<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>House of Question</title>
	<atom:link href="http://syaldi.web.id/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://syaldi.web.id</link>
	<description>Bertanyalah, jangan pernah berhenti bertanya.</description>
	<lastBuildDate>Wed, 28 Oct 2009 01:13:34 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.4</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Akses Internet Dijamin Undang-undang di Finlandia</title>
		<link>http://syaldi.web.id/2009/10/akses-internet-dijamin-undang-undang-di-finlandia/</link>
		<comments>http://syaldi.web.id/2009/10/akses-internet-dijamin-undang-undang-di-finlandia/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 27 Oct 2009 06:06:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Syaldi Sahude</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hak Asasi Manusia]]></category>
		<category><![CDATA[Teknologi, Komunikasi dan Informasi]]></category>
		<category><![CDATA[akses internet]]></category>
		<category><![CDATA[Internet]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://syaldi.web.id/?p=1030</guid>
		<description><![CDATA[<p>Pagi tadi, aku membaca sebuah surat elektronik yang menarik di sebuah mailing list (milis)  yang dikelola oleh HURIDOCS dan HREA. Surat tersebut berisi informasi bahwa Finlandia telah membuat regulasi (undang-undang) tentang akses internet bagi warga negaranya dimulai Juli 2009. Bahkan tidak tanggung-tanggung, pemerintah Finlandia juga menetapkan bahwa setiap warganya berhak untuk mendapatkan akses internet dengan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://syaldi.web.id/wp-content/uploads/2009/10/ADL_Internet_Censorship.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-1034" title="ADL_Internet_Censorship" src="http://syaldi.web.id/wp-content/uploads/2009/10/ADL_Internet_Censorship-150x150.jpg" alt="ADL_Internet_Censorship" width="150" height="150" /></a>Pagi tadi, aku membaca sebuah surat elektronik yang menarik di sebuah mailing list (milis)  yang dikelola oleh <a href="http://www.hurdicos.org" target="_blank">HURIDOCS</a> dan <a href="http://www.hrea.org" target="_blank">HREA</a>. Surat tersebut berisi informasi bahwa <a href="http://edition.cnn.com/2009/TECH/10/15/finland.internet.rights/" target="_blank">Finlandia telah membuat regulasi (undang-undang) tentang akses internet bagi warga negaranya dimulai Juli 2009</a>. Bahkan tidak tanggung-tanggung, pemerintah Finlandia juga menetapkan bahwa setiap warganya berhak untuk mendapatkan akses internet dengan kecepatan minimal 1 mbps. Itu artinya, sekitar 5,2 juta warga negaranya memiliki hak secara legal dan dijamin oleh negara untuk mendapatkan akses internet. Bahkan pemerintah Finlandia mentargetkan pada tahun 2015, kecepatan akses bisa mencapai 100 mbps! <span id="more-1030"></span></p>
<p>Patut diacungi jempol keberanian pemerintah Finlandia meregulasi hal tersebut.  Konsekuensi dari regulasi tersebut tentu saja adalah penyediaan dana dan infrastruktur untuk masalah akses tersebut. Ada kewajiban untuk melakukan berbagai upaya agar semua warga negaranya mendapatkan akses internet dengan mudah. Mungkin hal tersebut bukan yang sulit karena hampir 95% penduduk Finlandia memiliki akses internet.</p>
<p>Langkah yang dilakukan oleh Finlandia seolah dua langkah lebih maju dibandingkan dengan PBB  yang saat ini tengah membahas apakah akses ke internet sebagai bagian dari hak asasi manusia. Pertama, Finlandia mengakui bahwa akses internet sebagai salah satu komponen dalam pelayanan publik adalah hak warga negara mereka. Kedua adalah berani melakukan regulasi kecepatan akses internet minimal bagi warga negaranya.</p>
<p>Sebenarnya langkah yang diambil oleh Finlandia bukanlah hal yang luar biasa. Negara ini tercatat sebagai salah satu negara yang menjunjung kebebasan pers. Menurut Reporters San Fronties, Finlandia menepati rangking pertama pada <a href="http://www.rsf.org/en-classement1003-2009.html" target="_blank">Indeks kebebasan pers</a> dengan nilai 0. Finlandia juga tercatat sebagai salah satu negara yang memiliki tingkat transparansi dan akuntabilitas yang sangat baik. Dalam <a href="http://www.transparency.org/policy_research/surveys_indices/cpi/2008" target="_blank">Indeks Persepsi Korupsi</a> yang dikeluarkan oleh Tranparancy International, Finlandia menempati urutan kelima di bawah beberapa negara seperti Denmark dan Singapura.</p>
<p>Jadi jelas sudah kenapa Finlandia cukup berani mengambil langkah tersebut. Lalu muncul pertanyaan, bagaimana di Indonesia? Hmm&#8230; mungkin masih sangat jauh. Dari 240 juta penduduk Indonesia, baru sekitar 25 juta yang memiliki akses ke internet atau sekitar 10%. Itupun dengan koneksi yang sangat buruk!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://syaldi.web.id/2009/10/akses-internet-dijamin-undang-undang-di-finlandia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengetahui Gempa dengan Browser Anda</title>
		<link>http://syaldi.web.id/2009/10/mengetahui-gempa-dengan-browser-anda/</link>
		<comments>http://syaldi.web.id/2009/10/mengetahui-gempa-dengan-browser-anda/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 13 Oct 2009 19:00:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Syaldi Sahude</dc:creator>
				<category><![CDATA[Teknologi, Komunikasi dan Informasi]]></category>
		<category><![CDATA[add-ons]]></category>
		<category><![CDATA[firefox]]></category>
		<category><![CDATA[gempa]]></category>
