HURISEARCH
HuriSearch by HURIDOCS
Mencari di sekitar 4500 web-site hak asasi manusia di seluruh dunia
|
Coretan
Ditulis oleh Syaldi Sahude, pada 12 February 2007 | | Dilihat 91 kali
Ada yang hilang dariku malam ini
Rasa sepi dan rindu menyergapku seketika
Kegamangan akal dan rasio tidak terelekkan
Potongan masa lalu pun berbaris
Aku merindukan diriku yang bodoh
Aku yang melihat dunia dengan polos tanpa curiga
Bernyanyi riuh rendah dengan nada sumbang
Tak peduli…
Kapan aku bisa kembali pada alamku?
Kelip kunang-kunang yang bersenda gurau dengan gelap
Paduan suara jangkrik tak henti menentang sunyi
Riam sungai yang tiada lelah menghantam batu
Raut wajah tua penuh kasih masih tertanam
Tak mungkin aku lepas kenangan dengan mereka
Mereka selalu mengajarkanku menjadi manusia
Mereka selalu mendidikku dengan nurani
Sekelebat wajah, muncul dengan cinta
Perhatiannya yang menggelitik namun di rindu
Bilur pengorbanannya tak dapat kutulis
Sayang, tanganku melepasnya dengan cinta
Larik kata tak mungkin terhenti
Goresan pena tak lekang oleh waktu
Jika itu benar…
Tak heran, sinkronisasi jari dan akal
Memaksaku untuk tidak berhenti
Lalu apa yang ku cari dalam sepi ini?
Entah, mungkin kau bisa menjawabnya…
Syaldi, 31 Agustus 2006, 01:00
Coretan
Ditulis oleh Syaldi Sahude, pada 12 February 2007 | | Dilihat 99 kali
Stop…. Berhenti….!!!
Sudah cukup… jangan kau lanjutkan..!!!
Sudahlah omong kosongmu tentang keadilan
Adil, keadilan, peradilan, pengadilan
Apa itu…? Cita-cita? BOHONG…!!!
Sudah cukuplah kita mimpi
Jangan buat adil itu terwujud
Nanti hakim-hakim tidak punya mimpi
Mahasiswa hukum harus berhenti kuliah
Apa itu adil…? Katakan…!!!
Cepat katakan…!!!
Keadilan bagi semua orang?!
Hari gini masih bicara adil?!
Ya… sudah…!!!
Hei, tangkap maling itu….
Dasar sundal….!!!
Ayam orang di gondol…
Setan kamu… bakar…!!!
Biar tahu rasa dia!!
Jangan…!!! Jangan…!!!
Aku cuma ambil ayam
Aku cuma maling ayam
Kenapa bukan koruptor yang dibakar?
Kenapa harus saya…..
Diam…. Pokoknya kamu diam….!!!
Setan… dasar maling…!!!
Banyak omong kamu…!!!
Ini namanya keadilan…
Koruptor jangan dibakar…!
Itu tidak manusiawi
Lagipula, masih ada kesempatan
Lumayan, kecipratan dikit
Kecipratan itu wajib hukumnya…..
Sekarang uang bos….uang…!
Uang memang tidak punya mulut
Tapi uang selalu bicara
Ada uang, ada adil
Tak ada uang, ta’ adili sampeyan
Syaldi, 31 Agustus 2006 – 03:45
Kamar
Ditulis oleh Syaldi Sahude, pada 12 February 2007 | | Dilihat 87 kali
Hmm… masa sudah menyentuh dinihari. Mata ini masih juga sulit dipejamkan untuk sekejap. Sudah dua minggu ini aku berpikir tentang satu hal yang selalu mengganggu salah satu ruang dalam pikiranku.
Beberapa bulan yang lalu-aku tidak ingat persis kapan tepatnya-aku memutuskan untuk membeli sebuah music player. Sebenarnya, tidak ada niat untuk membeli barang yang cukup mewah yang tentunya agak sulit terjangkau oleh kantongku yang rada ngepas. Akan tetapi, sejak aku mulai dikontrak untuk bekerja di satu kegiatan yang menuntutku sering bepergian, aku mulai merasakan membutuhkan sesuatu yang bisa menemaniku dalam perjalanan yang membosankan. Ditambah lagi, perjalanan membosankan yang aku harus tempuh dari sudut ke sudut yang lain di Jakarta membuatku harus mencari sesuatu yang dapat menemaniku. Kuputuskan kemudian membeli sebuah music player dengan merek yang cukup terkenal. Tak perlu kusebutkan mereknya, aku sudah membeli barangnya, masak aku harus mempromosikannya lagi.
