Coretan

Kata-kata yang muncul dari pikiran yang ingin merdeka

Ada Uang, Ada Adil

1

Stop…. Berhenti….!!! Sudah cukup… jangan kau lanjutkan..!!! Sudahlah omong kosongmu tentang keadilan Adil, keadilan, peradilan, pengadilan Apa itu…? Cita-cita? BOHONG…!!!

Sudah cukuplah kita mimpi Jangan buat adil itu terwujud Nanti hakim-hakim tidak punya mimpi Mahasiswa hukum harus berhenti kuliah

Apa itu adil…? Katakan…!!! Cepat katakan…!!! Keadilan bagi semua orang?! Hari gini masih bicara adil?! Ya… sudah…!!!

Hei, tangkap maling itu…. Dasar sundal….!!! Ayam orang di gondol… Setan kamu… bakar…!!! Biar tahu rasa dia!!

Jangan…!!! Jangan…!!! Aku cuma ambil ayam Aku cuma maling ayam Kenapa bukan koruptor yang dibakar? Kenapa harus saya…..

Diam…. Pokoknya kamu diam….!!! Setan… dasar maling…!!! Banyak omong kamu…!!! Ini namanya keadilan… Koruptor jangan dibakar…! Itu tidak manusiawi Lagipula, masih ada kesempatan Lumayan, kecipratan dikit Kecipratan itu wajib hukumnya…..

Sekarang uang bos….uang…! Uang memang tidak punya mulut Tapi uang selalu bicara Ada uang, ada adil Tak ada uang, ta’ adili sampeyan

Syaldi, 31 Agustus 2006 – 03:45

Apiku

0

Seperti api yang menjalari seluruh urat darahku Ingin ku mendapatkan ambisi di dunia. Melibas semua halangan di hadapanku Tak peduli dengan apa yang akanku hancurkan

Melintasi ruang waktu coba mencari lagi Sesuatu yang telah terbuang dan terlupakan Kutatap masa depan dengan nurani serigala Kan kutundukkan semuanya di bawah telapak kakiku

Mataku mememerah saat angin kedamaian menerpa Telingaku pekak mendengar lagu cinta Yang kutahu adalah kekuasaan, kuasa, kuasaaa…….. Aku tak perduli yang lainnya

Nuraniku telah menghitam Seiring sang roda waktu yang terus berputar Aku yang akan mengendalikan waktu Dunia akan berada di genggamanku

Syaldi, 20 Januari 2000, 00:00

Tak Berjudul

0

Seorang anak manusia di kelam malam Memandang kosong malam yang berlalu Terselip sepucuk masalah dalam benaknya Masalah yang telah membatu bagai karang

Tiba-tiba dia tertawa penuh arti Dia berlari dengan napas memburu Berusaha melewati sebuah pintu masa Masa dimana dia kecil

Dia berhenti “Oh..betapa bodohnya aku” umpatnya Dia berdiri dengan sombong Menantang kembalinya malam dingin yang kelam Tamparan angin malam mulai mengodanya

Betapa berdosanya aku ini”gumamnya Dia duduk dan mulai tersadar Selama ini dia telah bersandar di sisi dunia yang gelap Tempat dia bermain dengan setan-setan nafsu

“Oh. Tuhan dimanakah cahaya-Mu” Berilah setetes embun penyejuk Di hati yang penuh dengan keserakahan Di jiwa yang penuh ambisi yang hitam”

Langit hitam menumpahkan air kehidupan Tersentak dan tersadar dia Didepannya masih ada pintu pintu tobat dari-Nya

Syaldi, 09 Desember 1999 11:49

Sepi…

0

Aku benci berada dalam sepi malam ini Sendiri, dalam kamar hotel yang seolah mati Tidak ada teman selain tembakau yang mematikan Muak aku melihat “kotak sampah” di depanku Memaksa mataku untuk melihat kuku kapilatis Mencengkram otakku dengan pelan tapi pasti

Otakku yang liar semakin liar dalam sepi Mendorongku untuk berpikir, terus berpikir dan berpikir Jariku yang pegal dengan terpaksa harus menekan keyboard Tak mampu kutahan “onani” di kepala…

Aku masih dalam dikurung sepi Belum kutemukan titik cerah dalam benakku Masih terus kupandangi layar notebook Penuh dengan abdjad yang makin tidak beraturan Penuh dengan kata dan keluh kesah Penuh dengan kenyataan dan kebohongan Mungkinkah ini yang akan kita rasakan?

Saat kita merindukan seseorang yang kita kasihi Saat kita kehilangan seseorang yang kita cintai Atau mungkin saat jiwa kita sudah terbebas dari raga Aku tak tahan

Muak dengan sepi yang menggeluti diriku Perut yang keroncongan terus menyatakan keberatan Tapi aku masih tertawan More >

Belum waktunya anakku……

0

Belum waktunya anakku…….. Untuk kau mengenal dunia ini Kau seperti pucuk daun di dahan itu Dunia tak seindah sinetron di TV

Belum waktunya anakku…….. Kau melihat ke atas sana Di sana bukan kita Terlalu banyak orang dan intrik kotor

Belum waktunya anakku…….. Turunkan mukamu…… jangan kau tatap dia Jangan kau lawan tirani itu Dia masih seperti sebuah karang

Belum waktunya anakku…….. Kau bercita-cita ke depan Mimpimu masih banyak yang terlewatkan Resapi dulu mimpi-mimpi itu

Belum waktunya anakku…….. Jangan silau dengan harta duniawi Itu bumerang maut untuk kita Itu membuat lupa siapa kita

Belum waktunya anakku…….. Berteriak lantang tentang kemanusiaan Kau belum sempurna seorang manusia Manusia sendiri kadang tak tahu dia adalah manusia

Sudahlah……sekarang …… Cuci kakimu, cuci tanganmu, lanjutkan dulu tidurmu Ibu disampingmu…masamu akan datang Simpanlah semangatmu itu Belum waktunya anakku……..

Syaldi, 24 April 2000

Go to Top