<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>House of Question &#187; Pertanyaan hari ini</title>
	<atom:link href="http://syaldi.web.id/category/kamar/pertanyaan-hari-ini/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://syaldi.web.id</link>
	<description>Bertanyalah, jangan pernah berhenti bertanya.</description>
	<lastBuildDate>Thu, 22 Dec 2011 12:51:20 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
		<item>
		<title>Mungkinkah seorang laki-laki menjadi seorang FEMINIS?</title>
		<link>http://syaldi.web.id/2011/02/mungkinkah-seorang-laki-laki-menjadi-seorang-feminis/</link>
		<comments>http://syaldi.web.id/2011/02/mungkinkah-seorang-laki-laki-menjadi-seorang-feminis/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 01 Feb 2011 03:27:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Syaldi Sahude</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pertanyaan hari ini]]></category>
		<category><![CDATA[feminis]]></category>
		<category><![CDATA[patriarki]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://syaldi.web.id/?p=1078</guid>
		<description><![CDATA[Dari awal keterlibatanku di organisasi yang bergerak di isu perempuan, ada pertanyaan mendasar yang selalu mengganggu. Mungkinkah seorang laki-laki menjadi seorang FEMINIS? Teori feminis muncul dari ketidakadilan yang dialami oleh perempuan karena jenis kelaminnya. Berbagai penindasan dan ketidakadilan yang dialami oleh perempuan sejak dulu merupakan pengalaman yang sangat spesifik. tentu saja, pengalaman itu hanya dirasakan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dari awal keterlibatanku di organisasi yang bergerak di isu perempuan, ada pertanyaan mendasar yang selalu mengganggu. Mungkinkah seorang laki-laki menjadi seorang FEMINIS?</p>
<p>Teori feminis muncul dari ketidakadilan yang dialami oleh perempuan karena jenis kelaminnya. Berbagai penindasan dan ketidakadilan yang dialami oleh perempuan sejak dulu merupakan pengalaman yang sangat spesifik. tentu saja, pengalaman itu hanya dirasakan oleh perempuan karena penindasan yang mereka alami berbasis pada jenis kelamin. Selama ini, sistem sosial, budaya dan politik di berbagai belahan dunia dijalankan dengan sistem patriarki yang mengistimewakan laki-laki. Patriarki telah memberikan berbagai keuntungan kepadaku karena jenis kelamin.</p>
<p>Jika menjadi seorang laki-laki menjadi feminis, maka tentu saja dia harus keistemewaan yang selama ini dinikmatinya. Apakah aku akan dengan sukarela kehilangannya?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://syaldi.web.id/2011/02/mungkinkah-seorang-laki-laki-menjadi-seorang-feminis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Keinginan adalah Sumber Penderitaan</title>
		<link>http://syaldi.web.id/2009/10/keinginan-adalah-sumber-penderitaan/</link>
		<comments>http://syaldi.web.id/2009/10/keinginan-adalah-sumber-penderitaan/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 10 Oct 2009 00:30:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Syaldi Sahude</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pertanyaan hari ini]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://syaldi.web.id/?p=951</guid>
		<description><![CDATA[Judul di atas adalah bait lagu dari Iwan Fals yang berjudul Seperti Matahari. Saat mendengar lagu ini, aku kemudian teringat beberapa fenomena yang terjadi di sekelilingku saat ini. Sepertinya, kalimat di atas sangat tepat untuk menggambarkan fenomena tersebut. Adikku saat ini terbaring sakit karena dia tidak mampu mengontrol berbagai keinginannya sehingga tekanan di dalam dirinya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Judul di atas adalah bait lagu dari Iwan Fals yang berjudul Seperti Matahari. Saat mendengar lagu ini, aku kemudian teringat beberapa fenomena yang terjadi di sekelilingku saat ini. Sepertinya, kalimat di atas sangat tepat untuk menggambarkan fenomena tersebut.</p>
<p>Adikku saat ini terbaring sakit karena dia tidak mampu mengontrol berbagai keinginannya sehingga tekanan di dalam dirinya memuncak. Akibatnya, fisiknya pun termakan oleh tekanan tersebut. Beberapa temanku kemudian mengambil jalan pintas dalam karirnya karena ingin mencapai karir yang lebih baik.</p>
