HURISEARCH


HuriSearch by HURIDOCS
Mencari di sekitar 4500 web-site hak asasi manusia di seluruh dunia

Kategori

Solidaritas

Informasi dan Dokumentasi

[Bagian I] Penggunaan Internet untuk HAM

[Tulisan ini merupakan bagian dari modul yang sedang dikembangkan oleh Komunitas Sekitarkita. Terdiri dari empat bagian utama; mesin pencari, situs informasi HAM, penggunaan e-mail, dan membuat situs HAM. Untuk reproduksi, seluruh atau sebahagian dari materi harap menghubungi komunitas sekitarkita atau penulis di syaldi.sahude[at]gmail.com

Perkembangan teknologi informasi di dunia memberikan dampak langsung kepada masyarakat luas Kehadiran berbagai perangkat seperti komputer, handphone dan berbagai macam gadget lainnya menjadi dampak dari perkembangan tersebut. Meningkatnya kebutuhan akan informasi dan komunikasi seiring dengan perkembangan perangkat tersebut. Selanjutnya… »

Kamar

Teater Nyai Ontosoroh; antara senang dan kecewa

“kita sudah melawannya nak, Nyo! Sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya” Nyai Ontosoroh, Bumi Manusia

Tadi malam, seorang teman mengajakku (lebih tepat todongan tiket gratis) untuk menyaksikan pagelaran teater Nyai Ontosoroh di Taman Ismail Marzuki (TIM). Awalnya aku agak segan untuk menyaksikan teater ini, namun rasa penasaran dan ingin melepas rasa jenuh, tawarannya aku terima.

Aku sudah sering mendengar dan membaca tentang pagelaran teater ini. Melalui e-mail dan obrolan santai diantara kawan jaringan. Setahuku, pagelaran ini di dukung oleh banyak LSM dan seniman.

Antara senang

Cerita Nyai Ontosoroh adalah adaptasi dari novel Tetralogi Pulau Buru, Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer (Pram). Karakter dan kharisma yang begitu kuat digambarkan oleh Pram dalam sosok Nyai Ontosoroh. Dialah salah satu sosok perempuan yang paling membekas dalam ingatanku setelah membaca tetralogi.

Saat ingin menyaksikan pertunjukan ini, terbersit keraguan yang besar “apakah teater ini mampu memberikan gambaran yang tepat untuk sosok Nyai ontosoroh”?. Happy Salma dipercaya untuk berperan sebagai Nyai Ontosoroh. Hm… Happy Salma, seorang bintang sinetron?! Muncul rasa pesimis dalam pikiranku, apakah dia mampu?

Pada akhir pertunjukan, kekhawatiranku sedikit terobati. Walaupun dengan banyak catatan, dia mampu menjawab keraguanku tersebut.

dan kecewa…

Satu hal yang sangat-sangat mengangguku adalah penggambaran sosok Annelis. Dari pembacaanku dari Bumi Manusia dan Anak Semua Bangsa, sosok Annelis yang muncul adalah sosok yang begitu lembut, santun, penuh dengan keanggunan, rapuh dan memiliki kecantikan yang melewati batas imanjinasiku. Akan tetapi dalam pementasan ini, Annelis menjadi perempuan penggoda! Jelas saja, memoriku langsung bereaksi melihat tokoh yang muncul dalam imajinasiku kemudian diterjemahkan begitu serampangan! Aku tidak bisa terima!

Kamar

Jadi Golput, Kenapa Tidak?

Hmm… mulai minggu ini, Jakarta akan kembali hiruk pikuk dengan kampanye para calon gubernur  (cagub). Mereka akan berkampanye alias menjual kecap nomor satu selama 10 hari dimulai pada tanggal 22 Juli 2007. Jika anda mencari janji yang paling yahud, silahkan baca selebaran dan berbagai media propaganda para cagub, anda tinggal pilih. Masalah realisasi,tunggu dulu, jangan terlalu berharap kata orang tuaku… Selanjutnya… »

Pertanyaan hari ini

Tahukah anda?

  • Khusus untuk pilkada DKI Jakarta, anggaran pilkada dalam RAPBD DKI Jakarta tahun 2007 tercatat Rp238 miliar.
  • Dalam laporannya, tim kampanye pasangan Fauzi Bowo-Prijanto menulis, sumbangan dana kampanye yang mereka terima Rp 10.939.177.335, yang berasal dari perorangan maupun perusahaan.
  • Pada periode yang sama, tim kampanye pasangan Adang Daradjatun-Dany Anwar mendapat sumbangan lebih besar, yakni Rp 31.435.018.287.

Jika angka diatas ditotal secara kasar maka akan muncul nilai yang jauh lebih besar dari anggaran kesehatan masyarakat miskin di Jakarta sebesar 20 milliar. Ironis bukan…..?

