<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>House of Question &#187; Film</title>
	<atom:link href="http://syaldi.web.id/category/meja-kerja/film/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://syaldi.web.id</link>
	<description>Bertanyalah, jangan pernah berhenti bertanya.</description>
	<lastBuildDate>Thu, 22 Dec 2011 12:51:20 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
		<item>
		<title>The Take; Merebut Alat Produksi</title>
		<link>http://syaldi.web.id/2008/09/the-take-merebut-alat-produksi/</link>
		<comments>http://syaldi.web.id/2008/09/the-take-merebut-alat-produksi/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 07 Sep 2008 12:15:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Syaldi Sahude</dc:creator>
				<category><![CDATA[Film]]></category>
		<category><![CDATA[Argentina]]></category>
		<category><![CDATA[Expropriation]]></category>
		<category><![CDATA[Forja San Martin]]></category>
		<category><![CDATA[Gerakan Buruh]]></category>
		<category><![CDATA[IMF]]></category>
		<category><![CDATA[naomi klein]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.syaldi.web.id/?p=387</guid>
		<description><![CDATA[Judul: The Take Jenis: Dokumenter Sutradara: Avi Lewis Penulis: Naomi Klein Durasi 90 menit Deskripsi Singkat Film dokumenter berkisah tentang perjuangan sekelompok buruh pekerja sebuah perusahaan spare-part otomotif, Forja San Martin untuk mengambil alih perusahaan yang telah ditutup oleh pemiliknya. Perjuangan panjang mereka lalui, sistem peradilan tidak memihak dan lobby ke wakil pemerintah yang panjang. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Judul: The Take<br />
Jenis: Dokumenter<br />
Sutradara: Avi Lewis<br />
Penulis: Naomi Klein<br />
Durasi 90 menit</p>
<p><strong>Deskripsi Singkat</strong><br />
<img class="alignleft" style="border: 1px solid black; margin: 2px 5px;" title="The Take" src="http://farm2.static.flickr.com/1314/645307475_3a8211b9d0.jpg" alt="" width="72" height="107" />Film dokumenter berkisah tentang perjuangan sekelompok buruh pekerja sebuah perusahaan spare-part otomotif, Forja San Martin untuk mengambil alih perusahaan yang telah ditutup oleh pemiliknya. Perjuangan panjang mereka lalui, sistem peradilan tidak memihak dan lobby ke wakil pemerintah yang panjang. Pada akhirnya mereka berhasil mengambil alih pabrik dan berproduksi kembali. Kisah ini adalah wakil dari fenomena perjuangan kelompok buruh yang terjadi di Argentina.</p>
<p>Penuh dengan inspirasi bagi gerakan sosial, khususnya gerakan buruh ditengah arus besar globalisasi ekonomi. Kesan inilah yang akan muncul setelah menyaksikan film dokumenter ini. Film yang dibuat di Argentina mencoba menangkap proses perjuangan gerakan buruh dalam meraih hak mereka.<span id="more-387"></span></p>
<p><strong>“Manfaat” Hutang dari IMF bagi Argentina</strong><br />
Pada masa pemerintahan Carlos Menem, Argentina terbelit utang yang diberikan oleh International Monetary Fund (IMF). Sebelumnya, Carlos Menem menjalankan perbaikan program ekonomi dengan cara mem-privatisasi berbagai perusahaan sebagai salah satu kesepakatan dengan IMF untuk mendapatkan hutang. Seperti negara lainnya yang terbelit utang IMF, Argentina kemudian jatuh ke dalam krisis moneter dan politik yang berkepanjangan. Para pemodal yang mendapatkan keuntungan dari hutang tersebut kemudian menutup pabrik-pabrik mereka. Akibatnya, ribuan bahkan jutaan buruh kehilangan mata pencaharian mereka dan hidup dalam ketidak pastian.</p>
<p>Sekelompok aktivis bersama gerakan buruh kemudian melihat permasalahan ini kemudian membangun sebuah gerakan, <strong>Unemployed Workers Movement</strong> (MTD). Mereka kemudian menjalankan sebuah kampanye <strong>National Movement of Recovered Companies</strong> (NMRC) untuk mengambil alih pabrik sebagai alat produksi. Slogan mereka yang terkenal adalah <em>occupy</em> (duduki), <em>resist</em> (lawan) and <em>produce</em> (produksi)</p>
<p>Kondisi di atas menjadi latar belakang dari film dokumenter ini. Sebagai wakil dari sekian banyak fenomena, perjuangan sekelompok buruh suku cadang otomotif, Forja San Martin kemudian diangkat. Freddy Espinosa, salah seorang buruh yang terlibat dalam usaha tersebut menjadi obyek dalam film ini.</p>
<p>Freddy adalah salah satu buruh yang dulu bekerja di Forja San Martin. Kehidupan Freddy dan keluarganya saat masih bekerja dapat dikatakan berkecukupan. Mereka dapat membangun rumah dan menghidupi 2 putrinya dengan layak. Namun, kondisinya berbalik 180 derajat saat pabrik tempatnya kemudian ditutup dan ditinggalkan oleh pemiliknya. Freddy terlilit utang untuk menghidupi keluarganya.</p>
