<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>House of Question &#187; HURIDOCS</title>
	<atom:link href="http://syaldi.web.id/tag/huridocs/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://syaldi.web.id</link>
	<description>Bertanyalah, jangan pernah berhenti bertanya.</description>
	<lastBuildDate>Thu, 22 Dec 2011 12:51:20 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
		<item>
		<title>Akhirnya OpenEvsys Diluncurkan&#8230;!</title>
		<link>http://syaldi.web.id/2009/08/akhirnya-openevsys-diluncurkan/</link>
		<comments>http://syaldi.web.id/2009/08/akhirnya-openevsys-diluncurkan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 07 Aug 2009 21:10:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Syaldi Sahude</dc:creator>
				<category><![CDATA[Open Source]]></category>
		<category><![CDATA[Pemantuan HAM]]></category>
		<category><![CDATA[HURIDOCS]]></category>
		<category><![CDATA[openevsys]]></category>
		<category><![CDATA[sahana]]></category>
		<category><![CDATA[winevsys]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://syaldi.web.id/?p=980</guid>
		<description><![CDATA[Setelah dikerjakan lebih dari satu tahun, akhirnya sebuah aplikasi web open source untuk pendokumentasian Pelanggaran Hak Asasi Manusia diluncurkan. Aplikasi ini diberi nama OpenEvsys merupakan pengembangan dari WinEvsys merupakan hasil kerja keras dari HURIDOCS International dan Respere. Sebelumnya, Gugus Kerja Dokumentasi dan Informasi HAM telah menguji cobanya dan memberikan beberapa masukan di dalam pengembangannya. Berikut [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Setelah dikerjakan lebih dari satu tahun, akhirnya sebuah aplikasi web open source untuk pendokumentasian Pelanggaran Hak Asasi Manusia diluncurkan. Aplikasi ini diberi nama OpenEvsys merupakan pengembangan dari WinEvsys merupakan hasil kerja keras dari HURIDOCS International dan Respere. Sebelumnya, Gugus Kerja Dokumentasi dan Informasi HAM telah menguji cobanya dan memberikan beberapa masukan di dalam pengembangannya.<span id="more-980"></span></p>
<p>Berikut adalah release yang dikeluarkan secara internal di jejaring pengembang dan pengguna OpenEvsys.</p>
<p><strong>Indonesia</strong><br />
OpenEvsys adalah adalah aplikasi open-source gratis yang saat ini sedang dikembangkan oleh Human Rights Information and Documentation Systems, International (HURIDOCS) dan Respere. Aplikasi ini menggunakan HURIDOCS Events Standard Format, standar internasional untuk dokumentasi pelanggaran HAM yang terdapat di sistem pangkalan data yang dibuat oleh HURIDOCS. Openevsys menggunakan kembali kerangka kerja yang dikembangkan SAHANA, platform open source manajemen kebencanaan.</p>
<p>Informasi :<a href="https://launchpad.net/openevsys" target="_blank"> https://launchpad.net/openevsys</a><br />
Unduh aplikasi : <a href="https://launchpad.net/openevsys/+download" target="_blank">https://launchpad.net/openevsys/+download</a></p>
<p><strong>English</strong><br />
OpenEvsys is free, open source software tool, currently under development by<a href="http://www.huridocs.org" target="_blank"> Human Rights Information and Documentation Systems, International (HURIDOCS)</a> and <a href="http://respere.lk" target="_blank">Respere</a>. It implements the HURIDOCS Events Standard Formats, an international standard for documenting human rights violations, and builds on early database systems developed by HURIDOCS. OpenEvsys re-uses the application framework developed for SAHANA, the open source disaster management plaform.</p>
<p>More information : <a href="https://launchpad.net/openevsys" target="_blank">https://launchpad.net/openevsys</a><br />
Download : <a href="https://launchpad.net/openevsys/+download" target="_blank">https://launchpad.net/openevsys/+download</a></p>