Coretan

Malam itu…

00.00 am
Saat hampir semua manusia terlelap
Ditengah malam sepi mengigit
Saat manusia makin asyik
Bercanda dengan mimpi-mimpi indah mereka

00.15 am
Aku masih terjaga sendiri
Terjebak dalam ruang semu
Bergelut dengan lamunan kosong
Tenggelam dalam alam khayalku

00.27 am
Cecak mengalunkan irama pasti
Mengiringi lamunanku malam ini
Jam berdetak dengan pasti
Seiring dengan degup jantung ini

01.00 am
Sang Penguasa waktu……
Seakan memutar roda waktu dengan perlahan
Akupun makin tenggelam
Terbuai dalam khayalan semu

01.20 am
Otakku lelah, lemas, letih ,lesu
Kelopak mataku seakan menguncup
Angin malam bertiup sendu
Menerpa wajah kuyu ini sekejap

01.50 am
Kurebahkan badanku di pembaringan
Kututup mataku perlahan
Berharap Sang Dewi mimpi datang
Membawaku ke alam mimpi

05.00 am
Azan shubuh terdengar merdu
Dari sebuah langgar
Matahari telah menampakkan wajahnya
Menuntaskan sinetron mimpi indah

Aku terjaga sambil tersenyum
“Selamat pagi … dunia yang kejam”

Syaldi, 17 November 1999. 02.00-05.00 am

Beranda

Masa Kecil Yang Indah!

Tidak ada yang istimewa dengan masa kanak-kanak yang aku lewati. Seperti anak lain kebanyakan, aku sangat menikmati bermain dengan teman-teman sebayaku. Bermain berbagai permainan tradisional yang saat ini tidak akan kita temui saat menjadi satu hal yang dapat menjadi kenangan yang indah. Kreatifitas yang muncul dari kondisi orang tua yang hanya mampu untuk menyekolahkan kami, membuat aku dan kawan-kawanku yang lain mempunyai banyak permainan.

Setelah tamat dari TK. Kumara Jaya, aku kemudian melanjutkan ke SD. Sanddika. Sekolah ini adalah yang paling berkualitas di lingkunganku. Pengelolanya adalah yayasan yang didirikan oleh perusahaan tempat orang tuaku bekerja. Para pengajar tidak lain adalah tetangga kompleksku sendiri. Yang aku ingat adalah Pak Muis (yang kebetulan adalah guru ngajiku saat itu) dan Ibu Bongga (tetangga sebelah rumah) Teman sekolahku mayoritas berasal dari anak para pegawai PKG, yang juga adalah teman satu kompleks denganku. Saat ini aku hampir lupa teman-temanku di masa SD. Yang kuingat adalah Yusri (tetanggaku), Sukma (kemudian menjadi teman satu SMP), Taufik, Akira, dan Fadli. Aku akan menambah daftar ini jika suatu hari aku mengingatnya…!

Tidak ada prestasi yang menonjol dari saat aku bersekolah selama satu tahun di SD. Sandikka. Yang aku ingat, dalam pelajaran membaca kemajuanku cukup cepat. Dari sini pula kemudian bapakku harus ektra mengeluarkan dana untuk membelikanku majalah anak-anak saat itu, BOBO dan Kuncung serta beberapa komik seperti Petruk dari negeri Tumaritis. Teman-temanku yang cukup mampu seperti Akira dan Fadli menjadi salah satu sumber penyedia bahan bacaan.

Setahun kulalui, aku kemudian dipindahkan oleh orang tuaku ke Kota Makassar (saat itu bernama Ujung Pandang) untuk tinggal bersama dengan keluarga tanteku. Kata orang tuaku, aku diangkat menjadi anak mereka karena ingin mempunyai anak laki-laki. Saat itu, tanteku mempunyai dua orang putri remaja. Aku kemudian dipindahkan ke SD Mallengkeri I yang berada tidak jauh dari rumahku sekarang, hanya 5 menit berjalan kaki. Presetasiku kemudian meningkat drastis, kelas 2 cawu pertama, aku langsung duduk di peringkat (rangking) 2 di kelas. Setelah itu, setiap pembagian raport, rangking 1 sudah pasti ditanganku. Aku sendiri tidak ingat mengapa bisa saat itu aku bisa sehebat itu. Mungkin saja karena kualitas sekolah itu jauh dibawah SD-ku sebelumnya. Atau ada stimulan otak anak desa yang kemudian menginjak kota.

Saat tinggal di rumah tanteku, yang aku panggil Mama Onda, kegemaranku membaca makin menggila. Setiap pagi dan siang hari, koran Pedoman Rakyat menjadi makananku. Bahkan, sejak saat itu, aku tidak bisa makan tanpa membaca sesuatu. Ada yang bilang bagus, ada yang bilang tidak sopan, ada yang bilang ini dan itu. Buatku, peduli amat! Yang penting aku nyaman dan bisa makan…

Prestasi yang paling menggembirakan saat aku mewakili kecamatan Tamalate untuk mengikuti lomba cerdas cermat. Sebelumnya, aku diseleksi bersama beberapa perwakilan SD lainnya. Aku tepilih bersama satu orang lainnya. Aku lupa siapa. Hasilnya, aku menjadi juara kedua. Wah, sungguh membanggakan saat Onda, ayah angkatku mendampingi saat menerima penghargaan tersebut.

Di lingkunganku yang baru, aku kemudian mempunyai teman-teman bermain yang baru. Aldin (kerap ku sapa Mudding) dan Ridha menjadi temanku, karena kebetulan tetanggaku. Aku kemudian mengenal Akka (gilang), Ugi, Cakra dan banyak lagi.

Halaman 20 dari 28« Awal...10«16171819202122232425»...Akhir »