<p>Freddy bersama 30 orang mantan buruh Forja San Martin di dukung oleh NMRC berencana untuk mengambil alih Forja San Martin. Berbagai upaya mereka gunakan untuk mendapatkan ijin untuk mengambil alih Forja San Martin. Langkah awal yang mereka lakukan adalah melalui mekanisme hukum. Mereka harus mampu meyakinkan hakim yang menyidangkan tuntutan mereka bahwa mereka mampu mengoperasikan Forja San Martin. Usaha tersebut gagal…</p>
<p>Mereka kemudian mencoba melalui dewan (semacam DPR) untuk membuat semacam aturan yang mengesahkan pengambilalihan pabrik oleh serikat pekerja. Upaya panjang ini pada akhirnya berhasil, dewan kemudian mengeluarkan kebijakan yang memberikan kesempatan kepada serikat buruh untuk menjalankan Forja San Martin.</p>
<p>Sebelumnya, telah banyak fasilitas swasta yang ditinggalkan oleh para pemodal diambil alih oleh para pekerja. Instituto Comunicaciones (Sekolah), Clinica Medrano (Klinik Kesehatan), Astillero Almirante Brown (pembuatan kapal), Ghelco (es krim), Brukman (garmen) dan Zanello (traktor) adalah beberapa milik swasta yang telah diambil alih. Salah satu yang dianggap cukup berhasil adalah Zanon Ceramic (pabrik keramik).</p>
<p><strong>Mengambil-alih, solusi konkrit gerakan buruh…</strong></p>
<p><strong><em>Expropriation</em></strong>, pengambil alihan adalah kata digunakan oleh serikat buruh yang menduduki pabrik dan menjalankannya. Sebuah gagasan yang mungkin bagi sebagian orang awam sangat asing. Tidak sedikit juga yang meragukan bahwa gagasan ini mungkin dilakukan. Akan tetapi, gerakan buruh di Argentina telah membuktikan bahwa gagasan ini adalah hal yang mungkin. Bahkan gagasan ini telah menyebar di gerakan buruh Amerika Latin. Penguasaan buruh terhadap alat produksi adalah salah satu langkah maju untuk melawan laju globalisasi ekonomi dan politik yang hanya berpihak pada pemodal</p>
<p>Kunci keberhasilan gerakan buruh tersebut adalah semangat kolektifitas serta dukungan dari masyarakat. Secara bersama-sama, serikat buruh membicarakan langkah serta mengambil keputusan dalam menjalankan pabrik yang mereka ambil alih. Salah satu contoh-yang sekali lagi hampir tidak mungkin- adalah menerapkan gaji yang sama diantara para pekerja. Mereka juga saling bekerja sama diantara serikat pekerja, baik untuk mendapatkan bahan produksi atau distribusinya.</p>
<p>Dampak dari pengambil alihan tersebut juga dirasakan oleh masyarakat. Harga dari hasil produksi dapat ditekan dalam proses produksi. Masyarakat mendapatkan harga yang tidak mahal karena serikat pekerja dapat memangkas biaya produksi serta nilai lebih (keuntungan) yang masuk ke kantung para pemodal. Terlebih lagi, kesempatan kerja kembali terbuka bagi masyarakat</p>
<p>Pengambil alihan ini bukan berarti tidak mendapatkan perlawanan dari para pemodal. Setelah melihat pabrik yang ditinggalkan dapat berproduksi kembali, mereka kemudian berencana memiliki kembali. Alasan utama mereka adalah alat produksi tersebut adalah aset mereka. Politisi dan kepolisian mereka gunakan. Salah satu contoh konkrit adalah penutupan Brukman oleh polisi Argentina. Serikat buruh dianggap menduduki pabrik tersebut secara ilegal.</p>
<p>Perlawanan kemudian dilakukan oleh serikat pekerja bersama berbagai elemen gerakan sosial lainnya. Salah satu pendukung dari gerakan ini adalah Madres Plaza de Mayo. Mereka bersama-sama serikat buruh turun ke jalan dan menuntut dikembalikannya pabrik tersebut kepada para pekerja yang telah menjalankannya selama beberapa tahun.</p>
<p>Jika anda ingin mengetahui lebih lanjut tentang film ini, silahkan klik <a href="http://www.thetake.org/">www.thetake.org</a></p>
<p>dimuat di<a title="Sekitarkita" href="http://www.sekitarkita.com"> www.sekitarkita.com</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://syaldi.web.id/2008/09/the-take-merebut-alat-produksi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>In The Times of Butterflies; Perempuan, Simbol dan Gerakan</title>
		<link>http://syaldi.web.id/2008/08/in-the-times-of-butterflies-perempuan-simbol-dan-gerakan/</link>
		<comments>http://syaldi.web.id/2008/08/in-the-times-of-butterflies-perempuan-simbol-dan-gerakan/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 17 Aug 2008 21:58:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Syaldi Sahude</dc:creator>
