HURISEARCH


HuriSearch by HURIDOCS
Mencari di sekitar 4500 web-site hak asasi manusia di seluruh dunia

Kategori

Solidaritas

Coretan

Mencari Makna Cinta

Cinta sebuah kata yang indah
Kata yang merangkum arti kasih sayang
Simbol dari perasaan yang suci
Kata yang melawan segala kebencian

Ketika cinta merasuki sukma
Pernahkah kau dengar sebuah nasihat bijak
“bila kau ingin merasakan cinta
maka bersiaplah merasakan kecewa”

Tatkala cinta telah melanda manusia
Tak perduli kasta, umur, strata
Seakan cinta membutakan mata kasat kita
Tapi mata nurani yang berbicara

Cinta mempunyai arti yang sakral
Cinta melambangkan kesucian hati
Tapi ada manusia memandang nafsu sebagai cinta
Cinta hanya untuk sebuah permainan

Bila ada seseorang
Yang mencoba berjalan diatas dunia
Tanpa cinta, dia akan merasa
Berjalan tanpa tujuan di atas gurun yang panas
Dan perlahan-lahan tertelan ditengahnya

Cinta ibarat danau biru yang luas
Saat kita menenggak airnya
Terasa sejuk menelusuri relung hati yang kosong
Mencoba mengarunginya akan terasa indah
Tapi ada saatnya dia akan menenggelamkan kita
Ke dalam dasar danau itu

Cuma satu yang telah lama aku tahu
Cinta telah tercipta
Ketika Yang Maha Kuasa
Menciptakan alam dan isinya

Syaldi, 24 November 99, 02.00

Coretan

Panggilan untuk Sang Maut

“Malaikat maut, aku memanggilmu”
“Datanglah menghampiriku”
Aku telah siap …
Aku ada disini

Ketika aku berada dalam rahim ibuku
Aku membayangkan dunia yang indah
Tapi ternyata, dunia hampa tak seindah yang kukira
Yang ada hanya kemunafikan belaka yang ada didunia

Takdir seorang manusia telah berkata…
Kita dilahirkan…
Kita hidup…
Kita akan mati…

Sekarang…
Aku telah dilahirkan
Hidup telah kujalani…
Waktunya aku bertanya
“Sekarang Kapan aku mati”

Syaldi, 08 oktober 1999

Jendela

Dua Bulletin yang Mengusik

Malam itu, aku sedang duduk di depan monitor komputer. Seperti biasa, aku berselancar mencari berbagai informasi di dunia maya. Sambil iseng, aku buka Friendster, salah satu situs yang menyediakan layanan menghubungkan antara penggunanya. Mataku kemudian terantuk pada satu Bulletin Board yang berjudul “Hentikan Memberikan Uang pada Anak Jalanan” yang dikirmkan oleh seorang teman. Diatasnya lagi, terdapat satu judul “Baca ini sebelum menyebarkan bulletin ttg ‘Hentikan Memberi Uang Pada Anak Jalanan’!!!” yang dikirmkan oleh seorang kawanku yang lainnya. Selanjutnya… »

Jendela

Sandiwara yang Berjudul Pemilu

Satu saat, saat hari beranjak menuju malam, aku menikmati hidangan makan malam di sebuah warung kecil. Di sebelahku terdapat beberapa orang pemuda yang sedang ngobrol tentang pemilu kali. Seru sekali tampaknya, sepertinya mereka adalah simpatisan salah satu partai politik yang akan beradu di awal bulan ini. Pikirku, bulan ini pasti banyak pabrik kecap yang laku keras soalnya semua partai jual “kecap”.

Mataku terantuk pada sebuah pesawat televisi di pojok ruangan warung tersebut. Makanan yang ku pesan belum juga tiba, sementara beberapa pemuda tersebut sudah diam menikamti makanannya. Obrolan mereka terhenti saat melihat iklan salah satu partai politik. Setelah melihat iklan tersebut, mereka kembali “berisik” membicarakan betapa hebatnya idola mereka. Aku kemudian berpikir sendiri sambil menunggu makananku. Aku bertanya, apakah mereka tidak tahu siapa yang menjadi idola mereka.

Peristiwa ini kerap kali ku temui, di pelosok gang, pojok mikrolet dan di tengah sesaknya metromini bahkan sampai ke ruang kamar tidur. Masa kampanye untuk PEMILU 2004 ini seolah menjadi ajang promosi satu produk yang belum kelihatan. Hampir semua partai menjanjikan banyak hal, mulai dari masalah ekonomi, politik, pendidikan, dan banyak macam lagi. Mereka yang menjadi sedang bersaing untuk menjadi penguasa-penguasa kecil menjadi fasih mengucapkan janji yang manis.

Hamburan kata-kata indah teruntai menjadi satu omong kosong yang tidak dapat di jamin keluar dari mulut mereka. “Pilihlah saya, maka negeri ini akan aman!” ucap salah seorang capres.

Ada apa ini? Dia yang sampai saat ini dicurigai merencanakan sebuah kerusuhan bisa berbicara seperti. Bahkan, dia sudah terbukti terlibat dalam penculikan beberapa aktifis pro-demokrasi bisa berbicara seperti itu. Tak habis pikir aku dibuatnya! Lama ku pikir, ku timang, ku pandang, betul juga apa yang dia bilang, negara ini bisa menjadi “aman” apabila semua warga negara hidup di bawah ketakutan. Masih ingat rasanya, aku tidak boleh berbicara sepatah katapun tentang keburukan satu rejim. Salah sedikit, beruntung kalau masih dipenjara, bagaimana kalau hilang tanpa jejak?

