Kamboja
Ditulis oleh Syaldi Sahude, pada 29 June 2009 | | Dilihat 204 kali
Beberapa bulan yang lalu, seorang teman menawarkanku untuk sebuah proyek di Kamboja, tepatnya di Phnom Penh. Proyek ini merupakan kerja sama sebuah lembaga di Swiss dan Kamboja. Setelah beberapa lama berpikir, akhirnya aku memutuskan untuk terlibat dalamm tim kerjanya. Akhirnya diputuskan, waktunya mulai akhir Juni hingga pertengahan Juli 2009. Selanjutnya… »
Hak Asasi Manusia
Ditulis oleh Syaldi Sahude, pada 16 June 2009 | | Dilihat 182 kali
Pada 5 Maret 2009, Sekretariat Jendral Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) meluncurkan situs ” Database on Violence Against Women”. Sebuah kemajuan dalam upaya penghapusan kekerasa terhadap perempuan secara global telah tercapai. Situs ini memberikan berbagai informasi tentang perkembangan kemajuan dari negara yang menjadi anggota PBB. Selama ini, informasi seperti sangat sulit didapatkan oleh masyarakat dan penggiat hak asasi manusia. Selanjutnya… »
Beranda
Ditulis oleh Syaldi Sahude, pada 27 May 2009 | | Dilihat 388 kali
akhirnya, selesai juga tulisan ini setelah mengendap selama 1 tahun di draft
Aku lalui masa kecil dengan cukup bahagia. Hampir semua keinginan dipenuhi oleh kedua orang tua angkatku, kecuali sepeda. Mungkin mereka peduli pada keselamatan. Maklum, ada pengalaman buruk yang menimpa ayahku. Namun, Onda dan Ma’ Onda begitu memanjakanku sehingga aku menikmati masa kecil.
Pergaulan dengan teman-teman yang beragam kelas, mulai dari kelas pekerja hingga kapitalis membuat dunia kecilku menjadi dinamis. Saat itu, mungkin persahabatan tidak mengenal kelas sehingga sekat-sekat itu tak terlihat. Kami bermain dan bergaul seolah tak ada batas. Selanjutnya… »
Coretan
Ditulis oleh Syaldi Sahude, pada 20 May 2009 | | Dilihat 179 kali
Apakah ini pertanda? Mungkin! Tapi apa perlunya pertanda jika pikiran sudah tak mampu lagi bekerja? Bukankah sedari dulu merindukannya hingga membuat napas terengah-engah mengejar waktu? Mengapa sekarang bertanya tentang sebuah pertanda?
Lalu apakah itu? Mungkihkah itu lembah tak berdasar? Ataukah ibarat laut tak berdasar dengan palung terdalam? Mungkin juga benar kata sang sufi, tapi pentingkah itu? Bukankah semuanya hanya dalam cita-cita makhluk yang fana? Tepat!
Mengapa badan ini terasa membeku? Mungkin darah sudah terlalu kental? Badan ini sudah tak mengikuti rima pikiran yang semakin telanjang… Perlukah ku injeksikan dengan norma agar tak telanjang? Mengapa kemudian menjadi tak nyaman rasanya di badan dengan norma? Lalu bagaimana dengan dogma? Semuanya tak penting!
Lalu mengapa sekarang gelisah? Semuanya tak berakhir begitu saja bukan? Tentu saja! Tapi apakah semuanya sudah berarti? Apakah titik itu sudah mencerahkan? Atau titik itu sudah menjadi noda di tembok kehidupan?
Jendela
Ditulis oleh Syaldi Sahude, pada 20 May 2009 | | Dilihat 114 kali
Sudah setahun, sang sahabat dan guru telah berpulang ke sisi-Nya. Om Oey, begitulah aku memanggil sang sahabat dan guru. Tulisan ini aku buat untuk mengingatkan semangat yang telah ditinggalkan untuk para generasi muda.
Aku tidak bisa mengingat persis kapan mulai mengenal sosok beliau. Aku sudah sering mendengar nama beliau saat mulai aktif di sekertariat bersama (sekber) Tim Relawan untuk Kemanusiaan (TRK) di bilangan Cikoko pada tahun 2001. Saat itu, aku sering berkumpul dengan teman-teman yang tergabung dalam Oral History Project (OHP) Tragedi ‘65. Dari mereka pula aku mengenal sosok beliau sebagai salah satu narasumber. Selanjutnya… »
Meja Kerja
Ditulis oleh Syaldi Sahude, pada 15 May 2009 | | Dilihat 108 kali
Hiruk-pikuk situasi politik di negeri terasa hingga terasa membingungkan. Semuanya masyarakat seolah tersedot perhatiannya ke politik praktis yang tak mendidik. Media dengan gegap gempita mengangkat situasi tersebut demi mengejar rating dan iklan.
Semuanya seolah berusaha melupakan sebuah peristiwa yang menandai catatan sejarah bangsa di bulan ini, Tragedi Trisakti dan Tragedi Mei 98. Peristiwa pada yang terjadi pada 11 tahun yang lalu seolah hanya menjadi potongan fakta yang tidak penting dan layak untuk dingat kembali. Ribuan manusia yang menjadi korban untuk tonggak perubahan seolah menjadi angka statistik Selanjutnya… »
Komentar Anda