				<category><![CDATA[Film]]></category>
		<category><![CDATA[Hak Asasi Manusia]]></category>
		<category><![CDATA[dominika]]></category>
		<category><![CDATA[gerakan]]></category>
		<category><![CDATA[kupu-kupu]]></category>
		<category><![CDATA[la miraposa]]></category>
		<category><![CDATA[minerva mirabal]]></category>
		<category><![CDATA[peran perempuan]]></category>
		<category><![CDATA[Perempuan]]></category>
		<category><![CDATA[simbol]]></category>
		<category><![CDATA[SIP]]></category>
		<category><![CDATA[spider]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.syaldi.web.id/?p=245</guid>
		<description><![CDATA[Tulisan ini sebenarnya aku buat untuk sebuah tugas kuliah di kampusku (dulu). Dalam artikel ini, aku coba melihat keterkaitan antara perempuan, simbol dan gerakan di film &#8220;In The Times of Butterflies&#8221;. Film yang mencerahkan dan tokoh utamanya dapat diperankan dengan baik oleh Salma Hayek. Film ini bercerita tentang perjuangan Mirabal bersaudara melawan diktator yang berkuasa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a class="flickr-image" title="in the time of butterflies" href="http://www.flickr.com/photos/19449578@N00/2793175902/"><img class="alignleft" style="border: 3px solid black; margin: 3px;" src="http://farm4.static.flickr.com/3089/2793175902_4c914d43e2_t.jpg" alt="in the time of butterflies" width="70" height="100" /></a>Tulisan ini sebenarnya aku buat untuk sebuah tugas kuliah di kampusku (dulu). Dalam artikel ini, aku coba melihat keterkaitan antara perempuan, simbol dan gerakan di film &#8220;In The Times of Butterflies&#8221;. Film yang mencerahkan dan tokoh utamanya dapat diperankan dengan baik oleh Salma Hayek.<span id="more-245"></span></p>
<p>Film ini bercerita tentang perjuangan Mirabal bersaudara melawan diktator yang berkuasa di Republik Dominika, Rafael Leonidas Trujillo. Dilatar belakangi oleh situasi politik yang represif di Republik Dominika pada tahun 1950-1960-an, film ini menggambarkan perjuangan Minerva Argentina Mirabal (Minerva). Dalam perjuangannya, Minerva bergabung dengan kelompok pembebasan yang beraliran komunis. Sebagai salah seorang pejuang pembebasan yang cukup berpengaruh, Minerva mendapatkan julukan la Miraposa (Kupu-kupu) sebagai sandi dalam gerakannya.</p>
<p>Perjuangan Minerva telah mengantarkan dirinya pada penderitaan yang berkepanjangan. Minerva harus terpisah dengan dua anaknya serta dipenjarakan dan mengalami penyiksaan. Tekanan dunia internasional terhadap rejim Trujillo membuat Minerva dan saudaranya dibebaskan. Trujillo menyadari bahwa Minerva dan dua saudaranya merupakan  salah satu ancaman bagi kekuasaannya. Pada tanggal 25 November 1960, Minerva dan tiga orang saudaranya kemudian dibunuh oleh orang suruhan dari Trujillo. Tanggal kematian Mirabal bersaudara kemudian diperingati sebagai hari anti kekerasan terhadap perempuan di seluruh dunia.</p>
<p><strong>Perempuan dan Simbol</strong></p>
<p>Yang akan saya soroti adalah penggunaan simbol kupu-kupu untuk tokoh Minerva dalam film In The Times of Butterflies. Dalam pemahaman umum, kupu-kupu selalu di identikan  dengan karakter perempuan; indah, penuh dengan pesona kecantikan, menggoda, lemah namun memberikan insprasi. Ini tidak jauh berbeda dengan apa yang ditampilkan dalam film ini. Minerva merupakan sosok perempuan yang cantik, menggoda, bersemangat,  enerjik dan pandai. Proses metamorfosa kupu-kupu dapat menggambarkan proses kesadaran Minerva sebagai seorang perempuan.</p>
<p>Dalam buku Spider and Spinters, perempuan selalu disimbolkan dengan keindahan dan lemah namun berbahaya dalam berbagai mitos. Di satu sisi, simbol keindahan terhadap perempuan selalu ditonjolkan dengan lemah lembutnya sifat seorang perempuan. Di sisi lain, ini dianggap sebagai berbahaya karena berbagai kemampuannya menaklukan dan memperdayai manusia.</p>
<p>La Miraposa menjadi tokoh sentral dalam menginsipirasikan perlawanan masyarakat terhadap Trujillo. Minerva tampil sebagai perempuan intelektual dan punya semangat perlawanan yang tinggi. Tokoh yang begitu dikagumi oleh hampir semua anggota gerakan perlawanan. Sebaliknya, di mata Trujillo, la Miraposa menjadi momok yang selalu mengintai tampuk kekuasaannya. Kecantikan Minerva menjadi daya pikatnya namun keberaniannya menjadi ancaman.</p>