		<category><![CDATA[mozilla]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://syaldi.web.id/?p=1017</guid>
		<description><![CDATA[<p></p>
<p>Banyak orang yang tidak tahu bahwa hampir setiap hari terjadi gempa di bumi ini, meskipun hampir keseluruhannya dalam skala kecil. Awalnya aku juga tidak bisa percaya bahwa setiap hari gempa di bumi ini. Namun setelah gempa beruntun yang terjadi Indonesia, membuatku berpikir ulang.</p>
<p>Setelah membaca beberapa bahan dari pencarian di Internet, aku baru mengetahui sedikit tentang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://syaldi.web.id/wp-content/uploads/2009/10/4_1_5_0_earthquakes_022.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-1020" title="4_1_5_0_earthquakes_02" src="http://syaldi.web.id/wp-content/uploads/2009/10/4_1_5_0_earthquakes_022-150x150.jpg" alt="4_1_5_0_earthquakes_02" width="150" height="150" /></a></p>
<p>Banyak orang yang tidak tahu bahwa hampir setiap hari terjadi gempa di bumi ini, meskipun hampir keseluruhannya dalam skala kecil. Awalnya aku juga tidak bisa percaya bahwa setiap hari gempa di bumi ini. Namun setelah gempa beruntun yang terjadi Indonesia, membuatku berpikir ulang.</p>
<p>Setelah membaca beberapa bahan dari pencarian di Internet, aku baru mengetahui sedikit tentang masalah ini. Bumi ibarat makhluk hidup yang terus bergerak dan mengakibatkan terjadinya pergeseran lempeng. Pergeseran tersebut mengakibatkan pergesekan lempeng sehingga dapat menyebaban terjadinya gempa tektonik atau vulkanik. Bayangkan, setiap hari bisa terjadi 1000 kali gempa yang berskala 2 &#8211; 3 magnitude.</p>
<p>Untuk membuktikannya anda bisa mengunjungi situs <a href="http://earthquake.usgs.gov/eqcenter/" target="_blank">US Geological Survey</a> untuk mendapatkan informasi tersebut. Selain itu, anda juga bisa mendapatkan informasi tentang kejadian gempa melalui browser anda. Syaratnya anda harus menggunakan Mozilla Firefox sehingga menginstall satu add-ons di browser tersebut. <a href="https://addons.mozilla.org/en-US/firefox/addon/2239">eQuake Alert</a> memberikan informasi terkini tentang peristiwa gempa di seluruh dunia. Anda dapat mengatur getaran yang terlihat di browser anda jika terjadi gempa dalam skala tertentu.</p>
<p>Teknologi ini bisa digunakan sebagai salah satu alat <em>early warning system</em> bagi masyarakat Indonesia yang hidup di atas wilayah rawan bencana.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://syaldi.web.id/2009/10/mengetahui-gempa-dengan-browser-anda/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Keinginan adalah Sumber Penderitaan</title>
		<link>http://syaldi.web.id/2009/10/keinginan-adalah-sumber-penderitaan/</link>
		<comments>http://syaldi.web.id/2009/10/keinginan-adalah-sumber-penderitaan/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 10 Oct 2009 00:30:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Syaldi Sahude</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pertanyaan hari ini]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://syaldi.web.id/?p=951</guid>
		<description><![CDATA[<p>Judul di atas adalah bait lagu dari Iwan Fals yang berjudul Seperti Matahari. Saat mendengar lagu ini, aku kemudian teringat beberapa fenomena yang terjadi di sekelilingku saat ini. Sepertinya, kalimat di atas sangat tepat untuk menggambarkan fenomena tersebut.</p>
<p>Adikku saat ini terbaring sakit karena dia tidak mampu mengontrol berbagai keinginannya sehingga tekanan di dalam dirinya memuncak. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Judul di atas adalah bait lagu dari Iwan Fals yang berjudul Seperti Matahari. Saat mendengar lagu ini, aku kemudian teringat beberapa fenomena yang terjadi di sekelilingku saat ini. Sepertinya, kalimat di atas sangat tepat untuk menggambarkan fenomena tersebut.</p>
<p>Adikku saat ini terbaring sakit karena dia tidak mampu mengontrol berbagai keinginannya sehingga tekanan di dalam dirinya memuncak. Akibatnya, fisiknya pun termakan oleh tekanan tersebut. Beberapa temanku kemudian mengambil jalan pintas dalam karirnya karena ingin mencapai karir yang lebih baik.</p>
<p>Baik adikku maupun teman tersebut nampaknya tidak sadar bahwa mereka belum bisa untuk sampai tahapan tersebut. Mungkinkah ini sifat dasar manusia? Aku rasa tidak juga. Aku yakin ada faktor lain di luar diri manusia yang mendorong munculnya keinginan tersebut. Apakah itu? Entahlah&#8230; mungkin kebahagian semua yang dikonstruksikan oleh kapitalisme? Mungkin juga eksistensi manusia untuk mendapatkan pengakuan dari sekelilingnya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://syaldi.web.id/2009/10/keinginan-adalah-sumber-penderitaan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kemanakah Substansi Bulan Ramadhan?</title>
		<link>http://syaldi.web.id/2009/09/kemanakah-substansi-bulan-ramadhan/</link>
		<comments>http://syaldi.web.id/2009/09/kemanakah-substansi-bulan-ramadhan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 21 Sep 2009 11:08:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Syaldi Sahude</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pertanyaan hari ini]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://syaldi.web.id/?p=1000</guid>
		<description><![CDATA[<p>Hari raya Idul Fitri baru saja selesai dirayakan. Hampir seluruh umat muslim di dunia merayakannya sebagai hari kemenangan melawan hawa nafsu dan kembali kepada fitra sebagai manusia.</p>
