<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>House of Question &#187; Meja Kerja</title>
	<atom:link href="http://syaldi.web.id/category/meja-kerja/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://syaldi.web.id</link>
	<description>Bertanyalah, jangan pernah berhenti bertanya.</description>
	<lastBuildDate>Thu, 22 Dec 2011 12:51:20 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
		<item>
		<title>Catatan Dari Pelatihan Pemantuan Pelanggaran HAM terhadap Pengguna NAPZA</title>
		<link>http://syaldi.web.id/2011/12/catatan-dari-pelatihan-pemantuan-pelanggaran-ham-terhadap-pengguna-napza/</link>
		<comments>http://syaldi.web.id/2011/12/catatan-dari-pelatihan-pemantuan-pelanggaran-ham-terhadap-pengguna-napza/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 01 Dec 2011 23:37:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Syaldi Sahude</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pemantuan HAM]]></category>
		<category><![CDATA[HAM]]></category>
		<category><![CDATA[napza]]></category>
		<category><![CDATA[narkotika]]></category>
		<category><![CDATA[penahanan]]></category>
		<category><![CDATA[penangkapan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://syaldi.web.id/?p=1115</guid>
		<description><![CDATA[Beberapa waktu yang lalu, aku diminta oleh seorang teman untuk membantunya memfasilitasi pelatihan pemantauan pelanggaran HAM. Tanpa pikir panjang, aku langsung menyanggupinya meskipun hanya mendapatkan imbalan terima kasih. Kebetulan, sudah lama sekali aku dan temanku tidak bertemu dan ada hal yang ingin kami diskusikan. Aku pikir, seperti pelatihan-pelatihan yang lain sehingga aku tidak bertanya banyak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://syaldi.web.id/wp-content/uploads/2011/12/321549_10150377858197867_686062866_8237834_2042160694_n.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-1120" title="Pelatihan Napza" src="http://syaldi.web.id/wp-content/uploads/2011/12/321549_10150377858197867_686062866_8237834_2042160694_n-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a>Beberapa waktu yang lalu, aku diminta oleh seorang teman untuk membantunya memfasilitasi pelatihan pemantauan pelanggaran HAM. Tanpa pikir panjang, aku langsung menyanggupinya meskipun hanya mendapatkan imbalan terima kasih. Kebetulan, sudah lama sekali aku dan temanku tidak bertemu dan ada hal yang ingin kami diskusikan.</p>
<p>Aku pikir, seperti pelatihan-pelatihan yang lain sehingga aku tidak bertanya banyak kepada temanku, misalnya isu, peserta dan hal teknis lainnya. Walhasil saat tiba di tempat pelatihan, aku cukup kaget karena merasa kurang persiapan. Isu yang diangkat adalah pemantauan pelanggaran HAM terhadap pengguna Narkotika dan Zat Adiktif (NAPZA) dan pesertanya berasal dari beberapa organisasi yang memiliki fokus kerja pada <em>Harm Reduction</em>. Dalam proses pelatihan, aku baru tahu bahwa beberapa peserta adalah pengguna aktif yang saat ini sedang menjalani rehabilitasi.</p>
<p><strong>Belajar Bersama</strong></p>
<p>Selama ini, pelatihan yang aku berikan tidak jauh dari topik hak tersangka, kebebasan beragama dan pelanggaran HAM masa lalu. Topik mengenai NAPZA dan persoalan di sekitarnya adalah hal yang baru buatku sehingga banyak hal yang aku pelajari selama pelatihan. Meskipun aku pernah membantu <em>Capacity Building</em> untuk beberapa organisasi yang bergerak di bidang <em>harm reduction</em>, namun lebih banyak di isu HIV/AIDS.</p>
<p>Demikian juga sebaliknya, ternyata sebagian dari para peserta yang telah lama bekerja di wilayah ini tidak memahami HAM, baik secara konsep maupun instrumen-instrumenya. Memang beberapa di antara peserta sudah sering mendapatkan pelatihan mengenai HAM namun masih minim digunakan untuk membangun argumen dalam kampanye maupun advokasinya.</p>
<p>Ya, aku melihat proses bersama dalam pelatihan ini adalah belajar bersama. Aku mendapat banyak pengetahuan baru, khususnya mengenai persoalan yang dihadapi oleh para pengguna NAPZA di Indonesia. Selama ini, aku tidak menganggap bahwa persoalan yang mereka hadapi sebagai persoalan serius. Hal ini tidak terlepas dari <em>streotype</em> yang melekat pada mereka yang ternyata cukup mempengaruhi cara berpikirku selama ini.</p>
<p><strong>Pengguna Napza tetap Manusia</strong></p>
<p>Aku tidak akan masuk pada wilayah perdebatan apakah menggunakan NAPZA benar atau salah. Buatku, pilihan menggunakan NAPZA atau tidak adalah sebuah pilihan sadar dari tiap manusia seperti merokok atau tidak. Jika seseorang kemudian memilih untuk menggunakan NAPZA, maka tidak berarti mengurangi esensinya sebagai manusia yang bermartabat dan memiliki hak yang sama dengan orang lain. Tidak ada satu orangpun yang dapat mencabut hak-hak fundamental mereka.</p>
<p>Dalam tulisan ini, aku akan menempatkan pengguna NAPZA sebagai korban yang tidak terpenuhi hak fundamental mereka.</p>
<p>Dari para peserta pelatihan, aku mendapatkan berbagi cerita pengalaman mereka berurusan dengan aparat berwenang.</p>
<p><strong>Penangkapan sewenang-wenang dan pemerasan.</strong></p>
<blockquote><p>Setiap orang berhak atas kebebasan dan keamanan pribadi. Tidak seorang pun dapat ditangkap atau ditahan secara sewenang-wenang. Tidak seorang pun dapat dirampas kebebasannya kecuali berdasarkan alasan-alasan yang sah, sesuai dengan prosedur yang ditetapkan oleh hukum. Pasal 9, ayat 1 ICCPR</p></blockquote>
<p>Para pengguna NAPZA seringkali ditangkap tidak sesuai dengan prosedur penangkapan. Sudah menjadi rahasia umum bahwa pola ini kerap digunakan oleh aparat kepolisian. Dari pengalaman para peserta, polisi sering menangkap mereka tanpa surat penangkapan yang sah. Bahkan surat pemberitahuan kepada keluarga seringkali tidak sampai kepada keluarga.</p>
<p>Beberapa peserta juga menceritakan pengalaman mereka ditangkap karena barang bukti yang &#8220;ditanam&#8221;. Mereka seringkali dijebak oleh oknum kepolisian saat tertangkap tanpa membawa barang bukti. Seorang peserta bercerita bahwa saat dia digeledah oleh polisi, tiba-tiba di saku celananya ditemukan shabu. Padahal saat itu dia sama sekali tidak membawa apapun NAPZA apapun. Tentunya kita masih ingat rekayasa kasus Aan, yang dituduh sebagai pengedar oleh kepolisian.</p>
<p>Setelah ditangkap, para pengguna NAPZA biasanya diperas oleh pihak kepolisian. Modus yang paling sering terjadi adalah mereka ditawarkan untuk&#8221;berdamai&#8221; dengan cara membayar uang dalam jumlah yang cukup banyak. Jika korban tidak bisa memenuhi, maka orang tua atau keluarga korban kemudian mereka hubungi untuk berdamai. Tentu saja semuanya dengan &#8220;paksaan&#8221; agar kasus tersebut 86.</p>
<p>Jika kasusnya cukup besar dan sulit diselesaikan di luar pengadilan, maka modusnya adalah &#8220;jual beli&#8221; pasal dalam kasus. Pada tahap ini, bukan hanya pihak kepolisan yang terlibat sebagai penyidik tapi juga kejaksaaan. Dikarenakan minimnya pengetahuan tentang hukum, banyak diantara mereka kemudian memberikan uang kepada polisi, jaksa dan hakim. Ironisnya, seringkali pengacara yang seharusnya membela hak korban justru terlibat dalam proses ini.</p>
<p><strong>Penyiksaan</strong></p>