<p>Peranan Minerva sebagai perempuan dalam sebuah keluarga merupakan hal yang lain. Konflik antara ‘peran’ seorang perempuan dalam sebuah keluarga dan seorang perempuan dalam gerekan menjadi latar belakang yang menarik dalam film ini. Minerva tetap dimunculkan sebagai seorang ‘perempuan’ yang lemah. Dia harus berhadapan mengasuh anak hingga memasak untuk sang suami</p>
<p><strong>Perempuan dan Gerakan<br />
</strong>Sejak awal saya mengenal dunia gerakan, jarang sekali terdengar tentang tokoh gerakan perempuan. Hampir semua gerakan yang dianggap berhasil selalu memunculkan seorang laki-laki sebagai figur tokoh. Terlepas bahwa terdapat kelompok perempuan dalam proses tersebut, mereka tidak pernah terdengar dalam sejarah. Justru yang sering muncul adalah cerita sebaliknya, bahwa perempuan sebagai kelompok yang lemah kerap menjadi kendala dalam sebuah proses perjuangan.</p>
<p>Setelah menyaksikan film di atas, berbagai cerita tentang peranan perempuan seperti terpanggil dalam memori. Saya kemudian teringat berbagai cerita tentang peranan perempuan Aceh dalam upaya melawan penjajahan Belanda, Cut Nyak Dien misalnya. Akan tetapi, tetap saja ceritanya tidak pernah terlepas dari peranan suaminya, Teuku Umar. Perempuan seakan berada di bawah bayang-bayang laki-laki. Perempuan kemudian diposisikan sebagai kelompok yang lemah, mudah dimanipulasi, dan tanpa pendirian dalam cerita gerakan.</p>
<p>Begitu juga dengan cerita La Miraposa, peranan suaminya digambarkan begitu kuat. Minerva sempat goyah saat melihat sang suami mengalami siksaan namun dia bergeming, tetap pada pendiriannya. Yang menjadi menarik adalah kemampuan seorang perempuan dalam berjuang akan tetapi tetap melaksanakan fungsinya sebagai seorang perempuan sesuai dengan norma sosial yang ada di masyarakat. Teringat lagi pada cerita yang disampaikan oleh kelompok ibu-ibu yang tergabung dalam Suara Ibu Peduli (SIP) yang harus pandai mengatur di mana mereka berfungsi sebagai seorang ibu dan seorang aktifis.</p>
<p><strong>Sebuah pemahaman terhadap perempuan; sebuah dilema… </strong><br />
Selama ini yang saya pahami tentang seorang perempuan tidak lebih dari seorang manusia yang berbeda jenis kelaminnya dengan seorang laki-laki- sebagai seorang manusia dengan berkelamin laki-laki. Dilahirkan dengan ajaran Islam yang konservatif, perempuan kemudian saya pandang berderajat lebih rendah dari pada laki-laki. Perempuan disimbolkan sebagai makhluk penggoda.</p>
<p>Setelah dewasa, di mana terdapat proses yang panjang dalam meruntuhkan pandangan lama kemudian membangun pemahaman baru tentang sosok seorang perempuan. Tidak mudah merekonstruksi kembali pandangan tentang perempuan dalan pemikiran saya sebagai manusia dengan berbagai pengalaman empirik serta teori yang bertebaran tentang keperempuanan. Tatkala, pemahaman tersebut telah terbangun, yang menjadi masalah berikutnya adalah pelaksanaannya.</p>
<p>Dalam berbagai tindakan dan sikap yang berhubungan dengan perempuan, selalu saja muncul rasa “kelaki-lakian” yang mengganggu. Upaya melakukan internalisasi pemahaman tentang perempuan kemudian menjadi dilema yang tiada akhir. Sebagai seorang laki-laki yang berusaha untuk menjadi feminis masih sangat kental dipengaruhi oleh machoisme yang terbangun oleh norma sosial. Perempuan yang juga kerap kali terkungkung dalam budaya patriarki-sadar maupun tidak sadar- telah memberikan ruang untuk penindaan terhadap dirinya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://syaldi.web.id/2008/08/in-the-times-of-butterflies-perempuan-simbol-dan-gerakan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kekexili; Mountain Patrol</title>
		<link>http://syaldi.web.id/2008/07/kekexili-mountain-patrol/</link>
		<comments>http://syaldi.web.id/2008/07/kekexili-mountain-patrol/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 26 Jul 2008 04:52:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Syaldi Sahude</dc:creator>
				<category><![CDATA[Film]]></category>
		<category><![CDATA[antelop]]></category>
		<category><![CDATA[cina]]></category>
		<category><![CDATA[kekexili]]></category>
		<category><![CDATA[konservasi]]></category>
		<category><![CDATA[mountain patroli]]></category>
		<category><![CDATA[tibet]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.syaldi.web.id/?p=136</guid>