<p>Jika anda atau organisasi anda tertarik untuk mengetahui lebih jauh tentang aplikasi ini, silahkan meninggalkan komentar di bawah ini.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://syaldi.web.id/2009/08/akhirnya-openevsys-diluncurkan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menuju Kamboja!</title>
		<link>http://syaldi.web.id/2009/06/menuju-kamboja/</link>
		<comments>http://syaldi.web.id/2009/06/menuju-kamboja/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 29 Jun 2009 07:10:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Syaldi Sahude</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kamboja]]></category>
		<category><![CDATA[cambodia]]></category>
		<category><![CDATA[CCHR]]></category>
		<category><![CDATA[HURIDOCS]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://syaldi.web.id/?p=953</guid>
		<description><![CDATA[Beberapa bulan yang lalu, seorang teman menawarkanku untuk sebuah proyek di Kamboja, tepatnya di Phnom Penh. Proyek ini merupakan kerja sama sebuah lembaga di Swiss dan Kamboja. Setelah beberapa lama berpikir, akhirnya aku memutuskan untuk terlibat dalamm tim kerjanya. Akhirnya diputuskan, waktunya mulai akhir Juni hingga pertengahan Juli 2009. Setelah mempersiapakan urusan pekerjaan, selanjutnya mempersiapkan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Beberapa bulan yang lalu, seorang teman menawarkanku untuk sebuah proyek di Kamboja, tepatnya di Phnom Penh. Proyek ini merupakan kerja sama sebuah lembaga di Swiss dan Kamboja. Setelah beberapa lama berpikir, akhirnya aku memutuskan untuk terlibat dalamm tim kerjanya. Akhirnya diputuskan, waktunya mulai akhir Juni hingga pertengahan Juli 2009.<span id="more-953"></span></p>
<p>Setelah mempersiapakan urusan pekerjaan, selanjutnya mempersiapkan masalah logistik dan perijinan. Aku kemudian mencari berbagai informasi terkait dengan Kamboja, mulai dari perijinan, tempat menarik dan makanan!</p>
<p><strong>Penerbangan</strong></p>
<p>Tidak terlalu sulit untuk menuju ke Kamboja, khususnya ke Phocenthong Internatinal Airport. Sudah banyak maskapai yang menuju ke sana. Walaupun dari Indonesia sepertinya belum ada yang direct, masih harus transit ke Changi, Singapura atau Malaysia.Tapi, bisa dipastikan waktu transit tidak akan terlalu lama.</p>
<p>Aku kebetulan dapat harga yang lumayan murah. Untuk tiket PP harganya sekitar US$ 611, menggunakan Singapore Airlines (SQ) dan Silkair (MI). Jangan dibandingkan dengan Air Asia yang sudah pasti murah sekali.</p>
<p><strong>Visa</strong></p>
<p>Untuk masalah ini, aku sempat berpikir &#8220;pasti akan dipersulit&#8221;. Maklum, lembaga yang mengundangku cukup berisik mengenai masalah hak asasi manusia. Mengantisipasi hal itu, aku meminta dua buah sponsor letter dari dua organisasi yang berbeda.</p>
<p>Asumsiku ternyata salah karena tidak terlalu sulit membuatnya. Sebenarnya tidak terlalu sulit karena Kamboja masih masuk dalam ASEAN sehingga kita bisa menggunakan Visa On Arrival. Walaupun demikian ada beberapa hal yang sebaiknya dipersiapkan. Saat anda berada di pesawat atau bandara yang menuju ke Kamboja, dapat dipastikan anda harus mengisi beberapa formulir, salah satunya adalah form aplikasi. Nah, anda tinggal mengisinya. Sebaiknya, sebelum berangkat, persiapkan pas foto 3 X 4 sebanyak dua lembar. Kalau tidak, anda akan dikenai biaya tambahan sebesar US$ 1. Kecil tapi lumayan.</p>
<p>Oh iya, biaya yang dikenakan untuk turis adalah US$ 20 sementara untuk bisnis US$ 25. Tapi sialnya aku kena yang US$ 25 karena salah mengisi form. Jika memang tidak berada lama di Kamboja, sebaiknya pilih turis saja. Lumayan hemat US$ 5!</p>
<p><strong>Transportasi</strong></p>
<p>Menurut informasi, cukup banyak alternatif kendaraan yang bisa digunakan. Ada Taksi, Tuk-tuk, sebutan untuk becak motor dan ojek motor. Biayanya pun cukup terjangkau. Misalnya dari bandara ke kota Phonm Penh hanya sekitar US$ 5 sampai US$ 7. Awalnya aku berencana untuk mencoba kendaraan tersebut saat sampai di sana, tapi ternyata sudah ada jemputan. So, mungkin lain kali&#8230;</p>
