Coretan

Kata-kata yang muncul dari pikiran yang ingin merdeka

Belajar dari Korban, membangun kekuatan …

1

Sahabat, Apa yang kau rasakan saat seorang ibu bertanya kepadamu, apakah kau mengetahui sebuah tragedi yang terjadi pada bulan Mei 6 tahun yang lalu? Kau mungkin akan menjawab dengan sederhana “Bukankah saat itu terjadi kerusuhan di Jakarta?” atau mungkin tidak tahu sama sekali tanpa ekspresi. Si ibu mungkin akan tersenyum walaupun kecut. Kau mungkin tak tahu, dia adalah salah seorang ibu dari korban Tragedi Mei 1998. Baginya, peristiwa itu tidak pernah akan mereka lupakan. Peristiwa tersebut telah menorehkan trauma yang mendalam. Walaupun penguasa berusaha menghapusnya, ingatan kolektif tersebut akan terus hidup. Ibu tersebut hanyalah sebagian kecil dari sekian banyak korban yang jatuh pada saat itu. Ibu tersebut mungkin tidak menyangka bahwa anaknya akan menjadi salah satu korban dalam sebuah kerusuhan massal yang terencana.

Sahabat, kalau kau masih mendengarkan, ibu tersebut hanyalah orang biasa seperti kita. Bukan satu hal mudah untuk seorang ibu yang harus kehilangan anaknya yang telah dia besarkan More >

Cerita kita

1

Sahabat, Tak usahlah kau membaca goresan ini Jika masih ada larik keraguan dalam benakmu Bacalah tarikan pena ini Jika larik itu telah menjadi kejujuran

Cerita… Kita pernah menulis sebuah cerita Aku menulis ceritaku sendiri Kau menulis ceritamu sendiri

Cerita itu ditoreh di atas cermin Entah siapa yang menulisnya Mungkin sudah takdir Itu kata orang-orang bijak

Ada masa, ceritaku dan ceritamu harus lekang Walau cerita itu tetap bergeming dalam masa Kau coba hapus cerita itu dengan masa Ku coba hapus cerita itu dengan rasa

Cermin itu bergemuruh hebat Saat masa memaksanya untuk lekang Cermin itu menjadi kepingan Tajam, setajam masa yang memaksanya

Denting roda masa tiada jenuh Kepingan cermin telah menusuk Menusuk jauh dalam raga Menembus hati, perlahan penuh luka

Terantuk pada sebuah logika Kepingan cermin tidak dapat menjadi cermin kembali Dia tetap menjadi kepingan cermin Walau cerita itu tetap tertulis diatasnya

Dari titik nol kita memulai Hingga titik dimana kita More >

Ironi Seorang Copet

1

Orang itu terkapar tak berdaya….. Darahnya mengalir seperti sungai Debu jalan menutupi lebam mukanya Orang-orang memandangnya dengan amarah.

Orang itu menoleh kepadaku… Kelopak matanya seakan-akan berkata “Tolong aku…..aku sekarat” sumpah serapah untuknya.

Kudekati orang itu…….. Dia berbisik 2 patah kata Aku kaget, terhenyak, dan menangis. Napas terakhirnya dihembuskan………… “Anakku sakit…………” Syaldi,15 Februari 2000, pagi hari di Sta. Pasar Minggu

Selamat sore perempuan

1

Selamat sore perempuan…!! kuharap matahari tak menyakitimu Matahari telah beranjak dari singgasananya Giliran sang dewi malam menyergap dunia ini…

Aku harap kau tak membaca larikan ini dengan air mata Kuharap kau tak menyimpan semburat biru di wajah lebam memerah di kulit tipis pembungkus tubuhmu

Atas nama kaumku, aku minta maaf kepadamu, perempuan… Telah banyak derita, siksa, air mata dan noda yang kaumku tumpahkan kepadamu Maafkan kami yang telah memandangmu sebagai seonggok daging tanpa jiwa Kami anggap, jiwamu telah kami beli dengan kuasa kami sebagai lelaki.

Teringatku pada sekat-sekat masa kecil… Kau, perempuanku kukenal sebagai tubuh dengan buah dada dan vagina.. bukan sebagai manusia dengan lekuk tubuh yang indah lengkap dengan jiwa… Sedari dunia terbentuk, kau telah menjadi sumber cacian kaumku

Tatkala bulan mulai menampakkan bidangnya yang tidak sempurna Aku masih termenung, tercerabut dari titik kesadaran seorang lelaki Ku kenal dirimu dari sosok ibu, perempuan yang mengasihi buah hatinya Sosok yang More >

Ada Yang Hilang

1

Ada yang hilang dariku malam ini Rasa sepi dan rindu menyergapku seketika Kegamangan akal dan rasio tidak terelekkan Potongan masa lalu pun berbaris

Aku merindukan diriku yang bodoh Aku yang melihat dunia dengan polos tanpa curiga Bernyanyi riuh rendah dengan nada sumbang Tak peduli…

Kapan aku bisa kembali pada alamku? Kelip kunang-kunang yang bersenda gurau dengan gelap Paduan suara jangkrik tak henti menentang sunyi Riam sungai yang tiada lelah menghantam batu

Raut wajah tua penuh kasih masih tertanam Tak mungkin aku lepas kenangan dengan mereka Mereka selalu mengajarkanku menjadi manusia Mereka selalu mendidikku dengan nurani

Sekelebat wajah, muncul dengan cinta Perhatiannya yang menggelitik namun di rindu Bilur pengorbanannya tak dapat kutulis Sayang, tanganku melepasnya dengan cinta

Larik kata tak mungkin terhenti Goresan pena tak lekang oleh waktu Jika itu benar… Tak heran, sinkronisasi jari dan akal Memaksaku untuk tidak berhenti

Lalu apa yang ku cari dalam sepi ini? Entah, mungkin More >

Go to Top