<blockquote><p>Tidak seorang pun yang dapat dikenakan penyiksaan atau perlakuan atau hukuman lain yang keji, tidak manusiawi atau merendahkan martabat. Pada khususnya, tidak seorang pun dapat dijadikan obyek eksperimen medis atau ilmiah tanpa persetujuan yang diberikan secara bebas. Pasal 7, ICCPR</p></blockquote>
<p>Tindakan penyiksaan yang dilakukan oleh pihak kepolisian terhadap para pengguna NAPZA adalah temuan yang unik dalam proses pelatihan. Mayoritas dari kasus yang diangkat oleh para peserta terjadi tindakan penyiksaan. Walaupun awalnya para peserta agak kebingungan membedakan antara tindakan penganiayaan dan penyiksaaan dalam proses penangkapan dan penahanan, mereka akhirnya paham.</p>
<p>Dalam pelatihan tersebut memang tidak dapat didalami lagi bagaimana bentuk penyiksaan yang dialami oleh para pengguna karena terbatasnya pencatatan yang mereka lakukan. Yang pasti, para pengguna NAPZA yang tertangkap selalu dipaksa untuk mengakui atau menunjukkan pengguna lain atau bandarnya. Pemaksaan tersebut kemungkinan dilakukan dengan cara mengancam maupun tindakan kekerasan seperti kasus-kasus yang pernah aku pantau seperti di hak-hak tersangka.</p>
<p>Persoalan penyiksaan yang terjadi dalam &#8220;drugs wars&#8221; ternyata sudah menjadi persoalan internasional. Aku mengetahuinya saat menyaksikan web-cast dari <a href="http://www.apt.ch/opcatforum">THE APT GLOBAL FORUM ON THE OPCAT</a> . Seorang peserta dari forum tersebut mengangkat bahwa metode penyiksaan menjadi hal yang lumrah dalam &#8220;drugs war&#8221; di wilayah Amerika Latin. Persoalan ini harus menjadi perhatian serius dari dunia internasional.</p>
<p><strong>Penahanan</strong><br />
Sebenarnya, aku tidak terlalu paham prosedur dan mekanisme penanganan hukum kasus narkotika. Aku masih bertanya apakah prosedur dalam UU. No. 35/2009 tentang Narkotika memliki perbedaan dengan Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP)? Mungkin saja, karena UU No. 35/2009 adalah UU lex specialis</p>
<p>Seperti kasus-kasus yang lain, para pengguna NAPZA kerap kali ditahan secara sewenang-wenang alias tidak sesuai dengan prosedur hukum. Namun aku tidak akan membahas masalah ini melainkan beberapa masalah yang muncul dalam diskusi bersama peserta.</p>
<ul>
<li>Dalam penahanan dan pemenjaraan, tidak ada pemisahan antara pengguna dan bandar. Menurut para peserta, penjara akhirnya menjadi tempat bertemunya antara konsumen dan suplier.</li>
<li>Para pengguna NAPZA tidak mendapatkan akses kesehatan yang memadai. Padahal pada masa-masa tertentu, mereka membutuhkan tindakan medis segera.</li>
</ul>
<p><strong>Catatan Bersama</strong></p>
<p>Dari keseluruhan proses pelatihan, aku menyadari bahwa selama ini para penggiat yang bergerak di isu NAPZA melupakan aspek pendokumentasian dalam kerja mereka. Seiring dengan perkembangan gerakan, pendokumentasian menjadi penting agar advokasi dan kampanye bisa lebih &#8216;berbunyi&#8217; dengan data dan informasi yang mereka miliki. Sinergi antara gerakan sosial juga menjadi penting agar dampak dari advokasi dan kampanye dapat lebih besar.</p>
<p>Jika anda membutuhkan informasi terkait isu ini, silahkan kunjungi</p>
<ul>
<li>Majalah NAPZA &#8211; <a href="http://napzaindonesia.com/">http://napzaindonesia.com/</a></li>
<li>EAST JAVA ACTION (EJA) &#8211; <a href="http://eastjavaaction.org/">http://eastjavaaction.org/<br />
</a></li>
</ul>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://syaldi.web.id/2011/12/catatan-dari-pelatihan-pemantuan-pelanggaran-ham-terhadap-pengguna-napza/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mendokumentasikan Proses Peradilan</title>
		<link>http://syaldi.web.id/2011/09/mendokumentasikan-proses-peradilan/</link>
		<comments>http://syaldi.web.id/2011/09/mendokumentasikan-proses-peradilan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 09 Sep 2011 00:06:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Syaldi Sahude</dc:creator>
				<category><![CDATA[Informasi dan Dokumentasi]]></category>
		<category><![CDATA[Pemantuan HAM]]></category>
		<category><![CDATA[hak tersangka]]></category>
		<category><![CDATA[peradilan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://syaldi.web.id/?p=1096</guid>
		<description><![CDATA[Dalam beberapa kegiatan pemantauan hak tersangka yang aku ikuti, baik sebagai trainer, supervisor maupun konsultan salah satu masalah yang muncul adalah minimnya ketersediaan informasi dari kasus yang dipantau. Sangat sedikit kasus yang kelengkapan informasinya mencukupi untuk membangun analisa pelanggaran. Masalah ini muncul karena sejak model pencatatannya tidak dibuat untuk mempermudah para pemantau untuk mencari informasi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://syaldi.web.id/wp-content/uploads/2011/09/stock-illustration-149282-justice.jpg"><img class="size-medium wp-image-1123 alignright" title="stock-illustration-149282-justice" src="http://syaldi.web.id/wp-content/uploads/2011/09/stock-illustration-149282-justice-300x283.jpg" alt="" width="300" height="283" /></a>Dalam beberapa kegiatan pemantauan hak tersangka yang aku ikuti, baik sebagai trainer, supervisor maupun konsultan salah satu masalah yang muncul adalah minimnya ketersediaan informasi dari kasus yang dipantau. Sangat sedikit kasus yang kelengkapan informasinya mencukupi untuk membangun analisa pelanggaran. Masalah ini muncul karena sejak model pencatatannya tidak dibuat untuk mempermudah para pemantau untuk mencari informasi dan data yang dibutuhkan.</p>
<p>Dibawah ini ada beberapa hal yang perlu diperhatikan saat melakukan pencatatan sebuah kasus yang sedang dalam proses peradilan. Bahan di bawah diambil <a href="http://www.huridocs.org" target="_blank">Micro-Thesauri: A Tool for Documenting Human Rights Violation</a></p>
<ul>
<li>Komplain didaftarkan (oleh) pada (tanggal);</li>
<li>Penyelidikan awal dilakukan oleh (jaksa, hakim);</li>
<li>Surat pemberitahuan dikirimkan oleh (jaksa, hakim) meminta (tersangka) untuk hadir pada (tanggal) untuk memberikan pernyataan;</li>
<li>Pernyataan didaftarkan oleh (tersangka) pada (tanggal);</li>
<li>(Tertuduh) melepaskan hak untuk mendaftarkan pernyataan kontra pada (tanggal);</li>
<li>(Hakim) memutuskan tidak ada kemungkinan penyebab pada (tanggal);</li>
<li>Surat penangkapan dikeluarkan dan jaminan ditentukan (sejumlah) oleh (hakim) pada (tanggal);</li>
<li>(Pembela) memindahkan investigasi ulang pada (tanggal);</li>
<li>Tuduhan dilakukan pada (tanggal);</li>
<li>(Tertuduh) mengakui kesalahannya. Tertuduh dihukum oleh (hakim) selama (hukuman);</li>
<li>(Tertuduh) mengaku tidak bersalah. Pengadilan dijadwalkan pada (tanggal);</li>
<li>Mosi pembatalan oleh (pembela), dengan argumen (alasan);</li>
<li>(Hakim) menerima mosi pembatalan, kasus dibatalkan pada (tanggal);</li>
<li>Jaksa Penuntut menunjukkan bukti pada (tanggal);</li>
<li>Bukti sesuai dengan (testimoni, pameran);</li>
<li>Pembela menunjukkan bukti pada (tanggal);</li>
<li>Bukti sesuai dengan (testimoni, pameran);</li>
<li>Mosi untuk mengabaikan atau eksepsi terhadap bukti yang diajukan oleh (tertuduh), (hakim) mengabulkan mosi untuk mengabaikan pada (tanggal);</li>
<li>Jaksa penuntut menunjukkan bukti sanggahan pada (tanggal). Bukti sesuai dengan (testimoni, pameran);</li>