<p>Baik adikku maupun teman tersebut nampaknya tidak sadar bahwa mereka belum bisa untuk sampai tahapan tersebut. Mungkinkah ini sifat dasar manusia? Aku rasa tidak juga. Aku yakin ada faktor lain di luar diri manusia yang mendorong munculnya keinginan tersebut. Apakah itu? Entahlah&#8230; mungkin kebahagian semua yang dikonstruksikan oleh kapitalisme? Mungkin juga eksistensi manusia untuk mendapatkan pengakuan dari sekelilingnya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://syaldi.web.id/2009/10/keinginan-adalah-sumber-penderitaan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kemanakah Substansi Bulan Ramadhan?</title>
		<link>http://syaldi.web.id/2009/09/kemanakah-substansi-bulan-ramadhan/</link>
		<comments>http://syaldi.web.id/2009/09/kemanakah-substansi-bulan-ramadhan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 21 Sep 2009 11:08:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Syaldi Sahude</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pertanyaan hari ini]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://syaldi.web.id/?p=1000</guid>
		<description><![CDATA[Hari raya Idul Fitri baru saja selesai dirayakan. Hampir seluruh umat muslim di dunia merayakannya sebagai hari kemenangan melawan hawa nafsu dan kembali kepada fitra sebagai manusia. Persoalannya, dari tahun ke tahun perayaan hari kemenangan ini menjadi sangat ironis kurasakan. Aku pribadi merasakan adanya konsumtivisme akut yang melanda. Sekuat apapun aku berusaha menolak, tidak mungkin [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Hari raya Idul Fitri baru saja selesai dirayakan. Hampir seluruh umat muslim di dunia merayakannya sebagai hari kemenangan melawan hawa nafsu dan kembali kepada fitra sebagai manusia.</p>
<p>Persoalannya, dari tahun ke tahun perayaan hari kemenangan ini menjadi sangat ironis kurasakan. Aku pribadi merasakan adanya konsumtivisme akut yang melanda. Sekuat apapun aku berusaha menolak, tidak mungkin rasanya menolak arus besar yang ada. Membeli baju baru untuk saudara atau kerabat, membeli kebutuhan lauk pauk untuk lebaran, jatah &#8220;preman&#8221; untuk para keponakan dan lainnya. Salah satu biaya yang paling besar dikeluarkan oleh banyak orang adalah biaya untuk mudik. Dalam kondisi seperti ini siapa yang akan panen? Tentunya para pemodal&#8230;</p>
<p>Walaupun sudah ada mekanisme berbagi di bulan ramadhan seperti zakat, infaq dan sadaqah sepertinya tidak cukup menjawab persoalan yang dihadapi. Budaya konsumtivisme sudah menjadi persoalan akut sehingga menengah ke atas seperti lupa bahwa ada persoalan di bawah sementara yang dibawah terbawa arus utama dari para pencipta trend.</p>
<p>Lalu dimanakan substansi dari bulan Ramadhan sebagai bulan untuk melawan hawa nafsu kalau tidak dapat menahan godaan untuk berbelanja pakaian baru? Dimana substansi manusia untuk kembali kepada fitranya jika hanya dinilai dari seberapa banyak uang yang dihabiskan?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://syaldi.web.id/2009/09/kemanakah-substansi-bulan-ramadhan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Shocking With BLT!</title>
		<link>http://syaldi.web.id/2009/07/shocking-with-blt/</link>
		<comments>http://syaldi.web.id/2009/07/shocking-with-blt/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 04 Jul 2009 09:07:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Syaldi Sahude</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pertanyaan hari ini]]></category>
		<category><![CDATA[BLT]]></category>
		<category><![CDATA[shock doctrine]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://syaldi.web.id/?p=968</guid>
		<description><![CDATA[Saat ini, aku sedang membaca buku Naomi Klein yang berjudul &#8220;Shock Doctrine&#8221;. Sebuah buku yang dapat membuat pembacanya menjadi shock dan memahami bagaimana hubungan kapitalisme dan kekuasaan! Saat membaca sebuah bagian, aku jadi teringat pada masalah Bantuan Langsung Tunai alias BLT yang sampai saat ini menjadi masalah. Menurut JK, BLT merupakan program insentif pemerintah kepada [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Saat ini, aku sedang membaca buku Naomi Klein yang berjudul &#8220;Shock Doctrine&#8221;. Sebuah buku yang dapat membuat pembacanya menjadi shock dan memahami bagaimana hubungan kapitalisme dan kekuasaan!</p>