<p>Persoalannya, dari tahun ke tahun perayaan hari kemenangan ini menjadi sangat ironis kurasakan. Aku pribadi merasakan adanya konsumtivisme akut yang melanda. Sekuat apapun aku berusaha menolak, tidak mungkin rasanya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Hari raya Idul Fitri baru saja selesai dirayakan. Hampir seluruh umat muslim di dunia merayakannya sebagai hari kemenangan melawan hawa nafsu dan kembali kepada fitra sebagai manusia.</p>
<p>Persoalannya, dari tahun ke tahun perayaan hari kemenangan ini menjadi sangat ironis kurasakan. Aku pribadi merasakan adanya konsumtivisme akut yang melanda. Sekuat apapun aku berusaha menolak, tidak mungkin rasanya menolak arus besar yang ada. Membeli baju baru untuk saudara atau kerabat, membeli kebutuhan lauk pauk untuk lebaran, jatah &#8220;preman&#8221; untuk para keponakan dan lainnya. Salah satu biaya yang paling besar dikeluarkan oleh banyak orang adalah biaya untuk mudik. Dalam kondisi seperti ini siapa yang akan panen? Tentunya para pemodal&#8230;</p>
<p>Walaupun sudah ada mekanisme berbagi di bulan ramadhan seperti zakat, infaq dan sadaqah sepertinya tidak cukup menjawab persoalan yang dihadapi. Budaya konsumtivisme sudah menjadi persoalan akut sehingga menengah ke atas seperti lupa bahwa ada persoalan di bawah sementara yang dibawah terbawa arus utama dari para pencipta trend.</p>
<p>Lalu dimanakan substansi dari bulan Ramadhan sebagai bulan untuk melawan hawa nafsu kalau tidak dapat menahan godaan untuk berbelanja pakaian baru? Dimana substansi manusia untuk kembali kepada fitranya jika hanya dinilai dari seberapa banyak uang yang dihabiskan?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://syaldi.web.id/2009/09/kemanakah-substansi-bulan-ramadhan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mencoba Senayan, Aplikasi Perpustakaan</title>
		<link>http://syaldi.web.id/2009/09/mencoba-senayan-aplikasi-perpustakaan/</link>
		<comments>http://syaldi.web.id/2009/09/mencoba-senayan-aplikasi-perpustakaan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 10 Sep 2009 19:04:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Syaldi Sahude</dc:creator>
				<category><![CDATA[Informasi dan Dokumentasi]]></category>
		<category><![CDATA[Open Source]]></category>
		<category><![CDATA[opac]]></category>
		<category><![CDATA[perpustakaan]]></category>
		<category><![CDATA[senayan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://syaldi.web.id/?p=993</guid>
		<description><![CDATA[<p>Sudah lama benar aku mendengar tentang satu aplikasi open source pengelolaan perpustakaan yang diberi nama Senayan  On-line Publishing Acces Catalog. Kalau tidak salah, sekitar tahun 2007 seorang teman memberikan informasi tentang aplikasi ini ini namun baru dua bulan terakhir ini mencoba sendiri. Sebelumnya, aku sudah mendorong perpustakaan Yayasan Jurnal Perempuan untuk menggunakan aplikasi ini. </p>
<p>Sejak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sudah lama benar aku mendengar tentang satu aplikasi <em>open source</em> pengelolaan perpustakaan yang diberi nama Senayan  On-line Publishing Acces Catalog. Kalau tidak salah, sekitar tahun 2007 seorang teman memberikan informasi tentang aplikasi ini ini namun baru dua bulan terakhir ini mencoba sendiri. Sebelumnya, aku sudah mendorong perpustakaan<a href="http://library.jurnalperempuan.com" target="_blank"> Yayasan Jurnal Perempuan</a> untuk menggunakan aplikasi ini. <span id="more-993"></span></p>
<p>Sejak tahun 2001, entah mengapa aku tiba-tiba terlibat dan tertarik pada masalah perpustakaan. Mungkin dikarenakan ketertarikan pada pendokumentasian dan pengelolaan informasi sehingga mendekatkan kepada dunia ini. Terlebih lagi, beberapa teman dalam bekerja punya latar belakang sebagai pustakawan. Jadilah, aku mempelajari sedikit demi sedikit ilmu yang terbilang tidak mudah dan membosankan bagi kebanyakan orang.</p>
<p>Aplikasi perpustakaan yang pertama aku kenal adalah ISIS masih dalam versi DOS yang kemudian dikembangkan menjadi CDS/ISIS. Pertama melihat aplikasi ini, kepala sudah mau pecah karena melihat kerumitannya. Aku hanya berharap ada aplikasi yang lebih mudah sehingga orang awam sekalipun dapat mengoperasikannya. Akhirnya keluarlah Senayan.</p>
<p>Aplikasi ini merupakan aplikasi <em>open source</em> untuk Sistem Manajemen Perpustakaan yang dikembangkan oleh Pusat Informasi dan Humas Depdiknas. Dibangun menggunakan teknologi PHP dan MySQL yang dapat digunakan di berbagai sistem operasi ini. Untuk lebih lengkapnya, silahkan mengunjungi <a href="http://senayan.diknas.go.id/web" target="_blank">http://senayan.diknas.go.id/web</a>.</p>
<p><strong>Mencoba Senayan untuk Perpustakaan Pribadi</strong></p>
<p>Aku menggunakan aplikasi untuk kebutuhan perpustakaan pribadiku. Buku yang sudah menumpuk di kamar kerja sudah tak terdata dengan baik, beberapa di antara sudah dipinjam entah oleh siapa. Akibatnya, beberapa buku koleksi yang agak susah kudapatkan hilang begitu saja. Mau tidak mau, aku harus mengelolanya untuk meminimalkan kehilangan tersebut.</p>
<p>Aku kemudian mencoba <a href="http://senayan.diknas.go.id/web/?q=node/1" target="_blank">Senayan 3 stable 10</a>. Tidak butuh waktu terlalu lama; men-setup MAMP (kebetulan saya menggunakan Mac), lalu buat database MySQL server dan eksekusi <em>script</em>-nya. Selanjutnya melakukan instalasi aplikasinya dan selesai. Senayan telah dapat digunakan.</p>