<p><strong>Makanan</strong></p>
<p>Untuk orang sepertiku yang punya lidah Asia yang kental, urusan makanan pasti tidak akan menjadi masalah di Phnom Penh. Ada banyak restoran yang menyediakan berbagai pilihan makanan dari Asia. Selain itu, harganya juga cukup terjangkau, tidak jauh berbeda dengan harga di Indonesia. Oh iya, aku menemukan informasi satu restoran Indonesia dengan nama Warung Bali, yang berada di sekitar sungai Mekong. Aku akan informasikan lebih lanjut jika sudah mencobanya&#8230;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://syaldi.web.id/2009/06/menuju-kamboja/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Gapminder: Mematahkan Mitos Dengan Statistik</title>
		<link>http://syaldi.web.id/2009/05/gapminder-mematahkan-mitos-dengan-statistik/</link>
		<comments>http://syaldi.web.id/2009/05/gapminder-mematahkan-mitos-dengan-statistik/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 01 May 2009 11:03:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Syaldi Sahude</dc:creator>
				<category><![CDATA[TIK]]></category>
		<category><![CDATA[gapminder]]></category>
		<category><![CDATA[HAM]]></category>
		<category><![CDATA[hans rosling]]></category>
		<category><![CDATA[HURIDOCS]]></category>
		<category><![CDATA[information handling]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.syaldi.web.id/?p=751</guid>
		<description><![CDATA[Apakah statistik dapat memberikan fakta sebenarnya? Aku adalah orang tidak senang dengan data statistik. Aku merasa bahwa data statistik cenderung mereduksi realita sebenarnya. Apalagi dengan melihat manipulasi data yang dilakukan oleh berbagai instansi pemerintah di Indonesia, kepercayaan itu semakin tipis. Kualitatif buatku lebih nyaman buatku untuk memperlihatkan realita. Persoalannya, data kuantitatif juga tetap dibutuhkan untuk [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a class="flickr-image alignnone" title="logo_gapminder.jpg" rel="flickr-mgr" href="http://www.flickr.com/photos/19449578@N00/3482977646/"><img class="flickr-small alignleft" style="border: 0pt none; margin: 2px 5px;" src="http://farm4.static.flickr.com/3656/3482977646_cfab36619c_m.jpg" alt="logo_gapminder.jpg" width="229" height="32" /></a>Apakah statistik dapat memberikan fakta sebenarnya? Aku adalah orang tidak senang dengan data statistik. Aku merasa bahwa data statistik cenderung mereduksi realita sebenarnya. Apalagi dengan melihat manipulasi data yang dilakukan oleh berbagai instansi pemerintah di Indonesia, kepercayaan itu semakin tipis. Kualitatif buatku lebih nyaman buatku untuk memperlihatkan realita. Persoalannya, data kuantitatif juga tetap dibutuhkan untuk menunjukkan trend atau pola dalam konteks yang lebih luas. Apalagi dengan perkembangan isu hak ekonomi, sosial dan budaya, data kuantitatif menjadi sangat penting dalam melihat berbagai indikator.<span id="more-751"></span></p>
<p>Pandanganku kemudian mulai sedikit berubah saat diperkenalkan <a href="http://www.gapminder.org" target="_blank">Gapminder</a> oleh James Lawson, trainer HURIDOCS International dalam sebuah pelatihan pendokumentasian pelanggaran HAM. Kami diputarkan sebuah film singkat bagaimana Hans Rosling mematahkan berbagai mitos yang selama ini melingkupi kita. Dia melakukan survei sederhana mengenai pemahaman mahasiswa di sebuah universitas ternama di Swedia tentang data kesehatan dunia, terutama angka kematian bayi. Sangat mengejutkan bahwa angka kebenarannya hanya 1.8 yang artinya dari seluruh mahasiswa yang ikut hanya dapat menjawab hampir dua pertanyaan dengan tepat.</p>
<p>Jelas saja, sebagai salah satu contoh: siapa yang menyangka bahwa angka kematian bayi di Turki lebih tinggi daripada Srilanka? Aku pribadi akan berpikir bahwa Turki yang berada di wilayah Eropa seharusnya tidak menghadapi persoalan seperti ini. Sementara Srilanka sebagai salah satu negara berkembang sudah pasti angka kematian bayi masih jadi persoalan.</p>
