Catatan Yang Hilang dari Soe Hok Gie

23

Malam ini, untuk kesekian kalinya aku menonton kembali film GIE yang diputar oleh salah satu stasiun TV swasta. Tiba-tiba aku teringat kembali beberapa pertanyaan yang muncul setelah aku menjadi salah satu pembicara dalam sebuah diskusi mengenai pemikiran dan kehidupan Soe Hok Gie setahun yang lalu. Saat itu, aku membaca beberapa buku biografi Soe (panggilan Soe Hok Gie) dan tulisannya sendiri yaitu Lentera Merah dan Catatan Seorang Demonstran.

Saat membaca buku Catatan Seorang Demonstran, aku tidak menemukan catatan Soe Hok Gie pada pra dan pasca peristiwa ’65. Pertanyaan yang muncul di kepalaku, kenapa tidak ada? Apakah Soe lupa menuliskannya? Aku tidak yakin kalau Soe tidak menulisnya. Atau memang catatan tersebut sengaja dihilangkan? Pertanyaannya kemudian, mengapa catatan tersebut dihilangkan?

Menurutku, catatan pada masa itu sangat penting untuk memahami pemikiran Soe saat itu menghadapi perubahan politik yang didambakan.

Hmm… dalam waktu dekat aku akan membaca kembali bukunya dan membuat resensinya!

[Bagian I] Penggunaan Internet untuk HAM

2

[Tulisan ini merupakan bagian dari modul yang sedang dikembangkan oleh Komunitas Sekitarkita. Terdiri dari empat bagian utama; mesin pencari, situs informasi HAM, penggunaan e-mail, dan membuat situs HAM. Untuk reproduksi, seluruh atau sebahagian dari materi harap menghubungi komunitas sekitarkita atau penulis di syaldi.sahude[at]gmail.com

Perkembangan teknologi informasi di dunia memberikan dampak langsung kepada masyarakat luas Kehadiran berbagai perangkat seperti komputer, handphone dan berbagai macam gadget lainnya menjadi dampak dari perkembangan tersebut. Meningkatnya kebutuhan akan informasi dan komunikasi seiring dengan perkembangan perangkat tersebut. (more…)

Teater Nyai Ontosoroh; antara senang dan kecewa

2

“kita sudah melawannya nak, Nyo! Sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya” Nyai Ontosoroh, Bumi Manusia

Tadi malam, seorang teman mengajakku (lebih tepat todongan tiket gratis) untuk menyaksikan pagelaran teater Nyai Ontosoroh di Taman Ismail Marzuki (TIM). Awalnya aku agak segan untuk menyaksikan teater ini, namun rasa penasaran dan ingin melepas rasa jenuh, tawarannya aku terima.

Aku sudah sering mendengar dan membaca tentang pagelaran teater ini. Melalui e-mail dan obrolan santai diantara kawan jaringan. Setahuku, pagelaran ini di dukung oleh banyak LSM dan seniman.

Antara senang

Cerita Nyai Ontosoroh adalah adaptasi dari novel Tetralogi Pulau Buru, Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer (Pram). Karakter dan kharisma yang begitu kuat digambarkan oleh Pram dalam sosok Nyai Ontosoroh. Dialah salah satu sosok perempuan yang paling membekas dalam ingatanku setelah membaca tetralogi.

Saat ingin menyaksikan pertunjukan ini, terbersit keraguan yang besar “apakah teater ini mampu memberikan gambaran yang tepat untuk sosok Nyai ontosoroh”?. Happy Salma dipercaya untuk berperan More >

Jadi Golput, Kenapa Tidak?

1

Hmm… mulai minggu ini, Jakarta akan kembali hiruk pikuk dengan kampanye para calon gubernur  (cagub). Mereka akan berkampanye alias menjual kecap nomor satu selama 10 hari dimulai pada tanggal 22 Juli 2007. Jika anda mencari janji yang paling yahud, silahkan baca selebaran dan berbagai media propaganda para cagub, anda tinggal pilih. Masalah realisasi,tunggu dulu, jangan terlalu berharap kata orang tuaku… (more…)

Tahukah anda?

2
  • Khusus untuk pilkada DKI Jakarta, anggaran pilkada dalam RAPBD DKI Jakarta tahun 2007 tercatat Rp238 miliar.
  • Dalam laporannya, tim kampanye pasangan Fauzi Bowo-Prijanto menulis, sumbangan dana kampanye yang mereka terima Rp 10.939.177.335, yang berasal dari perorangan maupun perusahaan.
  • Pada periode yang sama, tim kampanye pasangan Adang Daradjatun-Dany Anwar mendapat sumbangan lebih besar, yakni Rp 31.435.018.287.

Jika angka diatas ditotal secara kasar maka akan muncul nilai yang jauh lebih besar dari anggaran kesehatan masyarakat miskin di Jakarta sebesar 20 milliar. Ironis bukan…..?

Go to Top