Lain lagi, yang kubaca sebuah spanduk yang terbentang di bilangan Kalibata. “Kalau mau pendidikan dan kesehatan murah, cobloslah saya” begitu yang tertulis di spanduk tersebut. Bagus juga capres ini, dari sekian banyak janji yang sedikit lebih baik tapi usut punya usut kata-kata itu menjadi aneh? Bagaimana mungkin pendidikan dan kesehatan menjadi murah padahal subsisi untuk rakyat di terus dicabut? Desakan negara-negara donor yang punya modal kuat tidak mungkin ditolak oleh indonesia. Utang negara kita yang tercinta ini kepada mereka kira-kira 94 triliun. Itu uang, bukan hanya kertas biasa tapi dana yang telah dihabiskan oleh orde baru untuk kepentingan mereka sendiri dan kita yang harus menanggungnya. Oh iya, aku baru teringat bahwa dia-si pencetus spanduk itu- merupakan salah satu penikmat dana tersebut.

“Siapa yang anti-reformasi dan korupsi bukan kader partai saya!” teriak lantang seorang juru kampanye (jurkam) di sebuah lapangan. Sebelumnya seorang penyanyi dangdut dengan goyangan tampil menghibur para simpatisan yang seolah tidak sabar menanti janji manis dari jurkam impian mereka. Mungkin karena tidak sabarnya, mereka sedikit demi sedikit pulang saat jurkam tersebut akan memulai penjualan kecap-nya. Kuperhatikan jurkam itu siapa, kulihat lebih dekat. Bukankah dia baru-baru ini terlibat dalam kasus korupsi tetapi berkat “lindungan” sang penguasa dia bisa bebas dari jerat hukum.

Entah mengapa, aku kemudian berpikir, Kampanye ini “berhasil” menunjukkan kebusukan mereka sendiri. Mungkin terlalu cepat mengatakan itu, setidaknya saat ini. Tapi aku tidak sendiri, banyak orang yang mempunyai pemikiran yang sama denganku, mungkin juga anda yang sedang membaca ini. Tapi kalau berbeda juga, tidak menjadi masalah bukan?

Pagi itu, aku membaca sebuah harian umum. Ku buka lembar demi lembar sambil menikmati kopiku yang mulai dingin. Mataku menatap sebuah foto dengan keterangan “para tukang becak menagih janji uang dari partai X yang belum dibayar”. Kubaca lebih lanjut beritanya. Ternyata tukang becak itu meminta bayaran yang dijanjikan oleh partai tersebut untuk ikut berkampanye. Besarnya lumayan juga, 25 ribu rupiah. Seorang temanku pernah bercerita tentang seorang kawannya di bilangan Jakarta Utara. Dia pernah dijanjikan sejumlah uang untuk menjalankan kampanye salah satu parpol yang terkenal cukup kaya raya. Ternyata, dia memanfaatkan dengan baik tawaran itu dengan menjadikannya sebagai lahan “pekerjaan”. “Lumayan, cuman duduk diatas mobil dapat 25 ribu” ujarnya. Akhirnya dia sibuk setiap hari mencari makelar yang mau membayarnya berkampanye. Temanku pernah bertanya kepada temannya tersebut, “lalu, nanti kalau pemilu, kamu coblos apa?”. “Itu urusan gue dong, kalau sekarang mah yang penting duitnya saja kita makan”. Pragmatis, itu yang langsung muncul dikepalaku. Aku tidak bisa mengatakan bahwa itu kurang tepat atau tepat. Imbasnya nanti akan terasa pada gerak masyarakat sehari-hari.

Ah…. Nanti saja aku akan lanjutkan. Kopiku sudah dingin, rokok di tangan sudah mulai terasa panas. Sudah saatnya aku ke beranda rumah yang sepi…

Coretan

Refleksi Diri

Aku adalah aku
Aku bukan kau
Apalagi mereka

Aku adalah aku
Aku bukanlah super hero
Aku bukanlah hanya seonggok daging dan darah

Aku adalah aku
Aku yang menyimpan amarah
Aku yang menangis

Aku adalah aku
Aku tidak jahat
Aku tidak juga baik

Aku adalah aku
Aku bukan kau
Apalagi mereka

Coretan

“Apakah merdeka itu … bu?”

“Apakah merdeka itu … bu?”
Tanya seorang bocah kecil kepada ibunya
“Merdeka itu artinya bebas”
“Kau bebas bernyanyi, bebas hidup, bebas tertawa”
Jawab ibunya sambil tersenyum

“Bebas ya…mmm… enak ya”
“Tapi kok ayah kok dipenjara”
tanya bocah itu polos
“oh…itu karena ayahmu bernyanyi”
“Katanya bebas bernyanyi…?”
“Ayahmu bernyanyi terlalu keras kepada pemimpin kita
sehingga kuping sang pemimpin merah”

“Kok begitu sih… berarti kita belum merdeka”
tanya bocah itu lagi.
“kita sudah merdeka, tapi untuk orang yang kaya saja”
“kita kan orang miskin, bu. Berarti kita belum merdeka..dong”
” ya…begitulah, anakku…kita belum merdeka”

Halaman 28 dari 28« Awal...10«19202122232425262728