HURISEARCH


HuriSearch by HURIDOCS
Mencari di sekitar 4500 web-site hak asasi manusia di seluruh dunia

Kategori

Solidaritas

Coretan

Tak Berjudul

Seorang anak manusia di kelam malam
Memandang kosong malam yang berlalu
Terselip sepucuk masalah dalam benaknya
Masalah yang telah membatu bagai karang

Tiba-tiba dia tertawa penuh arti
Dia berlari dengan napas memburu
Berusaha melewati sebuah pintu masa
Masa dimana dia kecil

Dia berhenti
“Oh..betapa bodohnya aku” umpatnya
Dia berdiri dengan sombong
Menantang kembalinya malam dingin yang kelam
Tamparan angin malam mulai mengodanya

Betapa berdosanya aku ini”gumamnya
Dia duduk dan mulai tersadar
Selama ini dia telah bersandar di sisi dunia yang gelap
Tempat dia bermain dengan setan-setan nafsu

“Oh. Tuhan dimanakah cahaya-Mu”
Berilah setetes embun penyejuk
Di hati yang penuh dengan keserakahan
Di jiwa yang penuh ambisi yang hitam”

Langit hitam menumpahkan air kehidupan
Tersentak dan tersadar dia
Didepannya masih ada pintu
pintu tobat dari-Nya

Syaldi, 09 Desember 1999 11:49

Coretan

Sepi…

Aku benci berada dalam sepi malam ini
Sendiri, dalam kamar hotel yang seolah mati
Tidak ada teman selain tembakau yang mematikan
Muak aku melihat “kotak sampah” di depanku
Memaksa mataku untuk melihat kuku kapilatis
Mencengkram otakku dengan pelan tapi pasti

Otakku yang liar semakin liar dalam sepi
Mendorongku untuk berpikir, terus berpikir dan berpikir
Jariku yang pegal dengan terpaksa harus menekan keyboard
Tak mampu kutahan “onani” di kepala…

Aku masih dalam dikurung sepi
Belum kutemukan titik cerah dalam benakku
Masih terus kupandangi layar notebook
Penuh dengan abdjad yang makin tidak beraturan
Penuh dengan kata dan keluh kesah
Penuh dengan kenyataan dan kebohongan
Mungkinkah ini yang akan kita rasakan?

Saat kita merindukan seseorang yang kita kasihi
Saat kita kehilangan seseorang yang kita cintai
Atau mungkin saat jiwa kita sudah terbebas dari raga
Aku tak tahan

Muak dengan sepi yang menggeluti diriku
Perut yang keroncongan terus menyatakan keberatan
Tapi aku masih tertawan di dalam sepi
Andai saja ini adalah akhir dari kepenatan…

Semarang, 31 Mei 2006

Beranda

Soe Hok Gie Dikupas Lagi

Jakarta, Rakyat Merdeka. Walau sudah 37 tahun wafat di Gunung Semeru, nama Soe Hoek Gie masih diperbincangkan.

Malam ini, (Kamis, 12/1), sosok adik kandung Soe Hok Djin alias Arief Budiman ini akan hadir dalam Diskusi Bulan Purnama yang digagas para pekerja budaya muda yang tergabung dalam Jaringan Kerja Budaya (JKB). Selanjutnya… »

Coretan

Belum waktunya anakku……

Belum waktunya anakku……..
Untuk kau mengenal dunia ini
Kau seperti pucuk daun di dahan itu
Dunia tak seindah sinetron di TV

Belum waktunya anakku……..
Kau melihat ke atas sana
Di sana bukan kita
Terlalu banyak orang dan intrik kotor

Belum waktunya anakku……..
Turunkan mukamu…… jangan kau tatap dia
Jangan kau lawan tirani itu
Dia masih seperti sebuah karang

Belum waktunya anakku……..
Kau bercita-cita ke depan
Mimpimu masih banyak yang terlewatkan
Resapi dulu mimpi-mimpi itu

Belum waktunya anakku……..
Jangan silau dengan harta duniawi
Itu bumerang maut untuk kita
Itu membuat lupa siapa kita

Belum waktunya anakku……..
Berteriak lantang tentang kemanusiaan
Kau belum sempurna seorang manusia
Manusia sendiri kadang tak tahu dia adalah manusia

Sudahlah……sekarang ……
Cuci kakimu, cuci tanganmu, lanjutkan dulu tidurmu
Ibu disampingmu…masamu akan datang
Simpanlah semangatmu itu
Belum waktunya anakku……..

Syaldi, 24 April 2000

Coretan

Balada Negeriku

Di persimpangan jalan itu
Masih tercium di hidungku ini
Bau segar mesiu yang baru dimuntahkan
Berpuluh-puluh mayat berserakan terlihat dimataku ini
Bau anyir darah segar memuakkan

Sang maestro api perlahan dan pasti
Membakar, menghanguskan semua yang ada di pelukannya
Kepulan asap mewarnai malam gelap
Gemerutuk kayu terbakar memecah keheningan malam

Wajah ketakutan terpancar dari wajah
Wajah seorang bocah yang masih berdiri di seberang jalan
Api masih menari dengan lincah di rumahnya
Ayahnya ada di dalam, Ibunya ada di dalam
Kakaknya ada di dalam, semua keluarganya telah hilang

Sang pemimpin angkuh di balik mejanya
Tertawa lantang atas kesuksesannya
Saat benaknya yang mulai menghitam
Nasfu kekuasaan menguasai jiwanya
Titisan setan telah memenuhi alirah darahnya

Dan dia mulai menghitung dengan jarinya
Dan mulai berpikir besok dimana, lusa dimana

Prajurit yang setia pada komandonya
Yang seharusnya menjadi pelindung rakyat
Sekarang malah menjadi pembasmi rakyat
Bagaikan sepotong robot tanpa hati nurani

Berapa banyak lagi tumbal yang harus jatuh
Berapa banyak lagi anak-anak akan kehilangan ayahnya
Ibunya, saudaranya, pamannya, dan keluarganya

Habis sudah suara kami
Berteriak mencoba menggugah hati sang pemimpin
Oh….. mungkin sang pemimpin kita…
Sedang bermain di negeri mimpi

Syaldi, 24 November 1999, 02.40

Coretan

Revolusi

Aku telah lahir di dunia
Kan ku ubah dunia ini menjadi
Dunia kebebasan penuh ceria
Dunia damai penuh cinta

Aku tak terpatahkan…
Kan kulumat kerikil-kerikil penghalang
Dibawah telapak kakiku
Inilah aku datang……

Aku adalah sebuah puisi abadi…
Tak luluh di makan oleh roda jaman
Itu yang telah tergaris dalam buku takdirku
Tak terhapus oleh tirani bermoral bejat

Suara kedamaian sudah saatnya didengar
Udara kebebasan sudah saatnya dihirup
Kue kasih sayang sudah saatnya tertelan
Sinema kemanusiaan sudah saatnya ditonton

Dekatlah…dekatlah bersama ku
Langkahku telah dimulai
Derap-derapnya akan terdengar jauh
Mengetarkan bumi yang di pijak
Kita adalah keabadian yang abadi…

Syaldi, 8 Oktober 1999

Halaman 27 dari 28« Awal...10«19202122232425262728»