Coretan

Kata-kata yang muncul dari pikiran yang ingin merdeka

Tik-Tok (2)

0

Benarkah kita adalah makhluk? Jangan-jangan itu hanya anggapan kita… Apakah interaksi harus selalu sesuai dengan norma? Padahal norma itu tak jelas ujung pangkalnya

Apa itu prinsip? Bukankah itu hanya larik kata Tanpa makna, kata hanyalah kata Dia akan lekang oleh waktu

Mungkin aku terikat sebagai elemen alam Saat aku hilang maka susunan alam berubah

Apakah itu yang namanya terikat? Toh alam dapat menyesuaikan dirinya

Begitu juga manusia Hilang dan pergi, sama saja…

Jakarta, 8 Februari 2008

Tik-Tok (1)

0

Andai saja aku bisa menjadi orang itu Bebas, tanpa beban Merdeka, tanpa kesal

Andai saja aku bisa di cap sakit jiwa Mungkin aku akan tertawa senang Aku tak lagi dipusingkan dengan persoalan Semua akan memandangku gila Padahal justru mereka lah yang gila

Aku hanya membebaskan diri dari pasungan Badan yang memasung jiwa Menghilangkan substansi diriku Mereka sebut itu gila

Apakah kau berpikir hal yang sama?

Jakarta, 8 Februari 2008

Aku Adalah Setan!

4

Aku adalah pendosa! Tak pernah sekalipun kujalankan perintah mereka Tak kudengarkan ajaran kebencian yang mereka berikan Saat aku tanya mereka, itukah ajaran dari agama? Mereka bilang, aku adalah pendosa!

Aku adalah kafir! Saat aku menolak fatwa mereka yang konyol Saat aku bicara tentang kebebasan sebagai manusia Saat aku berpihak pada mereka yang ditindas oleh penguasa Saat aku mempunyai ideologi yang berseberangan dengan mereka Saat aku bertanya, apakah mereka punya hak untuk menindas manusia lainnya? Mereka bilang, aku adalah kafir!

Aku adalah pelacur! Saat bekerja menggunakan akal dan nuraniku Saat menulis tentang kebusukan mereka Saat duduk damai bersama dengan para kafir Saat aku bertanya, apakah mereka tidak pernah mencicipi karya dari para kafir? Mereka bilang, aku adalah pelacur!

Aku adalah setan! Saat mengajak orang lain untuk mempertanyakan keberadaan mereka Saat mempertanyakan tentang ketidakadilan Saat memberikan realita yang berbeda Saat aku bertanya, mengapa aku harus mengakui mereka Mereka bilang, aku adalah setan! More >

Pertanda…

2

Apakah ini pertanda? Mungkin! Tapi apa perlunya pertanda jika pikiran sudah tak mampu lagi bekerja? Bukankah sedari dulu merindukannya hingga membuat napas terengah-engah mengejar waktu? Mengapa sekarang bertanya tentang sebuah pertanda?

Lalu apakah itu? Mungkihkah itu lembah tak berdasar? Ataukah ibarat laut tak berdasar dengan palung terdalam? Mungkin juga benar kata sang sufi, tapi pentingkah itu? Bukankah semuanya hanya dalam cita-cita makhluk yang fana? Tepat!

Mengapa badan ini terasa membeku? Mungkin darah sudah terlalu kental? Badan ini sudah tak mengikuti rima pikiran yang semakin telanjang… Perlukah ku injeksikan dengan norma agar tak telanjang? Mengapa kemudian menjadi tak nyaman rasanya di badan dengan norma? Lalu bagaimana dengan dogma? Semuanya tak penting!

Lalu mengapa sekarang gelisah? Semuanya tak berakhir begitu saja bukan? Tentu saja! Tapi apakah semuanya sudah berarti? Apakah titik itu sudah mencerahkan? Atau titik itu sudah menjadi noda di tembok kehidupan?

Duduk, Diam dan Termenung

0

Duduk, terdiam dan merenung Mencoba menata semua indera di tubuh ini Tidak ada yang salah Semua berfungsi sesuai dengan tugasnya Ternyata pikiran ini yang tidak beres

Saat keinginan berseteru dengan rasa Gejolak itu terasa hingga pembuluh darah Memompa jantung hingga adrenalin tak terkendali Titik air hujan tak mampu membendungnya Proses tak terlupakan namun tak mampu mengurainya Duduk, diam dan termenung Mencoba mengurainya dengan rasa

Pandangan ini mencoba ke depan Terlalu banyak persimpangan yang perlu kulalui Sial, mana yang harus dilalui? Dua sisi sejajar Semuanya sama! Kosong!

Mengapa sang amuk datang? Bukankan itu pilihan? Menjaga realita tetap menjadi kebenaran Agar ruang tersebut tetap terisi! Agar ide tetap terjaga!

Lalu apa yang tersisa? Ternyata aku tetap pada di sini Duduk, diam dan termenung Masih ditemani hujan

Go to Top