<p>Setelah mencobanya, ada beberapa catatan yang perlu aku sampaikan untuk mereka yang ingin mencoba.</p>
<ol>
<li>Instalasinya sangat mudah. Jika sudah sering menggunakan aplikasi web, sudah bisa dipastikan anda bisa melakukannya. Terlebih lagi manual yang disediakan oleh pengembangnya cukup lengkap, terutama untuk pengguna dengan sistem operasi linux. Cukup menyediakan Apache dan MySQL server di komputer anda, Senayan sudah dapat digunakan. Jika ada kebutuhan untuk menjadikannya on-line, hanya cukup dengan mengunggah database dari MySQL, anda sudah bisa menggunakannya dalam hitungan jam,</li>
<li>Fitur yang disediakan juga cukup banyak dan tentunya sangat membantu. Untuk pengolahan bibliografi, sudah sangat memadai. Dilengkapi dengan sistem <em>barcode</em> yang akan mempercepat proses pelayanan sirkulasi. Aplikasi ini dapat membantu pustakawan untuk mengetahui berapa member yang terlambat melakukan pengembalian.</li>
<li>Oh iya, ada juga fasilitas untuk mencari katalog buku yang sudah tersedia di Internet. Ini hal yang baru buatku juga. Saat menggunakannya, pengguna tinggal memasukkan kata kunci berdasarkan judul atau nomor ISBN/ISSN. Jika ditemukan, kita tinggal menambahkan ke dalam database kita dengan sekali klik. Begitu cepat dan mudah&#8230;</li>
<li>Saat mencoba membuka beberapa halamannya, ternyata masih ada gabungan antara HTML dan PHP. Template halamannya lebih banyak menggunakan HTML sehingga akan mempermudah pengguna untuk melakukan modifikasi.</li>
</ol>
<p>Aku pribadi sangat menganjurkan organisasi yang memiliki perpustakaan untuk menggunakan aplikasi ini. Dengan aplikasi ini, proses pertukaran informasi, khususnya katalog akan lebih mudah dan terbuka kemungkinan membuat on-line public access catalog (OPAC) bersama dengan organisasi lainnya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://syaldi.web.id/2009/09/mencoba-senayan-aplikasi-perpustakaan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Aku Adalah Setan!</title>
		<link>http://syaldi.web.id/2009/08/aku-adalah-setan/</link>
		<comments>http://syaldi.web.id/2009/08/aku-adalah-setan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 25 Aug 2009 22:07:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Syaldi Sahude</dc:creator>
				<category><![CDATA[Coretan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://syaldi.web.id/?p=988</guid>
		<description><![CDATA[<p>Aku adalah pendosa!
Tak pernah sekalipun kujalankan perintah mereka
Tak kudengarkan ajaran kebencian yang mereka berikan
Saat aku tanya mereka, itukah ajaran dari agama?
Mereka bilang, aku adalah pendosa!</p>
<p>Aku adalah kafir!
Saat aku menolak fatwa mereka yang konyol
Saat aku bicara tentang kebebasan sebagai manusia
Saat aku berpihak pada mereka yang ditindas oleh penguasa
Saat aku mempunyai ideologi yang berseberangan dengan mereka
Saat aku [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Aku adalah pendosa!<br />
Tak pernah sekalipun kujalankan perintah mereka<br />
Tak kudengarkan ajaran kebencian yang mereka berikan<br />
Saat aku tanya mereka, itukah ajaran dari agama?<br />
Mereka bilang, aku adalah pendosa!</p>
<p>Aku adalah kafir!<br />
Saat aku menolak fatwa mereka yang konyol<br />
Saat aku bicara tentang kebebasan sebagai manusia<br />
Saat aku berpihak pada mereka yang ditindas oleh penguasa<br />
Saat aku mempunyai ideologi yang berseberangan dengan mereka<br />
Saat aku bertanya, apakah mereka punya hak untuk menindas manusia lainnya?<br />
Mereka bilang, aku adalah kafir!</p>
<p>Aku adalah pelacur!<br />
Saat bekerja menggunakan akal dan nuraniku<br />
Saat menulis tentang kebusukan mereka<br />
Saat duduk damai bersama dengan para kafir<br />
Saat aku bertanya, apakah mereka tidak pernah mencicipi karya dari para kafir?<br />
Mereka bilang, aku adalah pelacur!</p>
<p>Aku adalah setan!<br />
Saat mengajak orang lain untuk mempertanyakan keberadaan mereka<br />
Saat mempertanyakan tentang ketidakadilan<br />
Saat memberikan realita yang berbeda<br />
Saat aku bertanya, mengapa aku harus mengakui mereka<br />
Mereka bilang, aku adalah setan!</p>
<p>Aku adalah asumsi dalam asumsi-asumsi mereka<br />
Aku adalah realita dalam realita-realita mereka<br />
Aku adalah fakta yang ingin dihilangkan demi kemaslahatan umat<br />
Itu kata mereka&#8230;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://syaldi.web.id/2009/08/aku-adalah-setan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Akhirnya OpenEvsys Diluncurkan&#8230;!</title>
		<link>http://syaldi.web.id/2009/08/akhirnya-openevsys-diluncurkan/</link>
		<comments>http://syaldi.web.id/2009/08/akhirnya-openevsys-diluncurkan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 07 Aug 2009 21:10:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Syaldi Sahude</dc:creator>
				<category><![CDATA[Open Source]]></category>
		<category><![CDATA[Pemantuan HAM]]></category>
		<category><![CDATA[HURIDOCS]]></category>
		<category><![CDATA[openevsys]]></category>
		<category><![CDATA[sahana]]></category>
		<category><![CDATA[winevsys]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://syaldi.web.id/?p=980</guid>
		<description><![CDATA[<p>Setelah dikerjakan lebih dari satu tahun, akhirnya sebuah aplikasi web open source untuk pendokumentasian Pelanggaran Hak Asasi Manusia diluncurkan. Aplikasi ini diberi nama OpenEvsys merupakan pengembangan dari WinEvsys merupakan hasil kerja keras dari HURIDOCS International dan Respere. Sebelumnya, Gugus Kerja Dokumentasi dan Informasi HAM telah menguji cobanya dan memberikan beberapa masukan di dalam pengembangannya.</p>