<li>(Hakim) menetapkan (hukuman) pada (tanggal);</li>
<li>(Banding) didaftarkan pada (tanggal) dengan argumen (alasan);</li>
<li>Dibebaskan pada (tanggal).</li>
</ul>
<p>Tunjukkan jangka waktu antara penangkapan dan perintah penahanan, pihak yang berwenang mengeluarkan perintah dan melaksanakan perintah tersebut (misalnya, keseriusan kejahatan, melarikan diri). Tunjukkan durasi penahan hingga pembebasan atau dimulainya pengadilan. Dalam hal pelepasan sebelum pengadilan, tunjukkan jenis (jaminan, kondisi lainnya) dan situasinya. Dalam hal hukuman, detil dari pembebasan bersyarat, durasi dan lainnya harus dapat ditunjukkan. Contoh seperti hukuman mati, hukuman seumur hidup, hukuman dengan waktu yang pasti, pengasingan internal, pengusiran, diskualifikasi politik atau sipil dan penundaan hukuman. Hukuman yang tidak final harus menyertakan frasa “semula” atau spesfikasi lainnya yang dapat digunakan. Termasuk informasi mengenai pembatasan dari hak untuk bergerak, penahanan administratif (tanpa tuduhan atau pengadilan namun berdasarkan undang-undang) atau tindakan lainnya.</p>
<p>Bagian ini harus memasukkan informasi mengenai keadaan, penggunaan surat penangkapan, <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/In_flagrante_delicto" target="_blank">fagrante delicto</a>, jenis pembebasan, jangka waktu hingga pembebasan, jaminan (syarat dan jumlah), dan jika ada tuduhan (spesifik) yang diberikan. Termasuk informasi mengenai banding dan penyelidikan, Tunjukkan dakwaan, penyelidikan hukum sebelum pengadilan (pihak yang berwenang, lamanya penyelidikan, hasil dan tuduhan)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://syaldi.web.id/2011/09/mendokumentasikan-proses-peradilan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ia Yang Gigih Tanpa Pamrih &#124; Mengenang Ibu Ade Rostina Sitompul</title>
		<link>http://syaldi.web.id/2011/07/ia-yang-gigih-tanpa-pamrih-mengenang-ibu-ade-rostina-sitompul/</link>
		<comments>http://syaldi.web.id/2011/07/ia-yang-gigih-tanpa-pamrih-mengenang-ibu-ade-rostina-sitompul/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 10 Jul 2011 12:05:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Syaldi Sahude</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tokoh]]></category>
		<category><![CDATA[ade rostina sitompul]]></category>
		<category><![CDATA[kemanusiaan]]></category>
		<category><![CDATA[pejuang]]></category>
		<category><![CDATA[Timor Leste]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://syaldi.web.id/?p=1086</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Thanks to Bung Har Wib yang sudah mengijinkan tulisannya aku posting di blog ini. Tidak ada kata-kata yang cukup untuk mengenang kontribusi beliau dalam perjuangan memanusiakan manusia Bu Ade, begitu ia akrab disapa, telah berpulang. Seorang perempuan hebat, ibu dan sahabat semua aktivis dan kalangan manapun. Saya mengenalnya mungkin lebih belakangan ketimbang banyak kawan-kawan &#8211;termasuk [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>&#8220;Thanks to Bung <a href="http://www.facebook.com/HarWib" target="_blank">Har Wib</a> yang sudah mengijinkan tulisannya aku posting di blog ini. Tidak ada kata-kata yang cukup untuk mengenang kontribusi beliau dalam perjuangan memanusiakan manusia</p></blockquote>
<div id="attachment_1089" class="wp-caption alignleft" style="width: 198px"><a href="http://syaldi.web.id/wp-content/uploads/2011/07/bu-ade.jpg"><img class="size-medium wp-image-1089" title="bu ade" src="http://syaldi.web.id/wp-content/uploads/2011/07/bu-ade-188x300.jpg" alt="" width="188" height="300" /></a><p class="wp-caption-text">Ade Rostina Sitompul</p></div>
<p>Bu Ade, begitu ia akrab disapa, telah berpulang. Seorang perempuan hebat, ibu dan sahabat semua aktivis dan kalangan manapun. Saya mengenalnya mungkin lebih belakangan ketimbang banyak kawan-kawan &#8211;termasuk seorang yang kemudian menjadi teman hidup saya&#8211; yang lebih dulu dekat dengannya.</p>
<p>Pengurus Yapusham saat itu memasukannya dalam nominasi Anugerah Yap Thiam Hien. Tak ada debat ketika Dewan Juri yang terdiri dari beberapa di antaranya Romo Mangunwijaya dan Gus Dur memutus bulat menetapkanya sebagai penerima penghargaan tersebut tahun 1995 bersama-sama dengan para petani Jenggawah.</p>
<p>Salah satu dasar terkuat memberi penghargaan itu padanya, ia sedikit dan lebih sekedar seorang pekerja sosial yang bertahun-tahun malang melintang keluar masuk penjara untuk mengurusi para tahanan politik rezim Soearto. Masa di mana tidak mudah dan sangat beresiko untuk berani melakukannya. Ia dengan tulus riang gembira mengunjungi, berbincang, memfasilitasi kebutuhan para tahanan dan narapidana politik: di Cipinang maupun penjara lainnya, mulai dari tapol 65/66, Aceh, Papua, Xanana Gusmao hingga kawan-kawan PRD kemudian setelah peristiwa 27 Juli 1996. Semuanya ia lakukan dengan riang gembira, tanpa pilih kasih, tanpa membedakan agama, etnis apalagi keyakinan politik.</p>
<p>Menanggapi Peristiwa Santa Cruz, 12 November 1991, bersama Asmara Nababan dan para aktivis HaM dan lintas agama lainnya, ia membentuk Joint Committee for East Timorese untuk melakukan penyelidikan dan advokasi peristiwa penembakan serampangan terhadap para demonstran itu.</p>
<p>Sejak saat itu aktivitasnya tak pernah lepas dari lingkaran gerakan masyarakat sipil, mantan tapol/napol dan banyak organisasi non-pemerintah di mana ia menjadi pendiri atau angggota kehormatan: Fortilos, TRUK, KontraS, Imparsial, Setara Institute, untuk menyebut beberapa di antaranya. Seorang ibu cantik dengan asesoris dan rambut disanggul rapi yang selalu hadir dalam setiap momen penting: mencurahkan tenaga, perhatian, pikiran serta pandangan dan saran-sarannya yang unik.</p>
<p>Seorang kawan berkisah, ia dengan gagah berani berjibaku menembus keluar masuk ke Jakarta-Dili menjadi kurir barang berharga dan pesan penting dari penjara. Kadang atas prakarsanya sendiri. Clandestine. 10 tahun setelah Timor Timur merdekea, 2009, ia menerima penghargaan kenegaraan dari Republik Demokratik Timor Leste. Suatu nilai yang sangat pantas baginya dari suatu bangsa yang berdaulat yang telah berjuang untuk pembebasan nasional dan tahu menghargai perjuangan manusia.</p>
<p>Andilnya pada gerakan reformasi hanya konsekuensi saja dari integritas dan pengabdiannya kepada mereka yang tertindas, mereka yang diabaikan, kepada para korban/ survivor hak-hak manusia, pada jantung kemanusiaan.</p>
<p>Setahun yang lalu, saya acap berjumpa dengannya, hampir setiap minggu, saat mengantar bapak mertua menjalani terapi akupunktur di klinik pak Putu Oka, Rawamangun. Kami sering mengobrol ke sana kemari, berdiskusi sambil menilai perkembangan situasi politik mutakhir, tanpa nuansa nostalgik seperti layaknya ngobrol dengan para sepuh.</p>
<p>Ia tak pernah mengeluh berlebihan atau geram tentang situasi politik terkini. Meski ia sangat kecewa tapi tetap kritis, terutama pada soal yang menjadi keprihatinannya akhir-akhir ini: persekusi berdasarkan agama/ keyakinan minoritas.</p>