Sejak saat itu, barang ini selalu menemaniku. Ke kampus, ke pertemuan, ke tempatku bekerja, pokoknya ke manapun bahkan sampai buang air besar. Aku menikmati betul alunan suara yang diproduksi oleh barang mewah yang menggiurkan ini. Perjalanan jauh pun ku tempuh dengan riangnya. Tinggal pencet tombol, pasang earphone, kemudian musik jazz dan rock pun berseliweran di telingaku. Perjalanan di jalan Jakarta yang selalu macet hingga perjalanan ke ujung Indonesia, Papua yang minta ampun lamanya, dapat kunikmati. Begitu praktis, dengan banyak kegunaan. Itulah pikiranku saat menggunakannya selama sebulan. Suara bising jalanan Jakarta pun kalah dengan alunan musik Chumbawamba yang kerap ku dengar. Tanpa harus terganggu dengan suara pengamen, aku dapat menikmati alunan musik klasik Mozart yang selalu mengundangku untuk merasa lepas. Komposisi musik Anane yang begitu dinamis membuatku lupa dengan sumpeknya bis kota dan celotehan para penumpangnya. Bahkan, aku tidak peduli dengan apa yang mereka bicarakan.
Akan tetapi, aku merasakan ada sesuatu yang hilang dalam keseharianku. Pelan tapi pasti, aku mulai merasakan kehilangan kepekaan. Dulu, aku masih dapat mendengarkan apa yang diperbincangkan oleh penumpang bus. Mulai dari permasalahan rumah tangga hingga isu politik yang tengah berkembang. Ada begitu banyak ragam dinamika kehidupan masyarakat yang lepas dari pengamatanku karena asyik dengan “duniaku” sendiri. Inikah yang dikatakan gejala individualisasi di tengah kota metropolitan? Mungkin apa yang aku pikirkan ini salah, tapi inilah yang aku rasakan. Pertanyaan pun muncul, apakah ini sekedar penasaran atau memang sebuah realita sosial yang sedang berkembang? Selama beberapa hari aku putuskan untuk tidak menggunakan gadget ini. Kuperhatikan sekelilingku, yup… hal ini memang terjadi. Walaupun tidak drastis, tapi proses itu terus terjadi. Seperti bola salju yang menggelinding, melindas aral yang melintang.
Perkembangan teknologi telah menyediakan begitu rupa layanan yang membuat seseorang untuk nyaman dengan dirinya. Telepon selular keluaran terbaru meyediakan berbagai fasilitas, tidak hanya untuk komunikasi, tapi juga untuk mendengar musik maupun menonton film. Alamak, semua hal yang kita butuhkan seakan-akan terpenuhi oleh benda mungil ini. Untuk dapat gosip terbaru, tinggal pencet, satu dua tombol, informasi pun muncul. Mau bayar tagihan, pencet tombol selesai. Tidak perlu antri, urusan selesai.
Coba anda perhatikan, mulai dari sumpeknya bis kota hingga pojokan gang sekalipun, anda bisa melihat kemajuan teknologi yang semakin memberangus hubungan sosial antara manusia. Entah Marx atau Engels yang mengatakan tentang teori alienasi manusia (lebih tepatnya kelompok buruh di dunia ekonomi politik), berlaku juga di dalam perkembangan teknologi. Secara sadar dan perlahan, kemajuan teknologi mendorong kita menjadi asing dengan orang lain…
ditulis oktober 2006
Beranda
Ditulis oleh Syaldi Sahude, pada 7 February 2007 | | Dilihat 74 kali
Situs ini hanya sebagian kecil dari apa yang terjadi dalam kehidupan seseorang yang di berikan label Syaldi. Harapan, keluh kesah, pikiran, amarah dan refleksi sebagai individu akan dituangkan dalam tulisan-tulisan sederhana.
Pasti anda bertanya, mengapa blog ini diberi judul House Of Question? Sederhana, kita hidup dipenuhi dengan pertanyaan tentang berbagai hal di sekeliling kita. Setiap menit kita selalu berkutat dengan pertanyaan. Pertanyaan tersebut mungkin saja ada terjawab namun sebagaian besar mungkin tersimpan dalam memori yang kemudian lupa digerus oleh waktu. Agar pertanyaan tersebut tidak digerus oleh waktu, tuliskan saja dengan berbagai bentuk. Yakinlah, dari pertanyaan tersebut akan mendapatkan jawaban dengan sendirinya
Coretan
Ditulis oleh Syaldi Sahude, pada 19 October 2006 | | Dilihat 62 kali
Seperti api yang menjalari seluruh urat darahku
Ingin ku mendapatkan ambisi di dunia.
Melibas semua halangan di hadapanku
Tak peduli dengan apa yang akanku hancurkan
Melintasi ruang waktu coba mencari lagi
Sesuatu yang telah terbuang dan terlupakan
Kutatap masa depan dengan nurani serigala
Kan kutundukkan semuanya di bawah telapak kakiku
Mataku mememerah saat angin kedamaian menerpa
Telingaku pekak mendengar lagu cinta
Yang kutahu adalah kekuasaan, kuasa, kuasaaa……..
Aku tak perduli yang lainnya
Nuraniku telah menghitam
Seiring sang roda waktu yang terus berputar
Aku yang akan mengendalikan waktu
Dunia akan berada di genggamanku
Syaldi, 20 Januari 2000, 00:00
|
|
Komentar Anda