<p>Berikut adalah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Setelah dikerjakan lebih dari satu tahun, akhirnya sebuah aplikasi web open source untuk pendokumentasian Pelanggaran Hak Asasi Manusia diluncurkan. Aplikasi ini diberi nama OpenEvsys merupakan pengembangan dari WinEvsys merupakan hasil kerja keras dari HURIDOCS International dan Respere. Sebelumnya, Gugus Kerja Dokumentasi dan Informasi HAM telah menguji cobanya dan memberikan beberapa masukan di dalam pengembangannya.<span id="more-980"></span></p>
<p>Berikut adalah release yang dikeluarkan secara internal di jejaring pengembang dan pengguna OpenEvsys.</p>
<p><strong>Indonesia</strong><br />
OpenEvsys adalah adalah aplikasi open-source gratis yang saat ini sedang dikembangkan oleh Human Rights Information and Documentation Systems, International (HURIDOCS) dan Respere. Aplikasi ini menggunakan HURIDOCS Events Standard Format, standar internasional untuk dokumentasi pelanggaran HAM yang terdapat di sistem pangkalan data yang dibuat oleh HURIDOCS. Openevsys menggunakan kembali kerangka kerja yang dikembangkan SAHANA, platform open source manajemen kebencanaan.</p>
<p>Informasi :<a href="https://launchpad.net/openevsys" target="_blank"> https://launchpad.net/openevsys</a><br />
Unduh aplikasi : <a href="https://launchpad.net/openevsys/+download" target="_blank">https://launchpad.net/openevsys/+download</a></p>
<p><strong>English</strong><br />
OpenEvsys is free, open source software tool, currently under development by<a href="http://www.huridocs.org" target="_blank"> Human Rights Information and Documentation Systems, International (HURIDOCS)</a> and <a href="http://respere.lk" target="_blank">Respere</a>. It implements the HURIDOCS Events Standard Formats, an international standard for documenting human rights violations, and builds on early database systems developed by HURIDOCS. OpenEvsys re-uses the application framework developed for SAHANA, the open source disaster management plaform.</p>
<p>More information : <a href="https://launchpad.net/openevsys" target="_blank">https://launchpad.net/openevsys</a><br />
Download : <a href="https://launchpad.net/openevsys/+download" target="_blank">https://launchpad.net/openevsys/+download</a></p>
<p>Jika anda atau organisasi anda tertarik untuk mengetahui lebih jauh tentang aplikasi ini, silahkan meninggalkan komentar di bawah ini.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://syaldi.web.id/2009/08/akhirnya-openevsys-diluncurkan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Phnom Penh dan Transportasi Publik</title>
		<link>http://syaldi.web.id/2009/07/phnom-penh-dan-transportasi-publik/</link>
		<comments>http://syaldi.web.id/2009/07/phnom-penh-dan-transportasi-publik/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 23 Jul 2009 20:57:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Syaldi Sahude</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kamboja]]></category>
		<category><![CDATA[ojek]]></category>
		<category><![CDATA[phnom penh]]></category>
		<category><![CDATA[tuk-tuk]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://syaldi.web.id/?p=977</guid>
		<description><![CDATA[<p>Seperti yang kita ketahui bersama, Phnom Penh adalah ibukota Negara Kerajaan Kamboja. Bisa dipastikan bahwa sebagai ibukota negara, beberapa fasilitas dasar seperti saran transportasi, pelayanan publik dan beberapa fasilitasnya tidak akan terlalu sulit. Nah, kali ini aku ingin menuliskan tentang pengalaman berada di &#8216;jalan&#8217; Phnom Penh.</p>
<p>Saat sudah berada dua hari di kota ini, aku sedikit [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Seperti yang kita ketahui bersama, Phnom Penh adalah ibukota Negara Kerajaan Kamboja. Bisa dipastikan bahwa sebagai ibukota negara, beberapa fasilitas dasar seperti saran transportasi, pelayanan publik dan beberapa fasilitasnya tidak akan terlalu sulit. Nah, kali ini aku ingin menuliskan tentang pengalaman berada di &#8216;jalan&#8217; Phnom Penh.<span id="more-977"></span></p>
<p>Saat sudah berada dua hari di kota ini, aku sedikit bingung karena tidak menjumpai satu bus atau semacam angkot di kota ini. Yup, satu hal yang tidak akan anda temui adalah transportasi massal publik. Di Phnom Penh, anda hanya punya tiga pilihan sarana transportasi yang bisa anda gunakan; Taksi, Tuk-tuk dan ojek motor. Sebenarnya ada satu lagi kendaran sejenis becak yang dikayuh namun hanya muat untuk satu penumpang, namun aku tidak pernah mencobanya. Tidak tega rasanya&#8230;!</p>
<p>Aku kemudian bertanya kepada teman Kambojaku namun tidak mendapat jawaban yang memuaskan. Avi, sahabatku yang saat ini bekerja di sana kemudian menegaskan bahwa kota Phnom Penh bukanlah kota yang terlalu besar. &#8220;Kita bisa kemana saja, selama masih di Phnom Penh, dalam waktu 15 menit.&#8221; Mungkin ada benarnya, tapi tetap saja ini menjadi pertanyaan besar buatku.</p>
<p>Seperti yang sudah aku sampaikan di tulisan sebelumnya, situasi di jalan raya kota Phnom Penh cukup semrawut. Selama 15 hari, aku harus berhadapan dengan kondisi yang tidak jauh berbeda dengan Jakarta. Macet akan ditemui dibeberapa ruas jalan pada jam sibuk.</p>
<p>Bedanya, rata-rata pengendara memacu kendaraannya dengan kecepatan sedang. Hanya satu-dua kali aku melihat motor dan mobil yang melaju dengan kecepatan tinggi. Bahkan rata-rata pengendara di Phnom Penh bisa dikatakan sangat lambat. Setiap aku naik Tuk-tuk atau ojek motor, tidak pernah sekalipun lebih dari 40 km/jam.</p>