<p>Sering saya baru tersadar, sedang berbincang dengan seorang perempuan lansia, lebih 70 tahun usianya. Bu Ade tak pernah menunjukkan kelelahan itu; tetap riang, keibuaan dan cantik, bersemangat. Itu sebabnya saya selalu dengan senang hati mengantarnya pulang ke panti jompo, di bilangan Kramat V, rumah bersama teman-teman sebayanya agar merasa tetap mandiri, begitu ungkapnya suatu ketika, dan selalu gaul.</p>
<p>Saya selalu mencium pipinya jika lama kami tak jumpa. Dan ia selalu menitip salam pada istri dan bapak mertua saya saat berpisah. Kehangatan, kasih sayang dan perhatian yang sama bagi siapapun yang mengenal kiprahnya. Kini ia telah berpulang, juga dengn gigih di akhir hayatnya, hingga jalan tenang menghampirinya. Kami kehilangan kehangatan, keprihatinan dan perjuangannya yang tulus selama ini. Tapi kami tak akan pernah kehilangan semangat juang, dan kegigihannya pada kemanusiaan. Kami bangga menjadi anak-anak dan sahabatmu, tapi sekaligus sangsi: siapa yang mampu menggantikanmu? Selamat jalan Bu Ade. Beristirahtlah dengan tenang di sisiNya.</p>
<p>Sumber: http://www.facebook.com/note.php?note_id=10150288287652328</p>
<p>Tulisan lainnya: <a href="http://indoprogress.com/2011/07/12/ibunda-dua-bangsa-obituari-untuk-ade-rostina-sitompul/" target="_blank">Ibunda Dua Bangsa: Obituari untuk Ade Rostina Sitompul</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://syaldi.web.id/2011/07/ia-yang-gigih-tanpa-pamrih-mengenang-ibu-ade-rostina-sitompul/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Akses Internet Dijamin Undang-undang di Finlandia</title>
		<link>http://syaldi.web.id/2009/10/akses-internet-dijamin-undang-undang-di-finlandia/</link>
		<comments>http://syaldi.web.id/2009/10/akses-internet-dijamin-undang-undang-di-finlandia/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 27 Oct 2009 06:06:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Syaldi Sahude</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hak Asasi Manusia]]></category>
		<category><![CDATA[TIK]]></category>
		<category><![CDATA[akses internet]]></category>
		<category><![CDATA[Internet]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://syaldi.web.id/?p=1030</guid>
		<description><![CDATA[Pagi tadi, aku membaca sebuah surat elektronik yang menarik di sebuah mailing list (milis)  yang dikelola oleh HURIDOCS dan HREA. Surat tersebut berisi informasi bahwa Finlandia telah membuat regulasi (undang-undang) tentang akses internet bagi warga negaranya dimulai Juli 2009. Bahkan tidak tanggung-tanggung, pemerintah Finlandia juga menetapkan bahwa setiap warganya berhak untuk mendapatkan akses internet dengan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://syaldi.web.id/wp-content/uploads/2009/10/ADL_Internet_Censorship.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-1034" title="ADL_Internet_Censorship" src="http://syaldi.web.id/wp-content/uploads/2009/10/ADL_Internet_Censorship-150x150.jpg" alt="ADL_Internet_Censorship" width="150" height="150" /></a>Pagi tadi, aku membaca sebuah surat elektronik yang menarik di sebuah mailing list (milis)  yang dikelola oleh <a href="http://www.hurdicos.org" target="_blank">HURIDOCS</a> dan <a href="http://www.hrea.org" target="_blank">HREA</a>. Surat tersebut berisi informasi bahwa <a href="http://edition.cnn.com/2009/TECH/10/15/finland.internet.rights/" target="_blank">Finlandia telah membuat regulasi (undang-undang) tentang akses internet bagi warga negaranya dimulai Juli 2009</a>. Bahkan tidak tanggung-tanggung, pemerintah Finlandia juga menetapkan bahwa setiap warganya berhak untuk mendapatkan akses internet dengan kecepatan minimal 1 mbps. Itu artinya, sekitar 5,2 juta warga negaranya memiliki hak secara legal dan dijamin oleh negara untuk mendapatkan akses internet. Bahkan pemerintah Finlandia mentargetkan pada tahun 2015, kecepatan akses bisa mencapai 100 mbps!</p>
<p>Patut diacungi jempol keberanian pemerintah Finlandia meregulasi hal tersebut.  Konsekuensi dari regulasi tersebut tentu saja adalah penyediaan dana dan infrastruktur untuk masalah akses tersebut. Ada kewajiban untuk melakukan berbagai upaya agar semua warga negaranya mendapatkan akses internet dengan mudah. Mungkin hal tersebut bukan yang sulit karena hampir 95% penduduk Finlandia memiliki akses internet.</p>
<p>Langkah yang dilakukan oleh Finlandia seolah dua langkah lebih maju dibandingkan dengan PBB  yang saat ini tengah membahas apakah akses ke internet sebagai bagian dari hak asasi manusia. Pertama, Finlandia mengakui bahwa akses internet sebagai salah satu komponen dalam pelayanan publik adalah hak warga negara mereka. Kedua adalah berani melakukan regulasi kecepatan akses internet minimal bagi warga negaranya.</p>
<p>Sebenarnya langkah yang diambil oleh Finlandia bukanlah hal yang luar biasa. Negara ini tercatat sebagai salah satu negara yang menjunjung kebebasan pers. Menurut Reporters San Fronties, Finlandia menepati rangking pertama pada <a href="http://www.rsf.org/en-classement1003-2009.html" target="_blank">Indeks kebebasan pers</a> dengan nilai 0. Finlandia juga tercatat sebagai salah satu negara yang memiliki tingkat transparansi dan akuntabilitas yang sangat baik. Dalam <a href="http://www.transparency.org/policy_research/surveys_indices/cpi/2008" target="_blank">Indeks Persepsi Korupsi</a> yang dikeluarkan oleh Tranparancy International, Finlandia menempati urutan kelima di bawah beberapa negara seperti Denmark dan Singapura.</p>
<p>Jadi jelas sudah kenapa Finlandia cukup berani mengambil langkah tersebut. Lalu muncul pertanyaan, bagaimana di Indonesia? Hmm&#8230; mungkin masih sangat jauh. Dari 240 juta penduduk Indonesia, baru sekitar 25 juta yang memiliki akses ke internet atau sekitar 10%. Itupun dengan koneksi yang sangat buruk!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://syaldi.web.id/2009/10/akses-internet-dijamin-undang-undang-di-finlandia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengetahui Gempa dengan Browser Anda</title>
		<link>http://syaldi.web.id/2009/10/mengetahui-gempa-dengan-browser-anda/</link>
		<comments>http://syaldi.web.id/2009/10/mengetahui-gempa-dengan-browser-anda/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 13 Oct 2009 19:00:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Syaldi Sahude</dc:creator>
				<category><![CDATA[TIK]]></category>
		<category><![CDATA[add-ons]]></category>
		<category><![CDATA[firefox]]></category>
		<category><![CDATA[gempa]]></category>
		<category><![CDATA[mozilla]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://syaldi.web.id/?p=1017</guid>
		<description><![CDATA[Banyak orang yang tidak tahu bahwa hampir setiap hari terjadi gempa di bumi ini, meskipun hampir keseluruhannya dalam skala kecil. Awalnya aku juga tidak bisa percaya bahwa setiap hari gempa di bumi ini. Namun setelah gempa beruntun yang terjadi Indonesia, membuatku berpikir ulang. Setelah membaca beberapa bahan dari pencarian di Internet, aku baru mengetahui sedikit [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://syaldi.web.id/wp-content/uploads/2009/10/4_1_5_0_earthquakes_022.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-1020" title="4_1_5_0_earthquakes_02" src="http://syaldi.web.id/wp-content/uploads/2009/10/4_1_5_0_earthquakes_022-150x150.jpg" alt="4_1_5_0_earthquakes_02" width="150" height="150" /></a></p>