		<description><![CDATA[Aku sudah lama menonton film ini. Ada rasa yang membuncah saat selesai menonton film ini. Antara prinsip dan pragmatis, militansi dan pilihan menyatu dalam aksi konkrit! Film ini tidak akan anda temukan di bioskop terkenal. You must watch this movie! Judul : Kekexili; Mountain Patrol Jenis : Drama Aksi Sutradara : Chuan Lu Pemain : [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://syaldi.web.id/wp-content/uploads/2008/07/mountain_patrol.jpg"><img class="alignright size-thumbnail wp-image-1024" title="mountain_patrol" src="http://syaldi.web.id/wp-content/uploads/2008/07/mountain_patrol-150x150.jpg" alt="mountain_patrol" width="150" height="150" /></a></p>
<p class="badan">Aku sudah lama menonton film ini. Ada rasa yang membuncah saat selesai menonton film ini. Antara prinsip dan pragmatis, militansi dan pilihan menyatu dalam aksi konkrit! Film ini tidak akan anda temukan di bioskop terkenal. <em>You must watch this movie!</em><span id="more-136"></span></p>
<p class="badan">Judul		: Kekexili; Mountain Patrol<br />
Jenis		: Drama Aksi<br />
Sutradara	                : Chuan Lu<br />
Pemain	                : Duoboji, Zhang Lei, Qi Liang<br />
Durasi		: 90 menit<br />
Tahun Produksi        : 2004</p>
<p><strong>Deskripsi Singkat </strong></p>
<p>Film ini di awali dengan sebuah adegan perburuan Antelop di dataran Kekexili, Tibet yang kemudian berlanjut pembunuhan seorang patroli gunung. Patroli Gunung tersebut adalah kelompok relawan yang berusaha untuk menjaga habitat Antelop Tibet. Berita kematian penjaga gunung telah mengundang perhatian salah satu surat kabar di Beijing yang mengirimkan seorang wartawannya. Wartawan tersebut kemudian mengikuti perjalanan para patroli untuk mengetahui sepak terjang kelompok ini. Ganasnya alam dan kurangnya sumber daya telah membuat mereka harus kehilangan sebagian besar anggotanya. Pada akhirnya, perjuangan mereka tercapai. Walaupun harus mereka tebus dengan kematian sebagian besar anggota mereka</p>
<p><strong>Kisah Para Patroli Gunung </strong></p>
<p>Kekexili, sebuah dataran di Tibet yang berada di ketinggian 4.700 m dpl (dari permukaan laut) merupakan satu-satunya daerah yang menjadi tempat hidup Antelop Tibet. Pada tahun 1983, para pemburu mulai memburu antelop Tibet. Mereka mengambil bulu Antelop Tibet sebagai bahan wol yang harganya sangat mahal di pasaran luar negeri. Hanya dalam beberapa tahun, populasi Antelop tibet turun drastis. Dari satu juta ekor menjadi tidak lebih sepuluh ribu ekor. Perlahan tapi pasti, antelop tibet menuju kepunahan.</p>
<p>Film ini diangkat dari sebuah kisah nyata Patroli Gunung Kekexili (Kekexili Mountain Patrol), kelompok sukarelawan yang mencoba menjaga kawasan liar Kekexili. Kelompok sukarelawan tersebut dibentuk oleh Ritai pada tahun 1993 harus berhadapan dengan para pemburu Antelop Tibet. Saat itu, Kekexili belum menjadi kawasan cagar alam. Ritai dan kelompoknya berusaha untuk memperjuangkan Kekexili sebagai kawasan konversasi alam bagi habitat antelop tibet..</p>
<p>Ga Yu, Seorang wartawan dari Beijing kemudian ditugaskan untuk meliput sepak terjang dari kelompok ini. Pada awalnya, kedatangan Ga Yu di sambut dingin oleh Ritai. Namun sikap tersebut berubah saat Ga Yu dapat meyakinkan bahwa dia akan membantu perjuangan Patroli Gunung untuk mendapatkan status cagar alam bagi Kekexili.</p>
<p>Pada 1 November 1996, para patroli gunung bersama Ga Yu berangkat menuju dataran Kekexili untuk melakukan patroli rutin. Dengan membawa persenjataan dan perbekalan, mereka berangkat dengan rasa haru. Setiap keberangkatan patroli gunung, dianggap sebagai titik perpisahan setiap orang dalam kelompok tersebut, baik itu dengan keluarga maupun anggota lainnya. Kematian adalah taruhan bagi setiap orang tergabung dalam patroli gunung.</p>
<p>Tidak lama setelah melakukan patroli, mereka menemukan ratusan bangkai antelop tibet yang telah dikuliti oleh para pemburu antelop tibet. Kesedihan bercampur dengan kemarahan membuat mereka kemudian mengejar para pemburu. Tantangan alam serta terbatasnya logistik tidak membuat gentar. Mereka terus mengejar para pemburu. Pada akhir cerita, setelah kelompoknya tercerai berai, Ritai tewas ditembak oleh para pemburu. Kematian Ritai disaksikan oleh Ga Yu yang berada di bawah todongan senjata.</p>
<p>Dalam film ini, anda dapat menyaksikan panorama pegunungan Tibet yang indah yang begitu rupa di kemas dengan baik. Selain itu, aransemen musik tradisional tibet seakan terus mengiringi sepanjang menyaksikan film ini. Tidak salah jika Mountai Patrol meraih penghargaan dalam beberapa festival skala internasional, yaitu; Winner Special Jury Price dalam Tokyo International Film Festival, Best Film-Best Cinematography dalam 2004 Golden Horse Awards dan Don Quixote Ward dalam 2005 Berlin Film Festival.</p>