<p><strong>Tips untuk Tuk-tuk</strong><br />
Yang paling pertama harus dimaklumi adalah banyak diantara mereka tidak bisa berbahasa Inggris. Kadangkala bahasa yang digunakan untuk komunikasi adalah bahasa tubuh. Nah, supaya tidak kesulitan maka bawalah selalu peta Phnom Penh. Jika kesulitan memberitahukan lokasi tujuan, maka tinggal tunjukkan peta kepada mereka sambil merujuk pada tujuan. Oh iya, anda bisa mendapatkan peta Phnom Penh dengan gratis di Hotel atau restoran.</p>
<p>Nah, masalah tarif ini juga punya trik tersendiri. Sepertinya, para pengemudi Tuk-tuk mematok tarif secara semena-mena untuk para barang (sebutan untuk bule) atau turis. Walaupun jaraknya cukup dekat, mereka biasanya mematok US$ 2. Jika jaraknya cukup jauh, maka siapkan US$ 5. Ini seperti kebiasaan yang ada di para pengemudi tuk-tuk untuk mematok tarif demikian. Makanya, jika yakin tujuannya cukup dekat, jangan segan untuk menawarnya. Selalu tawar setengah dari tarif yang ditawarkan oleh mereka. Ingat, jangan menyerah! Bisa dipastikan mereka akan menyerah. Jika hanya seorang diri, tips ini akan berlaku. Namun jika lebih dari satu orang, maka sebaiknya anda memperhitungkan juga lah&#8230;</p>
<p><strong>Tip untuk naik Ojek</strong><br />
Nah, kendaraan ini tidak jauh berbeda dengan ojek di Jakarta atau kota lain di Indonesia. Sama seperti pengemudi tuk-tuk, mereka punya kesulitan dengan bahasa. So, selalu gunakan peta! Itu kuncinya&#8230;</p>
<p>Masalah tarif, ojek ini lebih murah. Bahkan bisa setengah dari Tuk-tuk! Makanya, jika ingin sedikit merasakan sport jantung berkendara motor tanpa helm, ojek adalah pilihan yang tepat. Anda tidak akan ditawari helm sebagai pelindung. Walaupun mereka tidak seliar ojek di Jakarta, namun mengingat kondisi lalu lintas di Phnom Penh, ada baiknya berdoa sebelum berkendara&#8230;</p>
<p>Selama 2 minggu pula, aku terheran-heran saat melihat lalu lintas di Phnom Penh. Mobil-mobil mewah yang harganya bisa mencekik leher seperti Hummer dan Lexus seringkali aku jumpai. Sungguh ironis melihat ketimpangan ini. Untuk persoalan ini, aku akan menceritakannya di tulisan yang lain.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://syaldi.web.id/2009/07/phnom-penh-dan-transportasi-publik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tempat Makan di Phnom Penh</title>
		<link>http://syaldi.web.id/2009/07/tempat-makan-di-phnom-penh/</link>
		<comments>http://syaldi.web.id/2009/07/tempat-makan-di-phnom-penh/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 18 Jul 2009 09:55:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Syaldi Sahude</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kamboja]]></category>
		<category><![CDATA[phnom penh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://syaldi.web.id/?p=970</guid>
		<description><![CDATA[<p>Sebenarnya, hasil jalan-jalan ke Phnom Penh ingin aku tuliskan secara kronologis akan tetapi sepertinya sangat sulit. Pertama sulit untuk mengingat kembali dan kedua sepertinya lebih nyaman menulis perbagian sehingga mempermudah pembaca untuk memahami Phnom Penh dari sudut pandangku.</p>
<p>Seperti dalam tulisanku sebelumnya, perjuanganku selanjutnya adalah mencari makan yang cocok dengan lidahku. Sebelumnya, aku cukup yakin bahwa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sebenarnya, hasil jalan-jalan ke Phnom Penh ingin aku tuliskan secara kronologis akan tetapi sepertinya sangat sulit. Pertama sulit untuk mengingat kembali dan kedua sepertinya lebih nyaman menulis perbagian sehingga mempermudah pembaca untuk memahami Phnom Penh dari sudut pandangku.<span id="more-970"></span></p>
<p>Seperti dalam tulisanku sebelumnya, perjuanganku selanjutnya adalah mencari makan yang cocok dengan lidahku. Sebelumnya, aku cukup yakin bahwa selama makanan itu masih berselera asia, sudah pasti aku bisa lahap dengan tenang. Ternyata, aku terbukti salah! Ada beberapa makanan khas Kamboja yang tidak bisa aku terima&#8230;</p>
<p>Oh iya, untuk informasi saja, warung atau restoran di Kamboja menyajikan makanan dengan berbagai daging, termasuk babi. Sebaiknya, pilihlah makanan dengan menanyakan terlebih dahulu daging apa yang digunakan. Tidak sedikit dari <em>waitress</em> akan menanyakan akan menggunakan daging apa. Tapi sebaiknya anda menanyakannya juga.</p>
<p>Nah, dibawah ini adalah tempat makan yang aku rekomendasikan saat berada di Phnom Penh.</p>
<p><strong>Friends</strong><br />
Restoran ini menyediakan berbagai makanan yang bervariasi. Kita bisa mendapatkan menu western, Asia hingga makanan khas Khmer. Lokasinya tidak jauh National Museum.</p>
<p>Kelebihan dari restoran ini adalah dikelola oleh sebuah NGO yang bergerak dibidang pemberdayaan dan pendidikan anak jalanan. Sangat mudah mengenalinya, kita tingga melihat dari pakaiannya. Jika di belakang seragamnya tertulis Teacher, maka dia adalah semacam Tutor. Biasanya, Tutor ini yang menerima order dan melakukan penghitungan. Sementara jika tertulis student, mereka adalah anak-anak jalanan yang sedang belajar. Mereka bertugas untuk menjadi waitress.</p>
<p>Kami harus antri sekitar 20 menit karena tempatnya sangat penuh. Saat bertemu seorang ibu yang baru selesai, dia menyarankan kami untuk memesan 3 porsi makanan untuk setiap orang. Dia menambahkan, kami pasti tidak akan merasa rugi karena makanannya sangat enak. Okay, walaupun belum kami rasakan tapi kami asumsikan bahwa makanannya memang enak.</p>