<p>Banyak orang yang tidak tahu bahwa hampir setiap hari terjadi gempa di bumi ini, meskipun hampir keseluruhannya dalam skala kecil. Awalnya aku juga tidak bisa percaya bahwa setiap hari gempa di bumi ini. Namun setelah gempa beruntun yang terjadi Indonesia, membuatku berpikir ulang.</p>
<p>Setelah membaca beberapa bahan dari pencarian di Internet, aku baru mengetahui sedikit tentang masalah ini. Bumi ibarat makhluk hidup yang terus bergerak dan mengakibatkan terjadinya pergeseran lempeng. Pergeseran tersebut mengakibatkan pergesekan lempeng sehingga dapat menyebaban terjadinya gempa tektonik atau vulkanik. Bayangkan, setiap hari bisa terjadi 1000 kali gempa yang berskala 2 &#8211; 3 magnitude.</p>
<p>Untuk membuktikannya anda bisa mengunjungi situs <a href="http://earthquake.usgs.gov/eqcenter/" target="_blank">US Geological Survey</a> untuk mendapatkan informasi tersebut. Selain itu, anda juga bisa mendapatkan informasi tentang kejadian gempa melalui browser anda. Syaratnya anda harus menggunakan Mozilla Firefox atau Flock sehingga dapat menginstall add-ons <a href="https://addons.mozilla.org/en-US/firefox/addon/2239">eQuake Alert</a> di browser tersebut. <a href="https://addons.mozilla.org/en-US/firefox/addon/2239">eQuake Alert</a> memberikan informasi terkini tentang peristiwa gempa di seluruh dunia. Anda dapat mengatur getaran yang terlihat di browser anda jika terjadi gempa dalam skala tertentu.</p>
<p>Oh iya, sepertinya add-ons <a href="https://addons.mozilla.org/en-US/firefox/addon/2239">eQuake Alert</a> di halaman Mozilla tidak dimutakhirkan lagi sehingga tidak mendukung Mozilla Firefox terbaru. Sebagai alternatif, kunjungi fan page-nya di <a href="http://www.facebook.com/eQuakeAlert?v=wall" target="_blank">Facebook</a> untuk mendapatkan informasi terbaru mengenai versi terbaru.</p>
<p>Teknologi ini bisa digunakan sebagai salah satu alat <em>early warning system</em> bagi masyarakat Indonesia yang hidup di atas wilayah rawan bencana.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://syaldi.web.id/2009/10/mengetahui-gempa-dengan-browser-anda/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mencoba Senayan, Aplikasi Perpustakaan</title>
		<link>http://syaldi.web.id/2009/09/mencoba-senayan-aplikasi-perpustakaan/</link>
		<comments>http://syaldi.web.id/2009/09/mencoba-senayan-aplikasi-perpustakaan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 10 Sep 2009 19:04:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Syaldi Sahude</dc:creator>
				<category><![CDATA[Informasi dan Dokumentasi]]></category>
		<category><![CDATA[Open Source]]></category>
		<category><![CDATA[opac]]></category>
		<category><![CDATA[perpustakaan]]></category>
		<category><![CDATA[senayan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://syaldi.web.id/?p=993</guid>
		<description><![CDATA[Sudah lama benar aku mendengar tentang satu aplikasi open source pengelolaan perpustakaan yang diberi nama Senayan  On-line Publishing Acces Catalog. Kalau tidak salah, sekitar tahun 2007 seorang teman memberikan informasi tentang aplikasi ini ini namun baru dua bulan terakhir ini mencoba sendiri. Sebelumnya, aku sudah mendorong perpustakaan Yayasan Jurnal Perempuan untuk menggunakan aplikasi ini. Sejak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sudah lama benar aku mendengar tentang satu aplikasi <em>open source</em> pengelolaan perpustakaan yang diberi nama Senayan  On-line Publishing Acces Catalog. Kalau tidak salah, sekitar tahun 2007 seorang teman memberikan informasi tentang aplikasi ini ini namun baru dua bulan terakhir ini mencoba sendiri. Sebelumnya, aku sudah mendorong perpustakaan<a href="http://library.jurnalperempuan.com" target="_blank"> Yayasan Jurnal Perempuan</a> untuk menggunakan aplikasi ini. <span id="more-993"></span></p>
<p>Sejak tahun 2001, entah mengapa aku tiba-tiba terlibat dan tertarik pada masalah perpustakaan. Mungkin dikarenakan ketertarikan pada pendokumentasian dan pengelolaan informasi sehingga mendekatkan kepada dunia ini. Terlebih lagi, beberapa teman dalam bekerja punya latar belakang sebagai pustakawan. Jadilah, aku mempelajari sedikit demi sedikit ilmu yang terbilang tidak mudah dan membosankan bagi kebanyakan orang.</p>
<p>Aplikasi perpustakaan yang pertama aku kenal adalah ISIS masih dalam versi DOS yang kemudian dikembangkan menjadi CDS/ISIS. Pertama melihat aplikasi ini, kepala sudah mau pecah karena melihat kerumitannya. Aku hanya berharap ada aplikasi yang lebih mudah sehingga orang awam sekalipun dapat mengoperasikannya. Akhirnya keluarlah Senayan.</p>
<p>Aplikasi ini merupakan aplikasi <em>open source</em> untuk Sistem Manajemen Perpustakaan yang dikembangkan oleh Pusat Informasi dan Humas Depdiknas. Dibangun menggunakan teknologi PHP dan MySQL yang dapat digunakan di berbagai sistem operasi ini. Untuk lebih lengkapnya, silahkan mengunjungi <a href="http://senayan.diknas.go.id/web" target="_blank">http://senayan.diknas.go.id/web</a>.</p>
<p><strong>Mencoba Senayan untuk Perpustakaan Pribadi</strong></p>
<p>Aku menggunakan aplikasi untuk kebutuhan perpustakaan pribadiku. Buku yang sudah menumpuk di kamar kerja sudah tak terdata dengan baik, beberapa di antara sudah dipinjam entah oleh siapa. Akibatnya, beberapa buku koleksi yang agak susah kudapatkan hilang begitu saja. Mau tidak mau, aku harus mengelolanya untuk meminimalkan kehilangan tersebut.</p>
<p>Aku kemudian mencoba <a href="http://senayan.diknas.go.id/web/?q=node/1" target="_blank">Senayan 3 stable 10</a>. Tidak butuh waktu terlalu lama; men-setup MAMP (kebetulan saya menggunakan Mac), lalu buat database MySQL server dan eksekusi <em>script</em>-nya. Selanjutnya melakukan instalasi aplikasinya dan selesai. Senayan telah dapat digunakan.</p>
<p>Setelah mencobanya, ada beberapa catatan yang perlu aku sampaikan untuk mereka yang ingin mencoba.</p>
<ol>
<li>Instalasinya sangat mudah. Jika sudah sering menggunakan aplikasi web, sudah bisa dipastikan anda bisa melakukannya. Terlebih lagi manual yang disediakan oleh pengembangnya cukup lengkap, terutama untuk pengguna dengan sistem operasi linux. Cukup menyediakan Apache dan MySQL server di komputer anda, Senayan sudah dapat digunakan. Jika ada kebutuhan untuk menjadikannya on-line, hanya cukup dengan mengunggah database dari MySQL, anda sudah bisa menggunakannya dalam hitungan jam,</li>
<li>Fitur yang disediakan juga cukup banyak dan tentunya sangat membantu. Untuk pengolahan bibliografi, sudah sangat memadai. Dilengkapi dengan sistem <em>barcode</em> yang akan mempercepat proses pelayanan sirkulasi. Aplikasi ini dapat membantu pustakawan untuk mengetahui berapa member yang terlambat melakukan pengembalian.</li>
<li>Oh iya, ada juga fasilitas untuk mencari katalog buku yang sudah tersedia di Internet. Ini hal yang baru buatku juga. Saat menggunakannya, pengguna tinggal memasukkan kata kunci berdasarkan judul atau nomor ISBN/ISSN. Jika ditemukan, kita tinggal menambahkan ke dalam database kita dengan sekali klik. Begitu cepat dan mudah&#8230;</li>
<li>Saat mencoba membuka beberapa halamannya, ternyata masih ada gabungan antara HTML dan PHP. Template halamannya lebih banyak menggunakan HTML sehingga akan mempermudah pengguna untuk melakukan modifikasi.</li>