<p>Saat membaca sebuah bagian, aku jadi teringat pada masalah Bantuan Langsung Tunai alias BLT yang sampai saat ini menjadi masalah. Menurut JK, BLT merupakan program insentif pemerintah kepada warga miskin yang terkena dampak dari kenaikan harga Bahan Bakar Minyak. Dari awal sampai akhir, orang lebih banyak memperdebatkan tentang manfaat dan tidak tepatnya bantuan tersebut. Ditambah, baru terungkap bahwa dana BLT diambil dari dana hutang luar negeri yang selalu dibantah oleh pemerintah.</p>
<p>Pertanyaanku sangat sederhana, ide menjalankan BLT itu dari mana? Siapakah yang menjadi penggagasnya? Tidak mungkin ide tersebut muncul begitu saja di kepala para pemimpin kita. Pasti ada yang memberikan masukan. Siapakah mereka? Apakah gerembolan pendukung neoliberal atau para penasihat keuangan dari IMF?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://syaldi.web.id/2009/07/shocking-with-blt/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Budaya Pelupaan&#8230;</title>
		<link>http://syaldi.web.id/2009/05/budaya-pelupaan/</link>
		<comments>http://syaldi.web.id/2009/05/budaya-pelupaan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 14 May 2009 12:28:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Syaldi Sahude</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pertanyaan hari ini]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://syaldi.web.id/?p=917</guid>
		<description><![CDATA[Aku tersentak oleh pertanyaan seorang sahabat dalam sebuah &#8216;perjamuan&#8217; di sebuah tempat. Pertanyaannya sederhana &#8220;tak, apa yang sebenarnya terjadi pas Tragedi Mei &#8217;98?&#8221; Seharusnya aku tidak terlalu kaget karena tahun ini, sudah 11 tahun peristiwa tersebut telah berlalu. Lagi pula, cukup lama aku bersama dengan keluarga korban melakukan advokasi dan kampanye sehingga cukup paham dengan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Aku tersentak oleh pertanyaan seorang sahabat dalam sebuah &#8216;perjamuan&#8217; di sebuah tempat. Pertanyaannya sederhana &#8220;tak, apa yang sebenarnya terjadi pas Tragedi Mei &#8217;98?&#8221; Seharusnya aku tidak terlalu kaget karena tahun ini, sudah 11 tahun peristiwa tersebut telah berlalu. Lagi pula, cukup lama aku bersama dengan keluarga korban melakukan advokasi dan kampanye sehingga cukup paham dengan persoalan tersebut.</p>
<p>Aku kemudian berusaha menata kembali memori dan memanggil ingataanku tentang peristiwa tersebut. Aku bertanya-tanya pada diriku, mengapa sampai sebuah pelajaran hidup dapat dengan mudah terlupakan? Apakah ini yang dinamakan dengan budaya pelupaan? Apakah karena arus informasi bak air bah membuat kita terlena di dalamnya? Atau karena penyangkalan yang dilakukan oleh Negara?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://syaldi.web.id/2009/05/budaya-pelupaan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pembajak vs Plagiat</title>
		<link>http://syaldi.web.id/2009/05/pembajak-vs-plagiat/</link>
		<comments>http://syaldi.web.id/2009/05/pembajak-vs-plagiat/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 07 May 2009 18:46:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Syaldi Sahude</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pertanyaan hari ini]]></category>
		<category><![CDATA[pembajak]]></category>
		<category><![CDATA[plagiat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://syaldi.web.id/?p=911</guid>
		<description><![CDATA[Dalam sebuah diskusi, seorang teman bertanya &#8220;apa perbedaan antara pembajak dan plagiat?&#8221; Pertanyaan ini seperti sangat mudah dijawab oleh siapapun. Sebenarnya, pertanyaan ini sudah sering disampaikan oleh temanku namun selalu saja mendapatkan jawabana atau respon yang salah. Menurutnya, selama ini pola pikir kita sudah dibentuk oleh berbagai hal sehingga sering salah kita artikan. Kita melihat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dalam sebuah diskusi, seorang teman bertanya &#8220;apa perbedaan antara pembajak dan plagiat?&#8221; Pertanyaan ini seperti sangat mudah dijawab oleh siapapun.</p>