<p>Kami memesan beberapa jenis makanan, hampir semuanya makanan khas Khmer. Sebenarnya, aku tidak terlalu menikmati makanan khas Khmer yang rata-rata asam atau manis. Namun karena teman-teman yang lain ingin mencobanya, dengan terpaksa ikut dengan mereka. Setelah memesan secara acak, akhirya kami memesan 12 porsi! Bisa anda bayangkan? Aku khawatir kami tidak bisa menghabiskan semua makanan itu. Akan tetapi, ternyata dugaanku salah! Kami melahap semua makanan itu sampai tuntas!</p>
<p>Untuk masalah rasa, bisa dijamin! Aku bersama 3 orang temanku mengakui bahwa selama berada di Phnom penh, baru kali ini kami menikmati makan malam yang nikmat. Oh iya, ibarat pepatah lama &#8220;ada uang ada rasa&#8221;, harga di tempat ini terbilang mahal. Kami berempat menghabiskan sekitar US$ 45 untuk 12 jenis makanan di sana.  Toh, keuntungan dari tempat ini akan digunakan untuk pendidikan anak-anak jalanan.</p>
<p><strong>Warung Bali</strong><br />
Dari namanya saja, sudah ketahuan kalau restoran ini menyediakan makanan Indonesia. Lokainya juga tidak jauh dari National Museum. Mungkin sekitar 200 m ke arah suangi Mekong. Aku mengetahui tempat ini karena dibawa oleh Avi, salah seorang sahabatku di Indonesia untuk makan malam. Katanya, jika dia lagi kangen atau rindu berbicara dengan orang Indonesia, maka tempat inilah yang menjadi pilihan.</p>
<p>Pengelolanya adalah mas&#8230; yang sudah tinggal 16 tahun di Kamboja. Warung Bali menyediakan berbagai makanan khas Indonesia seperti Gado-gado, Sate Ayam dan Tumis Kangkung. Salah satu menu andalannya Ayam Bakar Bali dan Rendang. Tentu saja rasa tidak akan sama dengan yang di Indonesia, akan tetapi jika kita ingin mencicipi masakan Indonesia, di sinilah tempat yang terbaik. Oh iya, sebagai informasi, hanya pengelolanya saja yang bisa berbahasa Indonesia, sisanya adalah orang Kamboja.</p>
<p>Sebagai tambahan, tim kerjaku beberapa kali ku ajak ke tempat ini untuk makan malam. Awalnya aku ragu untuk mengajak mereka, maklum kami berasal dari belahan dunia yang beda sehingga sudah pasti <em>taste</em>-nya beda. Namun pada akhirnya, kami menikmati beberapa kali makan malam di sana.</p>
<p>Jangan ditanya soal harga, di tempat ini boleh dikatakan harganya sangat terjangkau. Sekali makan malam untuk empat orang, kami menghabiskan US$ 18! Sangat murah untuk kami yang punya dana terbatas!</p>
<p><strong>Romdeng</strong><br />
Tempat ini tidak jauh berbeda dengan Friends, tempat ini dikelola oleh anak-anak jalanan. Setelah mencari tahu dari selebaran yang ada di tempat itu, kami baru tahu kalau ternyata mereka (Friends dan Romdeng) berafiliasi. Dari sis harga, mungkin Romdeng agak sedikit lebih mahal.</p>
<p>Yang berbeda adalah tempat dan suasananya. Tempatnya lebih nyaman untuk menghabiskan waktu. Kita bisa memilih tempat di dekat komlam renang atau semacam bungalow jika ingin menikmati suasananya.</p>
<p>Berhubung aku tidak makan babi, aku menyarankan anda untuk mencoba Khmer Moslem Curry! Kari sapi yang begitu lezat disajikan dengan roti baquet dapat membuat perut anda kenyang! Anda bisa menikmati red atau white wine dengan harga yang terjangkau.</p>
<p><strong>frizz</strong><br />
Ini adalah salah satu tempat yang direkomendasikan oleh Avi. Aku mengunjunginya bersama Tom dan Avi karena dua rekan timku sudah pulang. Tempatnya tidak besar, bahkan cukup sempit namun makanannya cukup lumayan.</p>
<p>Saat berada di tempat ini, anda harus mencoba Fish Amok-nya. Amok adalah makanan khas Khmer yang terdiri dari ikan yang dimasak dengan menggunakan santan kelapa hingga menyatu. Dikarenakan aku tidak makan ikan sehingga aku memilih untuk mencoba makanan lai. Sayangnya, aku lupa namanya! Makanan itu terbuat dari mie bihun dengan potongan daging sapi serta saus kacang yang sangt kental. Lumayan enak dan anda harus mencobanya.</p>
<p>Harganya pun tidak terlalu mahal. Kami makan makan bertiga hanya menghabiskan US$ 18.</p>
<p><strong>Living Room</strong><br />
Nah, ini tempat yang cozy untuk menghabiskan waktu. Tempat ini lebih mirip seperti cafe atau tempat nongkrong walaupun menyediakan beberapa masakan. tempatnya sangat asri dan teduh. Terkadang tempat ini sangat ramai, terutama hari sabtu dan minggu.</p>
<p>Banyak pekerja NGO asing yang menghabiskan waktunya di tempat ini. Dalam satu kesempatan, aku sempat melihat beberapa pekerja NGO memanfaatkan sebagai tempat pertemuan. Yup, terdapat beberapa ruangan yang disediakan untuk meeting. Sepertinya, pengelola tempat ini pandai memanfatkan kebiasaan pengunjung atau memang menargetkan pengunjung adalah pekerja NGO.</p>
<p>Fasilitasnya cukup lumayan. Dengan memesan satu minuman, kiat sudah bisa nongkrong sambil menikmati koneksi internet gratis. Tidak sedikit yang leyeh-leyeh sambil membaca buku untuk membunuh waktu.</p>
<p>Tidak ada makanan yang lumayan di tempat ini. Tapi anda harus mencoba minumannya! Menurutku, cappucino di tempat ini yang paling enak dibanding dengan tempat lain di Phnom Penh. Jangan lupa untuk mencicipi Banana Harganya pun cukup terjangkau. Minumannya berkisar US$ 1,5-2,5.</p>
<p>Sebenarnya masih ada beberapa tempat lain, namun yang aku sebutkan diatas adalah tempat yang bisa aku rekomendasikan. Tidak mudah mencari retoran atau tempat makan yang menyediakan makanan yang lumayan dan terjangkau di Phnom Penh.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://syaldi.web.id/2009/07/tempat-makan-di-phnom-penh/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Berkaca Pada Wajah Korban!</title>