</ol>
<p>Aku pribadi sangat menganjurkan organisasi yang memiliki perpustakaan untuk menggunakan aplikasi ini. Dengan aplikasi ini, proses pertukaran informasi, khususnya katalog akan lebih mudah dan terbuka kemungkinan membuat on-line public access catalog (OPAC) bersama dengan organisasi lainnya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://syaldi.web.id/2009/09/mencoba-senayan-aplikasi-perpustakaan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Akhirnya OpenEvsys Diluncurkan&#8230;!</title>
		<link>http://syaldi.web.id/2009/08/akhirnya-openevsys-diluncurkan/</link>
		<comments>http://syaldi.web.id/2009/08/akhirnya-openevsys-diluncurkan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 07 Aug 2009 21:10:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Syaldi Sahude</dc:creator>
				<category><![CDATA[Open Source]]></category>
		<category><![CDATA[Pemantuan HAM]]></category>
		<category><![CDATA[HURIDOCS]]></category>
		<category><![CDATA[openevsys]]></category>
		<category><![CDATA[sahana]]></category>
		<category><![CDATA[winevsys]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://syaldi.web.id/?p=980</guid>
		<description><![CDATA[Setelah dikerjakan lebih dari satu tahun, akhirnya sebuah aplikasi web open source untuk pendokumentasian Pelanggaran Hak Asasi Manusia diluncurkan. Aplikasi ini diberi nama OpenEvsys merupakan pengembangan dari WinEvsys merupakan hasil kerja keras dari HURIDOCS International dan Respere. Sebelumnya, Gugus Kerja Dokumentasi dan Informasi HAM telah menguji cobanya dan memberikan beberapa masukan di dalam pengembangannya. Berikut [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Setelah dikerjakan lebih dari satu tahun, akhirnya sebuah aplikasi web open source untuk pendokumentasian Pelanggaran Hak Asasi Manusia diluncurkan. Aplikasi ini diberi nama OpenEvsys merupakan pengembangan dari WinEvsys merupakan hasil kerja keras dari HURIDOCS International dan Respere. Sebelumnya, Gugus Kerja Dokumentasi dan Informasi HAM telah menguji cobanya dan memberikan beberapa masukan di dalam pengembangannya.<span id="more-980"></span></p>
<p>Berikut adalah release yang dikeluarkan secara internal di jejaring pengembang dan pengguna OpenEvsys.</p>
<p><strong>Indonesia</strong><br />
OpenEvsys adalah adalah aplikasi open-source gratis yang saat ini sedang dikembangkan oleh Human Rights Information and Documentation Systems, International (HURIDOCS) dan Respere. Aplikasi ini menggunakan HURIDOCS Events Standard Format, standar internasional untuk dokumentasi pelanggaran HAM yang terdapat di sistem pangkalan data yang dibuat oleh HURIDOCS. Openevsys menggunakan kembali kerangka kerja yang dikembangkan SAHANA, platform open source manajemen kebencanaan.</p>
<p>Informasi :<a href="https://launchpad.net/openevsys" target="_blank"> https://launchpad.net/openevsys</a><br />
Unduh aplikasi : <a href="https://launchpad.net/openevsys/+download" target="_blank">https://launchpad.net/openevsys/+download</a></p>
<p><strong>English</strong><br />
OpenEvsys is free, open source software tool, currently under development by<a href="http://www.huridocs.org" target="_blank"> Human Rights Information and Documentation Systems, International (HURIDOCS)</a> and <a href="http://respere.lk" target="_blank">Respere</a>. It implements the HURIDOCS Events Standard Formats, an international standard for documenting human rights violations, and builds on early database systems developed by HURIDOCS. OpenEvsys re-uses the application framework developed for SAHANA, the open source disaster management plaform.</p>
<p>More information : <a href="https://launchpad.net/openevsys" target="_blank">https://launchpad.net/openevsys</a><br />
Download : <a href="https://launchpad.net/openevsys/+download" target="_blank">https://launchpad.net/openevsys/+download</a></p>
<p>Jika anda atau organisasi anda tertarik untuk mengetahui lebih jauh tentang aplikasi ini, silahkan meninggalkan komentar di bawah ini.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://syaldi.web.id/2009/08/akhirnya-openevsys-diluncurkan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Telah Hadir &#8220;Database on Violence Against Women&#8221;</title>
		<link>http://syaldi.web.id/2009/06/telah-hadir-database-on-violence-against-women/</link>
		<comments>http://syaldi.web.id/2009/06/telah-hadir-database-on-violence-against-women/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 16 Jun 2009 11:31:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Syaldi Sahude</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hak Asasi Manusia]]></category>
		<category><![CDATA[Pemantuan HAM]]></category>
		<category><![CDATA[Database]]></category>
		<category><![CDATA[Kekerasan Terhadap Perempuan]]></category>
		<category><![CDATA[PBB]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://syaldi.web.id/?p=937</guid>
		<description><![CDATA[Pada 5 Maret 2009, Sekretariat Jendral Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) meluncurkan situs &#8221; Database on Violence Against Women&#8221;. Sebuah kemajuan dalam upaya penghapusan kekerasa terhadap perempuan secara global telah tercapai. Situs ini memberikan berbagai informasi tentang perkembangan kemajuan dari negara yang menjadi anggota PBB. Selama ini, informasi seperti sangat sulit didapatkan oleh masyarakat dan penggiat hak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://syaldi.web.id/wp-content/uploads/2009/06/database-kekerasan-thdp-perempuan1.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-939" style="border: 1px solid black; margin: 2px 5px;" title="database-kekerasan-thdp-perempuan1" src="http://syaldi.web.id/wp-content/uploads/2009/06/database-kekerasan-thdp-perempuan1.jpg" alt="database-kekerasan-thdp-perempuan1" width="152" height="111" /></a>Pada 5 Maret 2009, Sekretariat Jendral Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) meluncurkan situs &#8221; Database on Violence Against Women&#8221;. Sebuah kemajuan dalam upaya penghapusan kekerasa terhadap perempuan secara global telah tercapai. Situs ini memberikan berbagai informasi tentang perkembangan kemajuan dari negara yang menjadi anggota PBB. Selama ini, informasi seperti sangat sulit didapatkan oleh masyarakat dan penggiat hak asasi manusia. <span id="more-937"></span></p>
<p>Situs ini berawal dari resolusi yang dibuat pada Desember 2006 oleh Majelis Umum PBB. Dalam resolusi tersebut, PBB menyadari bahwa pentingnya melakukan upaya yang intensif untuk menghapus segala bentuk kekerasan terhadap perempuan. Salah satunya adalah membuat sebuah pangkalan data (database, red) terpusat tentang dampak dan efektifitas dan kebijakan dan program yang ada. Selain itu, database ini diharapkan dapat menyediakan informasi seputar <em>best pratices</em> yang pernah dilakukan.</p>
<p>Sumber utama dari pangkala data ini adalah respon quisoner tentang kekerasan terhadap perempuan yang diterima oleh Sekjen PBB dari negara anggota per September 2008. Data terus diperbaharusi secara tanggal tersebut. Selain itu, informasi juga diambil dari laporan negara pihak dari yang masuk ke Badan Pemantau Konvensi PBB, laporan dari World Conference on Women ke-4 dan informasi relevan yang ada di badan PBB lainnya.</p>