<p>Sebenarnya, pertanyaan ini sudah sering disampaikan oleh temanku namun selalu saja mendapatkan jawabana atau respon yang salah. Menurutnya, selama ini pola pikir kita sudah dibentuk oleh berbagai hal sehingga sering salah kita artikan. Kita melihat keduanya hal yang sama. Persoalannya, apakah benar itu hal yang sama?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://syaldi.web.id/2009/05/pembajak-vs-plagiat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Akal Sehat versus Rasa</title>
		<link>http://syaldi.web.id/2009/05/akal-sehat-versus-rasa/</link>
		<comments>http://syaldi.web.id/2009/05/akal-sehat-versus-rasa/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 30 Apr 2009 23:47:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Syaldi Sahude</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pertanyaan hari ini]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://syaldi.web.id/?p=892</guid>
		<description><![CDATA[Tadi malam aku kehilangan akal sehat. Sepertinya kemalangan hari ini sangat akrab dengan sehingga tak ingin lepas dariku. Beberapa persoalan pribadi ditambah dengan segelintir persoalan teknis penunjang kegiatanku sehari-hari merupakan sekelumit persoalan. Malam itu juga, aku harus menguji proses internalisasi akal sehat dan rasa. Proses perjalanan sekian tahun kemudian memaksa untuk kembali melihat ke belakang. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tadi malam aku kehilangan akal sehat. Sepertinya kemalangan hari ini sangat akrab dengan sehingga tak ingin lepas dariku. Beberapa persoalan pribadi ditambah dengan segelintir persoalan teknis penunjang kegiatanku sehari-hari merupakan sekelumit persoalan.</p>
<p>Malam itu juga, aku harus menguji proses internalisasi akal sehat dan rasa. Proses perjalanan sekian tahun kemudian memaksa untuk kembali melihat ke belakang. Dikepalaku bertanya, mengapa akal sehat dan rasa seolah menjadi kontradiksi dalam hidup? Padahal, akal sehat dan rasa merupakan kombinasi kebijaksanaan. Sangat sulit mengolah kedua komponen jiwa ini dengan baik.</p>
<p>Lalu mengapa ini bisa terjadi? Mengapa rasa kerapkali menguasai manusia? Rasa untuk memiliki terkadang mengindahkan hal lainnya? Akan tetapi, apakah itu salah?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://syaldi.web.id/2009/05/akal-sehat-versus-rasa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Eksistensi Individu Menjadi Megalomania</title>
		<link>http://syaldi.web.id/2009/04/eksistensi-individu-menjadi-megalomania/</link>
		<comments>http://syaldi.web.id/2009/04/eksistensi-individu-menjadi-megalomania/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 28 Apr 2009 03:05:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Syaldi Sahude</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pertanyaan hari ini]]></category>
		<category><![CDATA[Eksistensi]]></category>
		<category><![CDATA[megalomania]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://syaldi.web.id/?p=865</guid>
		<description><![CDATA[Seseorang akan menjadi lengkap sebagai manusia saat eksistensinya diakui oleh manusia lainnya. Oleh karena itu, eksistensi menjadi sangat penting untuk banyak orang. Setidaknya itulah yang dipahami oleh para pemikir eksistensialis seperti Kierkegaard dan Nietzche pada abad ke-19 dan 20. Namun, persoalan eksistensi juga yang mengusikku beberapa minggu belakangan ini. Meyaksikan mereka yang ingin diakui &#8216;kehadirannya&#8217; [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Seseorang akan menjadi lengkap sebagai manusia saat eksistensinya diakui oleh manusia lainnya. Oleh karena itu, eksistensi menjadi sangat penting untuk banyak orang. Setidaknya itulah yang dipahami oleh para pemikir eksistensialis seperti Kierkegaard dan Nietzche pada abad ke-19 dan 20.</p>
<p>Namun, persoalan eksistensi juga yang mengusikku beberapa minggu belakangan ini. Meyaksikan mereka yang ingin diakui &#8216;kehadirannya&#8217; dengan mengecilkan arti orang lain menjadi sangat memuakkan. Seolah, hanya dia yang &#8216;paling&#8217; sehingga yang lain tidak menjadi penting. Orang lain menjadi komponen tambahan dalam kehidupan untuk melengkapi dirinya. Semua pikiran dan kerja keras orang lain kemudian diklaim menjadi karyanya. Dia kemudian menjadi megalomania yang mengerikan! Perlukah menjadi megalomania demi pengakuan dirimu?</p>