<p>Sebagai organisasi non-profit, Gapminder bertujuan untuk mendorong dan meningkatkan pemahaman terhadap data statistik dan informasi sosial, ekonomi dan lingkungan di wilayah internasional, regional hingga nasional. Sederhana, mereka ingin berfungsi untuk menjadi &#8220;museum&#8221; informasi agar dapat memahami dunia lebih baik.</p>
<p>Gapminder memberikan kita sebuah kenyamanan bagi penggunanya untuk melihat realitas data yang ada. Data tersebut dikumpulkan dari berbagai sumber seperti Badan PBB, Universitas, Badan pemerintah dan LSM sehingga validitas-nya dapat dipertanggungjawabkan. Tentu saja, mereka berkolaborasi untuk menghasilkan dokumen tersebut.</p>
<p>Aku ingin mencoba satu asumsi bahwa peningkatan jumlah pengguna internet akan berbanding lurus dengan peningkatan jumlah melek aksara perempuan di Indonesia. Ternyata asumsiku terbantahkan oleh data statistik di Gapminder. Data dari tahun 1995 hingga 2006, peningkatan pengguna internet melejit dengan signifikan sementara persentase melek aksara tidak berkembang.</p>
<p>Silahkan mencoba sendiri! Kunjungi <a href="http://www.gapminder.org" target="_blank">www.gapminder.org</a> untuk melihat terpatahkannya berbagai mitos. Aku yakin anda akan terperangah melihat data-data yang selama ini anda anggap fakta.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://syaldi.web.id/2009/05/gapminder-mematahkan-mitos-dengan-statistik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Uji Coba Openevsys!</title>
		<link>http://syaldi.web.id/2009/04/uji-coba-openevsys/</link>
		<comments>http://syaldi.web.id/2009/04/uji-coba-openevsys/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 25 Apr 2009 02:47:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Syaldi Sahude</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hak Asasi Manusia]]></category>
		<category><![CDATA[Informasi dan Dokumentasi]]></category>
		<category><![CDATA[Open Source]]></category>
		<category><![CDATA[Pemantuan HAM]]></category>
		<category><![CDATA[HURIDOCS]]></category>
		<category><![CDATA[open source]]></category>
		<category><![CDATA[openevsys]]></category>
		<category><![CDATA[winevsys]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://syaldi.web.id/?p=795</guid>
		<description><![CDATA[Seperti yang telah disampaikan dalam tulisan sebelumnya, aplikasi pendokumentasian dan pemantauan pelanggaran HAM, Winevsys saat ini telah dikembangkan menjadi Openevsys. Gugus Kerja Dokumentasi Informasi dan Dokumentasi HAM (GKID-HAM) mendapatkan kehormatan untuk membantu dua organisasi, KontraS Aceh dan YLBHI untuk menguji coba Openevsys. Dari proses yang sudah berjalan, setidaknya ada beberapa hal yang dapat dijadikan pembelajaran [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Seperti yang telah disampaikan dalam <a href="http://http://syaldi.web.id/2008/09/winevsys-aplikasi-database-pemantauan-pelanggaran-ham/">tulisan sebelumnya</a>, aplikasi pendokumentasian dan pemantauan pelanggaran HAM, Winevsys saat ini telah dikembangkan menjadi <a href="http://huridocs.org/tools/monitoring/openevsys">Openevsys</a>. <a href="http://www.id-hr-docs.org" target="_self">Gugus Kerja Dokumentasi Informasi dan Dokumentasi HAM</a> (GKID-HAM) mendapatkan kehormatan untuk membantu dua organisasi, <a href="http://www.kontras.org/aceh/">KontraS Aceh</a> dan <a href="http://www.ylbhi.or.id" target="_blank">YLBHI</a> untuk menguji coba Openevsys.<span id="more-795"></span></p>
<p>Dari proses yang sudah berjalan, setidaknya ada beberapa hal yang dapat dijadikan pembelajaran bersama. Perbedaan yang mendasar dari kedua aplikasi ini adalah semangat open-source. Jika sebelumnya, Winevsys menggunakan MS Acces sebagai basis data dan tampilan mukanya (interface), maka Openevsys telah menggunakan SQL sebagai basis data dan PHP sebagai tampilan mukanya. Dalam dokumen yang dikirimkan HURIDOCS kepada GKID-HAM, semangat ini ditegaskan bahwa aplikasi ini diharapkan dapat menjadi proses pembelajaran bersama dalam mengembangkan aplikasi pemantauan dan dokumentasi pelanggaran HAM.</p>