<p><strong>Kelompok Relawan Yang Bertaruh Hidup</strong></p>
<p>Terdapat beberapa hal menarik yang dapat kita tarik dari film ini. Pertama, semangat para patroli gunung untuk melindungi dataran Kekexili dari para pemburu. Mereka bahkan harus mempertaruhkan hidup mereka dalam bekerja. Ganasnya alam serta para pemburu yang tidak segan membunuh adalah acaman yang harus mereka hadapi.</p>
<p>Kedua, semangat kerelawanan yang begitu tinggi hingga dapat menggerakan para patroli gunung untuk melaksanakan tugasnya. Selama tiga berjalan, para patroli gunung tidak mendapatkan bantuan apapun dari pemerintah yang berkuasa. Mereka dengan terpaksa menjual sebagian kecil bulu antelop hasil sitaan untuk kebutuhan patroli. Mereka gunakan hasilnya untuk membeli senjata, amunisi dan kebutuhan selama bekerja.</p>
<p>Ketiga, nilai persahabatan yang mereka junjung. Kebersamaan yang begitu kuat terbangun di antara para anggota kelompok. Masa sulit yang mereka lalui bersama serta kepercayaan terhadap sahabat mereka menjadi pondasi yang kuat. Tergambar dengan jelas dalam film ini, setiap perpisahan merupakan titik awal dari kematian bagi para patroli gunung. Walaupun menyadari bahwa resiko menjadi seorang patroli gunung adalah kematian, mereka tidak bisa menyembunyikan kesedihan mereka saat salah satu dari mereka gugur dalam tugas.</p>
<p>Dengan latar belakang alam yang indah-namun mematikan-, film ini sarat dengan pemandangan pegunungan Tibet yang menawan. Hamparan putih salju yang tenang menghanyutkan diselingi dengan badai salju yang dashyat. Gurun yang tampak tenang dapat berubah menjadi tempat yang berbahaya.</p>
<p>Perjuangan Patroli Gunung pada akhirnya tercapai. Laporan yang dibuat oleh Ga Yu telah menghentak masyrakat Cina. Pemerintah Cina kemudian mengumumkan bahwa Kekexili adalah kawasan konservasi alam dan membentuk patroli gunung untuk melakukan perlindungan tersebut. Sampai saat ini, perjuangan para patroli gunung terus dikenang. Bahkan, perjuangan mereka dilanjutkan oleh para pencinta alam dengan berbagai cara. JIka anda tertarik untuk mengetahui tentang Kekexili, silahkan kunjungi <a href="http://www.kekexili.com/english" target="_blank">http://www.kekexili.com/english</a></p>
<p><strong>Syaldi, Redaktur Sekitarkita</strong></p>
<p>Catatan: Review ini sudah dimuat di <a href="http://www.sekitarkita.com">www.sekitarkita.com</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://syaldi.web.id/2008/07/kekexili-mountain-patrol/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>I Am Legend</title>
		<link>http://syaldi.web.id/2008/02/i-am-legend/</link>
		<comments>http://syaldi.web.id/2008/02/i-am-legend/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 13 Feb 2008 16:23:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Syaldi Sahude</dc:creator>
				<category><![CDATA[Film]]></category>
		<category><![CDATA[Bob Marley]]></category>
		<category><![CDATA[Francis Lawrence]]></category>
		<category><![CDATA[I Am Legend]]></category>
		<category><![CDATA[Will Smith]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://syaldi.wordpress.com/?p=63</guid>
		<description><![CDATA[Judul: I Am Legend Sutradara: Francis Lawrence Penulis: Mark Protosevich, Akiva Goldsman Durasi: 101 menit Tahun: 2007 Film ini tidak terlalu istimewa buatku, malah bisa aku bilang biasa-biasa saja. Seperti film produksi Hollywood kebanyakan yang menceritakan tentang kehebatan tokohnya dan seterusnya. Anda bisa menebaklah hasil akhirnya. Aku tertarik menonton film ini karena beberapa temanku merekomendasikan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Judul: I Am Legend<br />
Sutradara: Francis Lawrence<br />
Penulis: Mark Protosevich,  Akiva Goldsman<br />
Durasi: 101 menit<br />
Tahun: 2007<span id="more-67"></span></p>
<p>Film ini tidak terlalu istimewa buatku, malah bisa aku bilang biasa-biasa saja. Seperti film produksi Hollywood kebanyakan yang menceritakan tentang kehebatan tokohnya dan seterusnya. Anda bisa menebaklah hasil akhirnya. Aku tertarik menonton film ini karena beberapa temanku merekomendasikan untuk menontonnya. Ya, di samping karena dapat pinjaman DVD bajakan dari seorang teman&#8230;</p>
<p>Film ini mengangkat kisah seorang dokter Robert Neville (Will Smith) yang menjadi &#8220;satu-satu&#8221;nya manusia yang selamat dari sebuah virus. Film ini diawali tentang penemuan virus yang diyakini dapat menyembuhkan kanker. Namun, penemuan itu kemudian menjadi bencana karena mengubah metabolisme tubuh manusia menjadi kacau. Manusia kemudian berubah menjadi seperti zombie dan takut pada cahaya.</p>