<p>Dalam pernyataan pers yang dikeluarkan oleh Deputy Direktur Sekjen PBB, pangkalan data ini ditujukan untuk membantu para korban dan penyintas (survivor, red). para pengambil kebijakan juga diharapkan dapat menjadikan situs ini sebagai penyedia data yang relevan untuk penyadaran dan pengembangan kapasitas. Pangkalan data ini menyediakan dokumen dalam bahasa Inggris serta beberapa dokumen yang telah diterjemahkan dalam 6 bahasa standar yang digunakan oleh PBB.</p>
<p>Indonesia sebagai salah satu peserta telah berkontribusi dalam pengkalan data tersebut. Jika menengok halaman yang menyediakan informasi dari Indonesia, dapat ditemui informasi mengenai kerangka hukum dan kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah. Sayangnya, masih banyak informasi yang sangat penting seperti pelayanan untuk korban dan penyintas serta data lainnya belum tersedia.</p>
<p>Untuk mengunjungi situs tersebut, silahkan klik di <a href="http://webapps01.un.org/vawdatabase/home.action" target="_blank">sini</a></p>
<p>(dimuat oleh<a href="http://www.jurnalperempuan.com" target="_blank"> www.jurnalperempuan.com</a>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://syaldi.web.id/2009/06/telah-hadir-database-on-violence-against-women/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Belajar Dari Semangat Om Oey</title>
		<link>http://syaldi.web.id/2009/05/belajar-dari-semangat-om-oey/</link>
		<comments>http://syaldi.web.id/2009/05/belajar-dari-semangat-om-oey/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 20 May 2009 13:38:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Syaldi Sahude</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tokoh]]></category>
		<category><![CDATA[lekra]]></category>
		<category><![CDATA[oey hay djoen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://syaldi.web.id/?p=926</guid>
		<description><![CDATA[Sudah setahun, sang sahabat dan guru telah berpulang ke sisi-Nya. Om Oey, begitulah aku memanggil sang sahabat dan guru. Tulisan ini aku buat untuk mengingatkan semangat yang telah ditinggalkan untuk para generasi muda. Aku tidak bisa mengingat persis kapan mulai mengenal sosok beliau. Aku sudah sering mendengar nama beliau saat mulai aktif di sekertariat bersama [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://syaldi.web.id/wp-content/uploads/2009/05/oey-hay-djoen-1.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-927" style="border: 1px solid black; margin: 2px 3px;" title="oey-hay-djoen-1" src="http://syaldi.web.id/wp-content/uploads/2009/05/oey-hay-djoen-1-300x210.jpg" alt="oey-hay-djoen-1" width="210" height="147" /></a>Sudah setahun, sang sahabat dan guru telah berpulang ke sisi-Nya. Om Oey, begitulah aku memanggil sang sahabat dan guru. Tulisan ini aku buat untuk mengingatkan semangat yang telah ditinggalkan untuk para generasi muda.</p>
<p>Aku tidak bisa mengingat persis kapan mulai mengenal sosok beliau. Aku sudah sering mendengar nama beliau saat mulai aktif di sekertariat bersama (sekber) Tim Relawan untuk Kemanusiaan (TRK) di bilangan Cikoko pada tahun 2001. Saat itu, aku sering berkumpul dengan teman-teman yang tergabung dalam Oral History Project (OHP) Tragedi &#8217;65. Dari mereka pula aku mengenal sosok beliau sebagai salah satu narasumber.<span id="more-926"></span></p>
<p>Ternyata, aku sudah sering melihat sosok beliau di dalam beberapa Diskusi Bulan Purnama yang diadakan oleh Jaringan Kerja Budaya di Komunitas Garuda. Yah, beliau selalu berusaha hadir bersama tante Jane dalam setiap kegiatan yang diadakan oleh para anak muda. Padahal umurnya sudah tidak muda lagi. Dengan penampilan yang sederhana, topi dan tongkat yang selalu menemaninya.</p>
<p><strong>Sebagai Sahabat&#8230;</strong></p>
<p>Aku mulai berkenalan dengan sosok beliau saat mulai terlibat dalam kampanye Perdamaian untuk Aceh. Aku dan kawan-kawan yang terlibat dalam tim kerja tersebut sering bertemu beliau. Kami mendiskusikan cara-cara untuk melakukan kampanye dengan efektif. Dikarenakan TRK merupakan organisasi yang tidak menerima dana dari lembaga donor, kami juga mendiskusikan cara untuk melakukan pencarian dana. Ya, aku tahu persis ketidak-setujuan om Oey terhadap organisasi yang mendapatkan dana dari lembaga donor.</p>
<p>Saat itu, aku belum mengetahui jika beliau adalah salah satu tokoh di Lembaga Kebudayaan Rakyat (LEKRA). Tidak pernah sekalipun beliau menyinggung tentang komunisme apalagi memberikan kami petuah tentang Marxisme. Dalam setiap obrolan dengan kami, beliau selalu mengedepankan bahwa yang harus kami jaga adalah semangat kemanusiaan.</p>
<p>Saat berdiskusi, beliau tidak pernah bicara tentang penderitaannya selama masa orde baru. Posisinya selalu sebagai seorang sahabat yang sering mendengarkan. Jika kami punya keluh-kesah, berkunjung ke rumahnya merupakan obat yang mujarab. Tidak pernah ada nasihat bijak, yang ada hanyalah obrolan santai namun berisi.  Aku mengingat  satu kejadian yang menarik saat mengunjungi rumah beliau di bilangan Cibubur. Saat itu, beliau baru sembuh dari sakit. Mado, anak perempuan beliau bergurau &#8220;Setiap ada anak muda yang datang ke rumah, papa semakin tambah semangat&#8221; yang disambut dengan gelak tawa dari kami. Om  Oey hanya tersenyum simpul seolah mengiyakan.</p>
<p><strong>Sebagai Guru</strong></p>
<p>Aku sepakat dengan pernyataan bang Fay (Hilmar Farid) dalam &#8220;peringatan satu tahun berpulangnya Oey Hay Djoen&#8221;  yang mengatakan bahwa beliau adalah orang sangat disiplin dalam bekerja. Terkadang memang mengesalkan namun justru inilah selalu yang harus diterapkan dalam bekerja. Beliau mengajarkan kepada kami agar bekerja sungguh-sungguh walaupun tidak mendapatkan pamrih.</p>
<p>Aku pun merasakan bahwa dalam setiap diskusi dengan beliau, sangat sedikit teori yang disebutkan. Salah satu yang ingat saat membicarakan tentang memahami teori Marxisme melalui Das Kapital, buku yang diterjemahkannya. Menurut beliau, buku tersebut memang memberikan penjelasan yang cukup namun untuk memahaminya secara komprehensif, aku harus membaca tentang teori ekonomi dari Adam Smith. Tujuannya sederhana, untuk memahami sebuah teori, maka kita harus tahu teori apa yang ditentangnya. Sederhanya, kita harus paham basis dasar dari teori tersebut.</p>
<p>Yup, selama ini aku mempelajari Marxisme hanya dengan diskusi dan membaca berbagai buku. Aku lupa untuk mengetahui kenapa teori yang dibangun Karl Marx itu hadir. Yup, sebuah pembelajaran yang sangat penting dalam hidup.</p>
<p>Beliau juga memperkenalkan kepadaku cara membangun pendanaan dengan menggunakan solidaritas. Selama hidupnya, beliau ternyata aktif melakukan pengumpulan dana untuk berbagai kepentingan kemanusiaan di Indonesia. Dengan memanfaatkan jaringannya di beberapa negara eropa, TRK ternyata mendapatkan dana rutin dari sekelompok Indonesianis di Paris yang melakukan fund-raising dengan membuat pasar malam indonesia</p>
<p><strong>Kecewa namun tetap semangat&#8230;</strong></p>