		<link>http://syaldi.web.id/2009/07/berkaca-pada-wajah-korban/</link>
		<comments>http://syaldi.web.id/2009/07/berkaca-pada-wajah-korban/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 17 Jul 2009 11:53:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Syaldi Sahude</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jendela]]></category>
		<category><![CDATA[korban]]></category>
		<category><![CDATA[peledakan bom]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://syaldi.web.id/?p=973</guid>
		<description><![CDATA[<p>Bom kembali meledak di Jakarta! Aku baru terbangun dari tidur saat temanku memberikan informasi bahwa di beberapa tempat terjadi ledakan bom. Aku termenung, mudah-mudahan ini hanya mimpi yang baru saja aku alami dan segera hilang. Ternyata harapanku meleset! Peristiwa tersebut memang terjadi.</p>
<p>Hari ini, sekitar pukul 7 pagi terjadi ledakan yang diduga berasal dari bahan peledak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft" style="border: 1px solid black; margin: 3px 2px;" title="Lilin" src="http://2.bp.blogspot.com/_gl-cGHcwkTc/SUuCiqAC3cI/AAAAAAAAAJA/D87KFEHMafo/s200/candle5.jpg" alt="" width="116" height="93" />Bom kembali meledak di Jakarta! Aku baru terbangun dari tidur saat temanku memberikan informasi bahwa di beberapa tempat terjadi ledakan bom. Aku termenung, mudah-mudahan ini hanya mimpi yang baru saja aku alami dan segera hilang. Ternyata harapanku meleset! Peristiwa tersebut memang terjadi.<span id="more-973"></span></p>
<p>Hari ini, sekitar pukul 7 pagi terjadi ledakan yang diduga berasal dari bahan peledak dengan kekuatan yang tinggi di Hotel J.W Marriot dan Ritz Carlton. Akibatnya, sampai saat ini sudah tercatat 9 orang tewas dan puluhan lainnya menderita luka-luka. Tak pelak lagi, hampir semua media memberitakan tentang peristiwa ini.</p>
<p>Tidak sedikit pihak yang kemudian &#8216;bermain&#8217; dengan peristiwa ini. Dari teman-temanku, berbagai teori konspirasi kemudian muncul. Bukannya membuatku tenang, malah teori-teori ini semakin membuatku pusing. Ditambah lagi pernyataan dari para elite politik yang sedang bertarung memperebutkan kekuasaan membuat situasi seolah dalam keadaan yang sangat genting. Bukankah seharusnya yang kita lakukan adalah membuat kondisi menjadi tenang sehingga dapat mengambil tindakan yang tepat?</p>
<p>Sambil menikmati teh yang makin terasa pahit ditemani berita tentang peledakan tersebut membuatku termenung. Aku teringat saat bersama dengan teman-teman di Tim Relawan untuk Kemanusiaan melakukan beberapa upaya investigasi dan pendampingan korban bom Malam Natal 2000 dan Marriot.</p>
<p>Saat banyak pihak berbicara dan berpolemik tentang motif dan siapa pelakunya, kami masih terus mencoba mencari tahu fakta yang sebenarnya terjadi di lapangan. Tidak ketinggalan beberapa LSM yang kemudian membuat berbagai pernyataan pers mulai dari mengutuk hingga menuntut tanggung jawab negara. Sayangnya, upaya tersebut hanya berhenti di pernyataan pers saja. Investigas yang dilakukan hanya mengandalkan data yang dikumpulkan dari potongan berita atau informasi analisis politik yang berasis pada teori konspirasi. Sementara kami percaya bahwa faktalah yang akan memberikan realita sesungguhnya</p>
<p>Dalam setiap peristiwa, korban selalu menjadi hal paling pertama dibicarakan dan paling cepat dilupakan. Ini adalah sebuah kenyataan yang terjadi. Dalam proses penyelidikan yang dilakukan oleh pihak yang berwajib, terjadi kriminalisasi terhadap korban. Ini kami temui di beberapa korban yang saat menjalani pengobatan dipaksa untuk memberikan keterangan bahkan dicurigai sebagai pelaku. Ini diperkuat oleh pernyataan kepolisiaan pada saat ini yang mengatakan bahwa ada korban yang diduga menjadi pelaku. Ironisnya, saat polisi tidak berhasil menguaknya, tidak ada satu itikad baik untuk merehabilitasi nama para korban.</p>
<p>Saat peristiwa tersebut telah lapuk dimakan oleh isu yang lain, korban dan keluarganya tetap harus menanggung dampak dari peristiwa tersebut. Mereka yang kehilangan anggota keluarganya harus menanggung trauma dan kehilangan. Yang cukup berat adalah mereka yang kehilangan keluarga yang menjadi penopang hidup mereka. Permasalahan ekonomi harus mereka hadapi.</p>
<p>Untuk mereka yang luka-luka, masalahnya juga tidak sedikit. Walaupun pemerintah saat itu menjamin bahwa biaya pengobatan akan ditanggung sepenuhnya, namun dalam prakteknya berbeda. Luka-luka yang dialami oleh rata-rata membutuhkan terapi lanjutan agar bisa kembali pulih. Mereka harus menanggung biaya rehabilitasi mereka yang tentunya jauh lebih mahal. Menurut pihak rumah sakit, pemerintah hanya menanggung biaya pengobatan saja!</p>
<p>Seharian ini aku mengikuti dinamika di sekitarku. Kuputuskan untuk menjauh sejenak dan mulai menulis. Tanpa menafikan bahwa ada berbagai teori dan segala intrik politik, aku ingin mengajak sahabat dan rakyat Indonesia untuk berkaca pada wajah korban. Mereka adalah potret nyata dari setiap tragedi yang terjadi di negeri ini. Jangan lupakan mereka.</p>
<p>Aku teringat satu kalimat dari seorang keluarga korban bom malam natal &#8220;Kami tidak ingin peristiwa seperti ini menimpa orang lain.&#8221;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://syaldi.web.id/2009/07/berkaca-pada-wajah-korban/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