<p>Penyebaran virus yang begitu cepat membuat kepanikan di Kota New York sehingga terjadi pengungsian besar-besaran. Untuk menghentikan penyebaran virus, Pemerintah Amerika Serikat kemudian mengkarantina New York. Pada saat itulah dr. Robert Neville harus kehilangan kelaurganya. Kota New York kemudian berubah menjadi kota mati dan tak &#8220;berpenghuni&#8221;. Robert Neville adalah satu-satunya manusia yang selamat dan mencoba bertahan hidup.</p>
<p>Sebagaian besar cerita film ini mengangkat aspek survival Robert Neville sebagai seorang manusia. Dia harus waspada di malam hari karena manusia yang telah berubah menjadi zombie keluar untuk mencari makan. Perjuangannya untuk mencari anti virus dari tersebut mendorongnya untuk terus bertahan bahkan harus berhadapan dengan Zombie untuk menjadi percobaan.</p>
<p>Bagaimana dia hidup di tengah hutan beton bersama binatang liar menjadi bagian yang menarik buatku. Ditambah lagi beberapa lagu Bob Marley yang mengiringi film tersebut menjadi daya tarik.</p>
<p>Ya&#8230; seperti penyakit film Hollywood lainnya, I Am Legend berakhir dengan berkibarnya bendera Amerika dengan embel-embel tentara pula di sebuah shelter buat mereka yang selamat dari virus tersebut.</p>
<p>Rekomendasiku: Buat yang suka nonton film festival, jangan tonton film ini. BIASA BANGET&#8230;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://syaldi.web.id/2008/02/i-am-legend/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Super Size Me: Bahaya McDonald&#8217;s!</title>
		<link>http://syaldi.web.id/2007/10/super-size-me/</link>
		<comments>http://syaldi.web.id/2007/10/super-size-me/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 16 Oct 2007 11:12:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Syaldi Sahude</dc:creator>
				<category><![CDATA[Film]]></category>
		<category><![CDATA[junk food]]></category>
		<category><![CDATA[Mc Donald's]]></category>
		<category><![CDATA[morgan spurlock]]></category>
		<category><![CDATA[obesitas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://syaldi.wordpress.com/2007/10/16/super-size-me/</guid>
		<description><![CDATA[Judul: Super Size Me Jenis: Dokumenter Sutradara: Morgan Spurlock Penulis: Morgan Spurlock Durasi: 100 menit Tahun: 2003 Deskripsi Singkat Film dokumenter ini mengisahkan percobaan sangat ekstrem yang dilakukan oleh Morgan Spurlock untuk menunjukkan dampak junk food terhadap kesehatan manusia. Percobaan itu dilakukannya selama 30 hari hanya dengan mengkonsumsi menu yang tersedia di McDonald’s. Dalam waktu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="wp-caption alignright" style="width: 135px"><img style="border: 1px solid black; margin: 2px 5px;" src="http://farm3.static.flickr.com/2305/1587294552_bfee17d5f0.jpg" border="5" alt="" width="125" height="200" align="right" /><p class="wp-caption-text">Super Size Me </p></div>
<p>Judul: Super Size Me<br />
Jenis: Dokumenter<br />
Sutradara: Morgan Spurlock<br />
Penulis: Morgan Spurlock<br />
Durasi: 100 menit<br />
Tahun: 2003</p>
<p><strong>Deskripsi Singkat</strong></p>
<p>Film dokumenter ini mengisahkan percobaan sangat ekstrem yang dilakukan oleh Morgan Spurlock untuk menunjukkan dampak junk food terhadap kesehatan manusia. Percobaan itu dilakukannya selama 30 hari hanya dengan mengkonsumsi menu yang tersedia di McDonald’s. Dalam waktu satu minggu, percobaanya sudah menunjukkan dampak buruknya, ketagihan dan bertambahnya berat badan serta terganggunya fungsi organ tubuh lainnya. Pada akhir film ini, anda dapat melihat dampak mengkonsumsi junk food dalam periode tertentu.</p>
<p>Anda senang makan di McDonald’s (McD)? Atau di Kentucky Fried Chicken (KFC) atau counter fast food lainnya? Jika iya, maka anda harus menyaksikan film dokumenter ini dan berpikir kembali apakah anda akan memakan junk food tersebut secara rutin.Memberikan satu bukti nyata tentang bahaya junk food dibandingkan dengan hasil penelitian yang terkadang membingungkan. Sungguh mengerikan, kita membeli dengan harga yang cukup mahal hanya untuk meracuni tubuh kita sendiri!</p>
<p><strong>McDonald’s = Junk Food = Penyakit!</strong></p>
