tak terhitung juga beberapa iklan para calon presiden yang sedang gencar untuk persiapan bulan Juli 2009.

Dengan sistem pemilihan langsung, maka dibutuhkan usaha ekstra dari para caleg. Ditambah lagi dengan diputuskannya bahwa penghitungan didasarkan suara terbanyak oleh Mahkamah Konstitusi.1 Nomor urut dari partai tidak lagi menjadi prioritas. Kondisi ini menyebabkan para caleg harus bersaing agar lebih dikenal oleh para pemilihnya. Bahkan, mereka harus bersaing dengan rekan satu partai untuk mendapatkan suara dari anggota atau simpatisan partai.

Salah satu cara yang paling ampuh, adalah beriklan. Setidaknya itu menurut para ahli komunikasi yang disewa khusus untuk menaikkan pamor dari para caleg. Cara ini memberikan kesempatan mereka yang tidak dikenal oleh para pemilih mengenal wajah mereka. Cukup dibumbui dengan sedikit jargon dan janji kecap no. 1  sudah cukup. Tinggal memasangnya diberbagai sudut jalan, TV, media cetak sampai kemasan air minum.

Idealnya, para caleg adalah orang yang memiliki kedekatan dengan persoalan di tengah masyarakat. Mereka telah terbukti berkontribusi pada perbaikan atau perjuangan yang dilakukan oleh masyarakat. Mereka kemudian muncul sebagai tokoh atau representative dari masyarakat yang memiliki kepentingan untuk perbaikan kelompok tersebut. Seharusnya, para caleg tumbuh di tengah masyarakat. Kondisi ini akan membuat para caleg tentunya dengan mudah dikenali oleh masyarakat.

Persoalannya, yang terjadi sekarang sangat jauh berbeda dari sesuatu yang ideal. Mereka yang menjadi caleg terkadang orang yang berasal dari antah berantah, tidak jelas juntrungannya! Tiba-tiba saja mereka hadir menjadi calon dari partai tertentu. Di sinilah letak persoalannya! Tanpa ukuran yang jelas, partai kemudian merekrut caleg untuk bersaing di pemilu 2009. Beberapa diantaranya bahkan berasal dari kalangan selebritis dan tokoh masyarakat yang tentu saja dipertanyakan kredibilitasnya pada persoalan masyarakat. Jangan ditanya soal rekam jejak mereka, beberapa diantaranya jauh dari bersih. Bahkan masuk dalam kategori politisi busuk

Mereka butuh jalan pintas untuk dikenal masyarakat. Walhasil, para caleg akhirnya harus mengikuti nasehat para ahli komunikasi, berilklan! Tentu saja, biaya yang dibutuhkan tidak sedikit. Bayangkan jika anda menjadi mereka, berapa banyak biaya yang dibutuhkan untuk menayangkan wajah anda di TV pada masa prime time? Berapa banyak yang anda butuhkan untuk mencetak poster? Pastinya butuh modal besar untuk itu.

Seakan tidak peduli dengan estetika, yang penting wajahnya muncul dengan harapan diingat oleh para calon pemilih. Desain menjadi urusan kesekian, yang penting nampang. Secara serampangan mereka menaruh poster mereka diberbagai sudut jalan. Alhasil jalan menjadi penuh dengan wajah ‘jelek’ yang mengganggu para pengguna jalan.

So, hati-hati…! Jangan lupa untuk tidak terpengaruh oleh wajah-wajah itu. Anda punya pilihan, gunakan dengan sebaik-baiknya…

Catatan kaki
  1. sebelumnya UU Pemilu No 10 tahun 2008 pasal 214 menetapkan bahwa penghitungan dilakukan berdasarkan nomor urut []