Pertanyaan hari ini

Pertanyaan yang muncul di dalam kamarku

Mungkinkah seorang laki-laki menjadi seorang FEMINIS?

2

Dari awal keterlibatanku di organisasi yang bergerak di isu perempuan, ada pertanyaan mendasar yang selalu mengganggu. Mungkinkah seorang laki-laki menjadi seorang FEMINIS?

Teori feminis muncul dari ketidakadilan yang dialami oleh perempuan karena jenis kelaminnya. Berbagai penindasan dan ketidakadilan yang dialami oleh perempuan sejak dulu merupakan pengalaman yang sangat spesifik. tentu saja, pengalaman itu hanya dirasakan oleh perempuan karena penindasan yang mereka alami berbasis pada jenis kelamin. Selama ini, sistem sosial, budaya dan politik di berbagai belahan dunia dijalankan dengan sistem patriarki yang mengistimewakan laki-laki. Patriarki telah memberikan berbagai keuntungan kepadaku karena jenis kelamin.

Jika menjadi seorang laki-laki menjadi feminis, maka tentu saja dia harus keistemewaan yang selama ini dinikmatinya. Apakah aku akan dengan sukarela kehilangannya?

Keinginan adalah Sumber Penderitaan

0

Judul di atas adalah bait lagu dari Iwan Fals yang berjudul Seperti Matahari. Saat mendengar lagu ini, aku kemudian teringat beberapa fenomena yang terjadi di sekelilingku saat ini. Sepertinya, kalimat di atas sangat tepat untuk menggambarkan fenomena tersebut.

Adikku saat ini terbaring sakit karena dia tidak mampu mengontrol berbagai keinginannya sehingga tekanan di dalam dirinya memuncak. Akibatnya, fisiknya pun termakan oleh tekanan tersebut. Beberapa temanku kemudian mengambil jalan pintas dalam karirnya karena ingin mencapai karir yang lebih baik.

Baik adikku maupun teman tersebut nampaknya tidak sadar bahwa mereka belum bisa untuk sampai tahapan tersebut. Mungkinkah ini sifat dasar manusia? Aku rasa tidak juga. Aku yakin ada faktor lain di luar diri manusia yang mendorong munculnya keinginan tersebut. Apakah itu? Entahlah… mungkin kebahagian semua yang dikonstruksikan oleh kapitalisme? Mungkin juga eksistensi manusia untuk mendapatkan pengakuan dari sekelilingnya.

Kemanakah Substansi Bulan Ramadhan?

3

Hari raya Idul Fitri baru saja selesai dirayakan. Hampir seluruh umat muslim di dunia merayakannya sebagai hari kemenangan melawan hawa nafsu dan kembali kepada fitra sebagai manusia.

Persoalannya, dari tahun ke tahun perayaan hari kemenangan ini menjadi sangat ironis kurasakan. Aku pribadi merasakan adanya konsumtivisme akut yang melanda. Sekuat apapun aku berusaha menolak, tidak mungkin rasanya menolak arus besar yang ada. Membeli baju baru untuk saudara atau kerabat, membeli kebutuhan lauk pauk untuk lebaran, jatah “preman” untuk para keponakan dan lainnya. Salah satu biaya yang paling besar dikeluarkan oleh banyak orang adalah biaya untuk mudik. Dalam kondisi seperti ini siapa yang akan panen? Tentunya para pemodal…

Walaupun sudah ada mekanisme berbagi di bulan ramadhan seperti zakat, infaq dan sadaqah sepertinya tidak cukup menjawab persoalan yang dihadapi. Budaya konsumtivisme sudah menjadi persoalan akut sehingga menengah ke atas seperti lupa bahwa ada persoalan di bawah sementara yang dibawah terbawa arus utama dari More >

Shocking With BLT!

0

Saat ini, aku sedang membaca buku Naomi Klein yang berjudul “Shock Doctrine”. Sebuah buku yang dapat membuat pembacanya menjadi shock dan memahami bagaimana hubungan kapitalisme dan kekuasaan!

Saat membaca sebuah bagian, aku jadi teringat pada masalah Bantuan Langsung Tunai alias BLT yang sampai saat ini menjadi masalah. Menurut JK, BLT merupakan program insentif pemerintah kepada warga miskin yang terkena dampak dari kenaikan harga Bahan Bakar Minyak. Dari awal sampai akhir, orang lebih banyak memperdebatkan tentang manfaat dan tidak tepatnya bantuan tersebut. Ditambah, baru terungkap bahwa dana BLT diambil dari dana hutang luar negeri yang selalu dibantah oleh pemerintah.

Pertanyaanku sangat sederhana, ide menjalankan BLT itu dari mana? Siapakah yang menjadi penggagasnya? Tidak mungkin ide tersebut muncul begitu saja di kepala para pemimpin kita. Pasti ada yang memberikan masukan. Siapakah mereka? Apakah gerembolan pendukung neoliberal atau para penasihat keuangan dari IMF?

Budaya Pelupaan…

0

Aku tersentak oleh pertanyaan seorang sahabat dalam sebuah ‘perjamuan’ di sebuah tempat. Pertanyaannya sederhana “tak, apa yang sebenarnya terjadi pas Tragedi Mei ’98?” Seharusnya aku tidak terlalu kaget karena tahun ini, sudah 11 tahun peristiwa tersebut telah berlalu. Lagi pula, cukup lama aku bersama dengan keluarga korban melakukan advokasi dan kampanye sehingga cukup paham dengan persoalan tersebut.

Aku kemudian berusaha menata kembali memori dan memanggil ingataanku tentang peristiwa tersebut. Aku bertanya-tanya pada diriku, mengapa sampai sebuah pelajaran hidup dapat dengan mudah terlupakan? Apakah ini yang dinamakan dengan budaya pelupaan? Apakah karena arus informasi bak air bah membuat kita terlena di dalamnya? Atau karena penyangkalan yang dilakukan oleh Negara?

Go to Top