Pertanyaan hari ini

Pertanyaan yang muncul di dalam kamarku

Pembajak vs Plagiat

0

Dalam sebuah diskusi, seorang teman bertanya “apa perbedaan antara pembajak dan plagiat?” Pertanyaan ini seperti sangat mudah dijawab oleh siapapun.

Sebenarnya, pertanyaan ini sudah sering disampaikan oleh temanku namun selalu saja mendapatkan jawabana atau respon yang salah. Menurutnya, selama ini pola pikir kita sudah dibentuk oleh berbagai hal sehingga sering salah kita artikan. Kita melihat keduanya hal yang sama. Persoalannya, apakah benar itu hal yang sama?

Akal Sehat versus Rasa

0

Tadi malam aku kehilangan akal sehat. Sepertinya kemalangan hari ini sangat akrab dengan sehingga tak ingin lepas dariku. Beberapa persoalan pribadi ditambah dengan segelintir persoalan teknis penunjang kegiatanku sehari-hari merupakan sekelumit persoalan.

Malam itu juga, aku harus menguji proses internalisasi akal sehat dan rasa. Proses perjalanan sekian tahun kemudian memaksa untuk kembali melihat ke belakang. Dikepalaku bertanya, mengapa akal sehat dan rasa seolah menjadi kontradiksi dalam hidup? Padahal, akal sehat dan rasa merupakan kombinasi kebijaksanaan. Sangat sulit mengolah kedua komponen jiwa ini dengan baik.

Lalu mengapa ini bisa terjadi? Mengapa rasa kerapkali menguasai manusia? Rasa untuk memiliki terkadang mengindahkan hal lainnya? Akan tetapi, apakah itu salah?

Eksistensi Individu Menjadi Megalomania

0

Seseorang akan menjadi lengkap sebagai manusia saat eksistensinya diakui oleh manusia lainnya. Oleh karena itu, eksistensi menjadi sangat penting untuk banyak orang. Setidaknya itulah yang dipahami oleh para pemikir eksistensialis seperti Kierkegaard dan Nietzche pada abad ke-19 dan 20.

Namun, persoalan eksistensi juga yang mengusikku beberapa minggu belakangan ini. Meyaksikan mereka yang ingin diakui ‘kehadirannya’ dengan mengecilkan arti orang lain menjadi sangat memuakkan. Seolah, hanya dia yang ‘paling’ sehingga yang lain tidak menjadi penting. Orang lain menjadi komponen tambahan dalam kehidupan untuk melengkapi dirinya. Semua pikiran dan kerja keras orang lain kemudian diklaim menjadi karyanya. Dia kemudian menjadi megalomania yang mengerikan! Perlukah menjadi megalomania demi pengakuan dirimu?

Jika memang dirinya mengaku sebagai aktifis kemanusiaan, bisakah dia mulai menghargai manusia lain sebelum bicara tentang kemanusiaan? Bisakah lebih merendah dihadapan orang lain untuk menutupi kebodohannya? Mengapa dia tak sadar bahwa titik terendah seorang manusia adalah memaksakan eksistensinya?

Maskulinitas Teknologi Informasi

0

Adalah sebuah kenyataan bahwa bidang Teknologi Informasi, mulai dari pengembangan hingga pemanfaatan masih jauh dari kehidupan perempuan. Yang menjadi pertanyaan adalah “apakah teknologi mempunyai sifat maskulin?”

Seorang teman pernah mengingatkan kepadaku bahwa Teknologi Informasi adalah wilayah bebas nilai. Sangat sulit jika ingin menjawab pertanyaan di atas.

Ideologi, Tak Perlu Lagi?

0

Dalam sebuah rapat, aku menyatakan keberatan terhadap satu agenda yang terkait satu isu yang sedang dibahas. Alasanku, isu tersebut tidak jelas dan secara ideologis, aku tidak sepakat dengan isu yang diusung.

Seorang temanku kemudian mengatakan “Loe kaya’ mahasiswa aja, masih sok bawa ideologi segala”. Sebenarnya aku sangat tersinggung, tapi demi lancarnya rapat, aku biarkan saja berjalan. Pertanyaannya kemudian adalah; sudah sedemikian pragmatisnya kah kita sehingga ideologi tidak perlu lagi dalam bekerja?  Apa tujuan kita hidup di atas dunia tanpa mewujudkan sesuatu yang ideal buat kehidupan manusia? Mungkinkah kita membangun sebuah gerakan tanpa basis ideologi yang jelas? Haruskan kita membuang impian kita membangun sebuah gerakan demi pragmatisme yang semakin menggila? Lalu apa yang salah dengan memiliki satu ideologi dalam bekerja?

Go to Top