<p><a class="flickr-image" title="macdonald_cartoon.jpg" rel="flickr-mgr" href="http://www.flickr.com/photos/19449578@N00/3271872872/"><img class="flickr-medium alignleft" style="border: 1px solid black; margin: 2px 5px;" src="http://farm4.static.flickr.com/3509/3271872872_e874f39bb7_m.jpg" alt="macdonald_cartoon.jpg" width="240" height="169" /></a>Masalah obesitas (kegemukan) di Amerika Serikat (AS) yang terus meningkat dengan pesat menjadi latar belakang film ini. Seseorang yang mengalami obesitas akan sangat rentan terhadap berbagai macam penyakit seperti diabetes, hipertensi, gagal jantung dan banyak lagi. Obesitas menjadi pembunuh kedua setelah rokok di AS. Salah satu faktor utama dari masalah obesitas ini adalah pola makan yang tidak sehat. Banyak warga AS yang mengkonsumsi fast food, baik untuk sarapan, makan siang, bahkan makan malam. Tentu saja, AS adalah “surga” junk-food di dunia, anda akan dengan mudah menemukan counter fast food dengan berbagai merek.</p>
<p>Morgan Spurlock memulai film ini dengan rencana melakukan percobaan-yang menurut penulis-ektrem dengan mengkonsumsi junk food selama 30 hari penuh. Dia akan mengkonsumsi junk food mulai dari sarapan pagi hingga makan malam. Ditambah lagi dengan membatasi jumlah langkah yang tentu saja berkontribusi untuk membakar kalori di dalam tubuh. Sebelum memulai percobaan ini, dia memeriksa kesehatannya ke tiga dokter spesialis yang beda dan satu ahli nutrisi dan kesehatan. Hasil pemeriksaan tersebut akan digunakan sebagai perbandingan selama percobaan tersebut.</p>
<p>Dari sekian banyak produsen junk food, Morgan memilih menu yang disediakan McD sebagai percobaan. McD dipilih dengan beberapa alasan; pertama, McD adalah produsen terbesar junk food di AS. Mereka menguasai 34% dari pasar junk food di AS. Anda akan dengan mudah menemukannya di pusat bisnis, bandara, jalan umum bahkan rumah sakit umum. Kedua, Produk McD dapat kita temui dengan mudah hampir di seluruh dunia. Sebagai gambaran, Mcd melayani 46 juta orang per hari. Anda bisa bayangkan, itu berarti sekitar ¼ jumlah penduduk Indonesia?</p>
<p>Morgan kemudian memulai percobaannya dengan mengkonsumsi menu McD di berbagai gerai dengan menu yang berbeda. Dia berkeliling ke beberapa Negara bagian untuk mengunjungi gerai McD. Dalam waktu 5 hari, berat badannya bertambah 5 %, dari 185 lbs (84 kg) menjadi 195 lbs (88,5 kg). Pada hari ke-7, Morgan sudah merasakan perubahan di badannya. Dia merasakan ada sesuatu yang tidak beres pada bagian dadanya. Hari ke-8, Morgan merasa tidak nyaman jika tidak memakan junk food. Artinya, dia sudah masuk pada tahap ketagihan.</p>
<p>Hari ke-12, Morgan kemudian menimbang kembali berat badannya. Anda bisa tebak, berat badannya bertambah menjadi 203 lbs. Hari ke-17, pacar Morgan mengungkapkan bahwa terjadi perubahan pada perilaku Morgan. Menurutnya, Morgan menjadi gampang lelah, moody dan kehilangan gairah dalam hubungan mereka. Saat dilakukan pemeriksaan kesehatan, terlihat jelas kenaikan yang signifikan dari kandungan darahnya. Kadar kolesterol dan gula dalam darahnya menunjukkan kenaikan serta terlihat gejala gangguan pada hatinya. Melihat kondisi ini, dokter yang memeriksa Morgan menyarankan agar segera menghentikan percobaan ini. Namun morga bersikeras untuk menyelsaikan percobaannya. Perubahan yang pelan tapi pasti.</p>
<p>Pada hari terakhir, berat badan Morgan menjadi 210 lbs (95 kg). Selain itu dari hasil pemeriksaan yang dilakukan oleh dokter yang mendampinginya terdapat beberapa catatan yang mencengangkan. Kadar kolesterol dan gula dalam darah Morgan bertambah dengan drastis. Tekanan darahnya jauh berada di atas normal. Dia terancam 2 kali lebih rentan terhadap penyakit dan gagal jantung serta perubahan perilaku. Yang paling terlihat adalah, tumpukan lemak yang bersembunyi di perut terlihat jelas alias menjadi lebih buncit. Ketiga dokter yang mendampinginya pun tidak dapat mempercayai apa yang mereka temukan dari percobaan ini. Akhir kata, mereka menyarankan: jangan pernah makan junk food!</p>
<p>Untuk mengembalikan kondisi kesehatannya, Morgan harus berjuang lebih lama. Dia harus melakuan detoksifikasi melalui makanan organik selama 8 minggu agar jantung dan hatinya bisa kembali normal. Sementara untuk berat badannya, Morgan membutuhkan waktu lebih dari satu tahun untuk kembali normal.</p>
<p>Film ini meraih penghargaan di Festival Film Sundance 2004 dan Festival Film Edinburgh 2004 untuk kategori sutradara terbaik.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://syaldi.web.id/2007/10/super-size-me/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