<p>Beliau adalah salah satu dewan penasihat TRK. Sebenarnya beliau tidak terlalu perduli dengan posisi tersebut, hanya saja kami melihat bahwa figur dan peran Om Oey saat itu sangat dibutuhkan. Boleh dikatakan, dari beberapa orang dewan penasihat yang kami angkat, hanya beliau dan segelintir orang saja yang secara aktif memantau perkembangan TRK.</p>
<p>Saat terjadi kasus penggelapan dana TRK yang dilakukan oleh bendahara kami, sudah menjadi kewajibanku untuk memberitahukan kepada seluruh Dewan Penasihat tentang peristiwa tersebut. Jika beberapa beberapa orang Dewan Penasehat tersebut menyalahkan kami, maka Om Oey justru sebaliknya.</p>
<p>Awalnya aku takut untuk menyampaikan langsung ke beliau. Apalagi saat itu, kondisinya baru sembuh dari sakit sehingga khawatir kabar tersebut dapat menganggu kesehatan beliau. Akhirnya aku memberanikan diri menemuinya bersama seorang teman.</p>
<p>Saat selesai aku ceritakan kronologi kejadiannya, beliau ternyata sangat tenang. Tidak marah hanya saja terlihat sedikit kecewa dan bertanya, &#8220;lalu, apa yang akan kalian lakukan?&#8221; Setelah menjelaskan panjang lebar rencana kami, beliau menegaskan akan mendukung langkah yang akan diambil oleh teman-teman di TRK. Ini terbukti saat kami di&#8217;serang&#8217; oleh beberapa kawan yang merasa bahwa kesalahan tersebut harus ditanggung oleh kami.</p>
<p>Om Oey adalah sosok seorang guru dan sahabat yang selalu siap mendukung. Saat menerima kabar beliau berpulang melalui SMS, aku merasakan hilangnya sosok yang penuh semangat dan ideal. Semoga aku bisa tetap mengingat dan menjaga cita-cita terwujudnya bangsa yang merdeka&#8230;!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://syaldi.web.id/2009/05/belajar-dari-semangat-om-oey/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Melawan Budaya Pelupaan</title>
		<link>http://syaldi.web.id/2009/05/melawan-budaya-pelupaan/</link>
		<comments>http://syaldi.web.id/2009/05/melawan-budaya-pelupaan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 14 May 2009 22:17:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Syaldi Sahude</dc:creator>
				<category><![CDATA[Meja Kerja]]></category>
		<category><![CDATA[tragedi mei]]></category>
		<category><![CDATA[tragedi trisakti]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://syaldi.web.id/?p=919</guid>
		<description><![CDATA[Hiruk-pikuk situasi politik di negeri terasa hingga terasa membingungkan. Semuanya masyarakat seolah tersedot perhatiannya ke politik praktis yang tak mendidik. Media dengan gegap gempita mengangkat situasi tersebut demi mengejar rating dan iklan. Semuanya seolah berusaha melupakan sebuah peristiwa yang menandai catatan sejarah bangsa di bulan ini, Tragedi Trisakti dan Tragedi Mei 98. Peristiwa pada yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft" style="border: 1px solid black; margin: 2px 5px;" title="Mei 98" src="http://sekitarkita.com/wp-content/uploads/2009/05/mei-98.jpg" alt="" width="160" height="194" />Hiruk-pikuk situasi politik di negeri terasa hingga terasa membingungkan. Semuanya masyarakat seolah tersedot perhatiannya ke politik praktis yang tak mendidik. Media dengan gegap gempita mengangkat situasi tersebut demi mengejar rating dan iklan.</p>
<p>Semuanya seolah berusaha melupakan sebuah peristiwa yang menandai catatan sejarah bangsa di bulan ini, Tragedi Trisakti dan Tragedi Mei 98. Peristiwa pada yang terjadi pada 11 tahun yang lalu seolah hanya menjadi potongan fakta yang tidak penting dan layak untuk dingat kembali. Ribuan manusia yang menjadi korban untuk tonggak perubahan seolah menjadi angka statistik<span id="more-919"></span>.</p>
<p><strong>Pelupaan Sistematik</strong></p>
<p>Saat ini, Tragedi Trisakti dan Mei &#8217;98 mungkin hanya menjadi fragmen dalam kehidupan kita. Namun akan berbeda dengan mereka yang kerabat, anak, orang tua atau saudaranya yang menjadi korban dalam peristiwa tersebut. Empat keluarga harus kehilangan anak mereka yang ditembak oleh pasukan keamanan di Kampus Trisakti saat memperjuangkan kepentingan bangsa. Ratusan orang harus kehilangan harta bendanya karena penjarahan yang terjadi. Puluhan bahkan mungkin ratusan perempuan keturunan yang harus menanggung beban traumatik akibat penyerangan seksual yang dilakukan oleh sekelompok orang. Ribuan orang kehilangan sanak keluarganya karena dibakar dengan sengaja  secara sistematik oleh oknum.</p>
<p>Kedua tragedi tersebut tidak terlepas dari berbagai peristiwa kekerasan yang dilakukan oleh Negara terhadap warganya. Dengan latar belakang suasana ketidakpercayaan dan krisis multi-dimensi, pemerintah kemudian berkilah bahwa peristiwa tersebut adalah ekses dan gesekan yang terjadi di tengah masyarakat. Ya, inilah salah satu taktik yang digunakan agar masyarakat kemudian percaya dan kemudian berusahan sebuah pengalaman pahit.</p>
<p>Pemerintah juga berkilah bahwa banyak hal lain yang lebih penting saat ini harus diselesaikan oleh bangsa ini, sehingga menyelesaikan kasus peristiwa ini menjadi agenda kesekian. Terlebih lagi kecenderungan psikologis masyarakat yang ingin status quo dimanipulasi dengan pernyataan bahwa mengangkat peristiwa tersebut sama saja dengan mengungkit luka masa lalu. Kondisi ini dapat menyebabkan perpecahan di tengah bangsa dan mencitapkan ketidakstabilan</p>
<p>Masyarakat kemudian digiring ke dalam sebuah proses pelupaan secara sistemik. Dibantu oleh berbagai komponen dari kelompok agama hingga militer, pemerintah menciptakan situasi bahwa peristiwa masa lalu biarlah berlalu. Ibarat sebuah kesalahan, &#8220;marilah kita saling memafkan dan melupakan apa yang telah terjadi di masa lalu&#8221;</p>
<p><strong>Saatnya untuk Ingat!</strong></p>
<p>Dalam buku The Book of Laughing and Forgetting, Milan Kundera menyatakan bahwa perjuangan manusia melawan kekuasaan adalah perjuangan manusia melawan lupa menjadi sangat relevan. Kekuasaan akan selalu berusaha membuat kita melupakan apa yang telah terjadi sehingga mereka tetap berkuasa. Terry Eagleton melihat bahwa Politik Amnesia kemudian dilakukan untuk menutupi kejahatan sanga penguasa.</p>
<p>Sekuat apapun usaha tersebut, mereka yaang menjadi korban dan keluarganya tidak akan pernah melupakan peristiwa tersebut. Mereka akan terus membawanya dalam kehidupan mereka. Padahal yang mereka butuhkan hanyala pengakuan dan keadilan! Setelah intu, negara harus menjamin bahwa apa yang mereka alami di masa lalu dapat dicegah di masa yang akan datang.</p>
<p>Oleh karena itu, melawan kekuasaan yang tirani harus dibangun dengan membangun memori-memori kolektif di tengah masyarakat. Ceritakanlah kepada sahabat, kerabat atau orang yang berada di sekelilingmu tentang peristiwa tersebut. Memori koletif tersebut akan meng&#8217;hantui&#8217; pemerintah yang berkuasa bahwa mereka masih punya pekerjaan yang belum terselesaikan.</p>
<p>Ingatan kecil tentang sebuah peristiwa akan menjadi catatan penting di masa yang akan datang. Berilah semangat untuk mereka yang menjadi korban dan tidak henti &#8216;berteriak&#8217; untuk mengingatkan bahwa tragedi ini belum selesai. Jangan biarkan</p>
<p>Ingatlah demi masa depan!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://syaldi.web.id/2009/05/melawan-budaya-pelupaan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