<p>Jika memang dirinya mengaku sebagai aktifis kemanusiaan, bisakah dia mulai menghargai manusia lain sebelum bicara tentang kemanusiaan? Bisakah lebih merendah dihadapan orang lain untuk menutupi kebodohannya? Mengapa dia tak sadar bahwa titik terendah seorang manusia adalah memaksakan eksistensinya?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://syaldi.web.id/2009/04/eksistensi-individu-menjadi-megalomania/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Maskulinitas Teknologi Informasi</title>
		<link>http://syaldi.web.id/2009/04/maskulinitas-teknologi-informasi/</link>
		<comments>http://syaldi.web.id/2009/04/maskulinitas-teknologi-informasi/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 27 Apr 2009 03:23:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Syaldi Sahude</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pertanyaan hari ini]]></category>
		<category><![CDATA[informasi]]></category>
		<category><![CDATA[maskulin]]></category>
		<category><![CDATA[Perempuan]]></category>
		<category><![CDATA[teknologi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://syaldi.web.id/?p=850</guid>
		<description><![CDATA[Adalah sebuah kenyataan bahwa bidang Teknologi Informasi, mulai dari pengembangan hingga pemanfaatan masih jauh dari kehidupan perempuan. Yang menjadi pertanyaan adalah &#8220;apakah teknologi mempunyai sifat maskulin?&#8221; Seorang teman pernah mengingatkan kepadaku bahwa Teknologi Informasi adalah wilayah bebas nilai. Sangat sulit jika ingin menjawab pertanyaan di atas.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Adalah sebuah kenyataan bahwa bidang Teknologi Informasi, mulai dari pengembangan hingga pemanfaatan masih jauh dari kehidupan perempuan. Yang menjadi pertanyaan adalah &#8220;apakah teknologi mempunyai sifat maskulin?&#8221;</p>
<p>Seorang teman pernah mengingatkan kepadaku bahwa Teknologi Informasi adalah wilayah bebas nilai. Sangat sulit jika ingin menjawab pertanyaan di atas.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://syaldi.web.id/2009/04/maskulinitas-teknologi-informasi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ideologi, Tak Perlu Lagi?</title>
		<link>http://syaldi.web.id/2008/10/ideologi-tak-perlu-lagi/</link>
		<comments>http://syaldi.web.id/2008/10/ideologi-tak-perlu-lagi/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 14 Oct 2008 00:56:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Syaldi Sahude</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pertanyaan hari ini]]></category>
		<category><![CDATA[ideologi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.syaldi.web.id/?p=531</guid>
		<description><![CDATA[Dalam sebuah rapat, aku menyatakan keberatan terhadap satu agenda yang terkait satu isu yang sedang dibahas. Alasanku, isu tersebut tidak jelas dan secara ideologis, aku tidak sepakat dengan isu yang diusung. Seorang temanku kemudian mengatakan &#8220;Loe kaya&#8217; mahasiswa aja, masih sok bawa ideologi segala&#8221;. Sebenarnya aku sangat tersinggung, tapi demi lancarnya rapat, aku biarkan saja [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dalam sebuah rapat, aku menyatakan keberatan terhadap satu agenda yang terkait satu isu yang sedang dibahas. Alasanku, isu tersebut tidak jelas dan secara ideologis, aku tidak sepakat dengan isu yang diusung.</p>
<p>Seorang temanku kemudian mengatakan &#8220;Loe kaya&#8217; mahasiswa aja, masih sok bawa ideologi segala&#8221;. Sebenarnya aku sangat tersinggung, tapi demi lancarnya rapat, aku biarkan saja berjalan. Pertanyaannya kemudian adalah; sudah sedemikian pragmatisnya kah kita sehingga ideologi tidak perlu lagi dalam bekerja?  Apa tujuan kita hidup di atas dunia tanpa mewujudkan sesuatu yang ideal buat kehidupan manusia? Mungkinkah kita membangun sebuah gerakan tanpa basis ideologi yang jelas? Haruskan kita membuang impian kita membangun sebuah gerakan demi pragmatisme yang semakin menggila? Lalu apa yang salah dengan memiliki satu ideologi dalam bekerja?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://syaldi.web.id/2008/10/ideologi-tak-perlu-lagi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

