Malam itu…

2

00.00 am Saat hampir semua manusia terlelap Ditengah malam sepi mengigit Saat manusia makin asyik Bercanda dengan mimpi-mimpi indah mereka

00.15 am Aku masih terjaga sendiri Terjebak dalam ruang semu Bergelut dengan lamunan kosong Tenggelam dalam alam khayalku

00.27 am Cecak mengalunkan irama pasti Mengiringi lamunanku malam ini Jam berdetak dengan pasti Seiring dengan degup jantung ini

01.00 am Sang Penguasa waktu…… Seakan memutar roda waktu dengan perlahan Akupun makin tenggelam Terbuai dalam khayalan semu

01.20 am Otakku lelah, lemas, letih ,lesu Kelopak mataku seakan menguncup Angin malam bertiup sendu Menerpa wajah kuyu ini sekejap

01.50 am Kurebahkan badanku di pembaringan Kututup mataku perlahan Berharap Sang Dewi mimpi datang Membawaku ke alam mimpi

05.00 am Azan shubuh terdengar merdu Dari sebuah langgar Matahari telah menampakkan wajahnya Menuntaskan sinetron mimpi indah

Aku terjaga sambil tersenyum “Selamat pagi … dunia yang kejam”

Syaldi, 17 November 1999. 02.00-05.00 am

Masa Kecil Yang Indah!

2

Tidak ada yang istimewa dengan masa kanak-kanak yang aku lewati. Seperti anak lain kebanyakan, aku sangat menikmati bermain dengan teman-teman sebayaku. Bermain berbagai permainan tradisional yang saat ini tidak akan kita temui saat menjadi satu hal yang dapat menjadi kenangan yang indah. Kreatifitas yang muncul dari kondisi orang tua yang hanya mampu untuk menyekolahkan kami, membuat aku dan kawan-kawanku yang lain mempunyai banyak permainan.

Setelah tamat dari TK. Kumara Jaya, aku kemudian melanjutkan ke SD. Sanddika. Sekolah ini adalah yang paling berkualitas di lingkunganku. Pengelolanya adalah yayasan yang didirikan oleh perusahaan tempat orang tuaku bekerja. Para pengajar tidak lain adalah tetangga kompleksku sendiri. Yang aku ingat adalah Pak Muis (yang kebetulan adalah guru ngajiku saat itu) dan Ibu Bongga (tetangga sebelah rumah) Teman sekolahku mayoritas berasal dari anak para pegawai PKG, yang juga adalah teman satu kompleks denganku. Saat ini aku hampir lupa teman-temanku di masa SD. Yang kuingat adalah More >

Atas dan Bawah; Kumpulan komunike EZLN

0

Buku ini diterbitkan oleh Resist Press. Aku lupa jumlah halamannya. Yang pasti, buku ini berisi kumpulan komunike dan surat EZLN yang ditulis oleh Sub-comandante Marcos, salah satu pimpinan EZLN.

Dengan gaya menulis yang mengalir, kocak dan senang menggunakan tokoh khayalan dari cerita dongeng seperti kumbang yang mengaku sebagai Don Durito, Sub-comandante Marcos mengulas berbagai masalah yang dihadapi oleh Zapatista. Tulisannya yang ringan mampu menjelaskan tentang rumitnya permasalahan yang menyelubungi globalisasi ekonomi, politik dan budaya.

Jika anda mencari tulisan serius, anda tidak akan mendapatkannya dalam buku ini. Jika anda mencari tulisan yang penuh jenaka namun cerdas, silahkan baca buku ini…

Pancasila, Komunisme dan Hak Asasi Manusia

9

Apa yang sebenarnya dipahami oleh masyarakat awam di Indonesia tentang komunisme sebagai sebuah ideologi? Dalam sebuah kesempatan, penulis terlibat dalam serangkaian diskusi di beberapa SMU tentang kekerasan dalam sejarah Indonesia. Sebuah pertanyaan diajukan oleh penulis “apa yang terlintas di pikiranmu saat mendengar kata komunis?” Serentak beberapa siswa kemudian berceletuk “pembunuh, atheis, pemberontakan, partai kiri, musuh pancasila, orang tidak bermoral dan seterusnya”. Kejadian ini terus berulang dalam keseluruhan rangkaian diskusi yang dilakukan. Beranjak dari apa yang dipahami oleh siswa SMU tersebut, dapat kita lihat sebagai sebuah contoh kecil dari apa yang dipahami oleh masyarakat awam. Dari sini muncul sebuah pertanyaan bersama “apa sebenarnya yang dimaksud dengan komunisme?” Benarkah semua tuduhan tersebut?

Paper ini bertujuan untuk memberikan gambaran tentang relevansi komunisme di Indonesia. Akan tetapi, dalam proses menjawab tujuan tersebut diatas, penulis mencoba mengangkat tentang sejarah komunisme yang kemudian menjadi sebuah momok menakutkan dalam benak bangsa Indonesia. Secara panjang lebar, penulis akan More >

Mekanisme Penyelesaian Pelanggaran HAM Masa Lalu: Sebuah Harapan dan Kenyataan

6

“Jika kejahatan yang terjadi di masa lalu (oleh negara) dibiarkan begitu saja, maka niscaya peristiwa semacam itu akan terulang”

Rakyat Indonesia yang hidup dalam rejim orde baru yang otoritarian telah mencatat berbagai peritiwa kekerasan dan telah mengorbankan masyarakat Indonesia. Orde baru dengan berbagai dalih tentang kesatuan, stabilitas serta pembangunan bangsa melakukan kekerasan terhadap masyarakatnya sendiri dengan tujuan untuk mempertahankan kekuasaanya. Pemerintah yang berkuasa menggunakan kekuatan dari aparat negara sebagai alat yang ampuh dalam melakukan penekanan terhadap masyarakat. Pelanggaran terhadap hak-hak dasar yang dimiliki oleh setiap manusia sebagaimana termaktub dalam Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia (DUHAM) menjadi hal yang ‘legal’ dalam Rejim Orde Baru. Walaupun, sebagaian kelompok masyarakat berupaya untuk menyuarakan tentang pentingnya perlindungan, penegakan dan penghormatan terhadap Hak Asasi Manusia (HAM) usaha tersebut terus dihambat oleh rejim yang berkuasa.

Pergantian kekuasaan dari rejim otoritarian ke rejim demokrasi pada tahun 1998 telah memberikan angin segar terhadap penegakan HAM di Indonesia. Pemerintah More >

Go to Top