Kamar

Tempat bersantai, nyaman untuk refleksi keseharian

Tik-Tok (2)

0

Benarkah kita adalah makhluk? Jangan-jangan itu hanya anggapan kita… Apakah interaksi harus selalu sesuai dengan norma? Padahal norma itu tak jelas ujung pangkalnya

Apa itu prinsip? Bukankah itu hanya larik kata Tanpa makna, kata hanyalah kata Dia akan lekang oleh waktu

Mungkin aku terikat sebagai elemen alam Saat aku hilang maka susunan alam berubah

Apakah itu yang namanya terikat? Toh alam dapat menyesuaikan dirinya

Begitu juga manusia Hilang dan pergi, sama saja…

Jakarta, 8 Februari 2008

Tik-Tok (1)

0

Andai saja aku bisa menjadi orang itu Bebas, tanpa beban Merdeka, tanpa kesal

Andai saja aku bisa di cap sakit jiwa Mungkin aku akan tertawa senang Aku tak lagi dipusingkan dengan persoalan Semua akan memandangku gila Padahal justru mereka lah yang gila

Aku hanya membebaskan diri dari pasungan Badan yang memasung jiwa Menghilangkan substansi diriku Mereka sebut itu gila

Apakah kau berpikir hal yang sama?

Jakarta, 8 Februari 2008

Mungkinkah seorang laki-laki menjadi seorang FEMINIS?

2

Dari awal keterlibatanku di organisasi yang bergerak di isu perempuan, ada pertanyaan mendasar yang selalu mengganggu. Mungkinkah seorang laki-laki menjadi seorang FEMINIS?

Teori feminis muncul dari ketidakadilan yang dialami oleh perempuan karena jenis kelaminnya. Berbagai penindasan dan ketidakadilan yang dialami oleh perempuan sejak dulu merupakan pengalaman yang sangat spesifik. tentu saja, pengalaman itu hanya dirasakan oleh perempuan karena penindasan yang mereka alami berbasis pada jenis kelamin. Selama ini, sistem sosial, budaya dan politik di berbagai belahan dunia dijalankan dengan sistem patriarki yang mengistimewakan laki-laki. Patriarki telah memberikan berbagai keuntungan kepadaku karena jenis kelamin.

Jika menjadi seorang laki-laki menjadi feminis, maka tentu saja dia harus keistemewaan yang selama ini dinikmatinya. Apakah aku akan dengan sukarela kehilangannya?

Keinginan adalah Sumber Penderitaan

0

Judul di atas adalah bait lagu dari Iwan Fals yang berjudul Seperti Matahari. Saat mendengar lagu ini, aku kemudian teringat beberapa fenomena yang terjadi di sekelilingku saat ini. Sepertinya, kalimat di atas sangat tepat untuk menggambarkan fenomena tersebut.

Adikku saat ini terbaring sakit karena dia tidak mampu mengontrol berbagai keinginannya sehingga tekanan di dalam dirinya memuncak. Akibatnya, fisiknya pun termakan oleh tekanan tersebut. Beberapa temanku kemudian mengambil jalan pintas dalam karirnya karena ingin mencapai karir yang lebih baik.

Baik adikku maupun teman tersebut nampaknya tidak sadar bahwa mereka belum bisa untuk sampai tahapan tersebut. Mungkinkah ini sifat dasar manusia? Aku rasa tidak juga. Aku yakin ada faktor lain di luar diri manusia yang mendorong munculnya keinginan tersebut. Apakah itu? Entahlah… mungkin kebahagian semua yang dikonstruksikan oleh kapitalisme? Mungkin juga eksistensi manusia untuk mendapatkan pengakuan dari sekelilingnya.

Kemanakah Substansi Bulan Ramadhan?

3

Hari raya Idul Fitri baru saja selesai dirayakan. Hampir seluruh umat muslim di dunia merayakannya sebagai hari kemenangan melawan hawa nafsu dan kembali kepada fitra sebagai manusia.

Persoalannya, dari tahun ke tahun perayaan hari kemenangan ini menjadi sangat ironis kurasakan. Aku pribadi merasakan adanya konsumtivisme akut yang melanda. Sekuat apapun aku berusaha menolak, tidak mungkin rasanya menolak arus besar yang ada. Membeli baju baru untuk saudara atau kerabat, membeli kebutuhan lauk pauk untuk lebaran, jatah “preman” untuk para keponakan dan lainnya. Salah satu biaya yang paling besar dikeluarkan oleh banyak orang adalah biaya untuk mudik. Dalam kondisi seperti ini siapa yang akan panen? Tentunya para pemodal…

Walaupun sudah ada mekanisme berbagi di bulan ramadhan seperti zakat, infaq dan sadaqah sepertinya tidak cukup menjawab persoalan yang dihadapi. Budaya konsumtivisme sudah menjadi persoalan akut sehingga menengah ke atas seperti lupa bahwa ada persoalan di bawah sementara yang dibawah terbawa arus utama dari More >

Go to Top