<p>Untuk pengembangan aplikasi ini, HURIDOCS menggunakan Free Open Source Software yang bernama <a href="http://www.sahana.lk/overview" target="_blank">SAHANA</a>. Awalnya, palikasi ini  digunakan dalam kondisi bencana untuk melakukan pendataan korban, manajemen bantuan hingga relawan. SAHANA juga telah digunakan oleh <a href="http://www.airputih.or.id" target="_blank">Yayasan Airputih</a> saat terjadi bencana gempa bumi yang terjadi di Yogyakarta pada tahun 2006.</p>
<p><strong>Entitas Tambahan</strong></p>
<p>Kembali pada beberapa hal yang ditemui pada uji-coba Openevsys. Salah satu yang paling jelas terlihat adalah penambahan entitas baru dalam logika openevsys. Jika sebelumnya Winevsys dikenal dua entitas; Person (orang) dan Event (Peristiwa) maka di Openevsys ada penambahan Document (dokumen). Penambahan entitas ini dilakukan untuk mengakomodasi kebutuhan pendokumentasian dokumen yang terkait dengan peristiwa atau orang. Dalam winevsys kita hanya bisa memasukkan data dalam bentuk teks ke dalam basis data sehingga menyulitkan saat dokumen yang dimiliki dalam bentuk non teks seperti gambar, audio atau video. Saat ini, Openevsys memberikan fasilitas untuk mengunggah dokumen teks maupun non-teks.</p>
<p>GKID-HAM sudah mencoba mengembangkan fasilitas ini di Winevsys dalam versi lokal.</p>
<p><strong>Role Member</strong></p>
<p>Ini adalah salah satu tambahan yang akan sangat bermanfaat. Setiap pengguna dapat diatur perannya dalam penggunaan Openevsys. Ada tiga role untuk pengguna; <strong>admin</strong> ibarat dewa yang dapat melakukan berbagai perubahan dalam Openevsys, analyst dapat menggunakan beberapa fitur seperti bagian analisis untuk membuat output dari database sementara entry data hanya dapat memasukkan data ke dalam data base. Fitur ini akan menambah keamanan dalam penggunaan Openevsys.</p>
<p>GKID-HAM sudah mengembangkan role ini di Winevsys dalam versi lokal.</p>
<p><strong>Kustomisasi</strong></p>
<p>Sebenarnya, fasilitas ini sudah tersedia di Winevsys. Namun dalam openevsys fasilitas ini dibuat lebih mudah untuk pengguna. Bagian kustomisasi memberikan kemampuan kepada pengguna (terbatas pada admin) untuk memunculkan atau menyembunyikan field-field tertentu dalam Openevsys. Dalam kondisi tertentu, tidak semua pengguna membutuhkan beberapa field karena tidak dibutuhkan dalam proses analisis atau tidak relevan. Fitur ini merupakan jawaban atas masukan bahwa field yang ada di Winevsys terlalu detail sehingga terkadang menyulitkan pengguna.</p>
<p><strong>Beberapa Kelemahan</strong></p>
<p>Dalam uji-coba ini yang paling terasa adalah masalah koneksi internet. Untuk pengguna dengan koneksi internet broadband, persoalan ini mungkin tidak akan ditemui namun disparitas koneksi internet di Indonesia masih begitu besar sehingga akan menyulitkan pengguna dengan koneksi dial-up.</p>
<p>Kondisi ini disebabkan server untuk uji coba masih berada di luar negeri. Ditambah lagi dengan jumlah script dari satu halaman yang harus diakses. Dalam waktu dekat, tim pengembang Openevsys akan segera membuat terobosan menggunakan fasilitas sychronizing untuk mempermudah pengguna yang menghadapi masalah ini.</p>
<p><strong>Tampilan Openevsys</strong></p>
<div class="wp-caption aligncenter" style="width: 410px"><a href="http://farm4.static.flickr.com/3586/3472539770_ed6da3d90f.jpg"><img title="Tampilan Muka" src="http://farm4.static.flickr.com/3586/3472539770_ed6da3d90f.jpg" alt="Openevsys" width="400" height="243" /></a><p class="wp-caption-text">Openevsys</p></div>
<p style="text-align: center;">
<div class="wp-caption aligncenter" style="width: 410px"><a href="http://farm4.static.flickr.com/3631/3472539874_d2c7698c02.jpg"><img title="Openevsys Menu" src="http://farm4.static.flickr.com/3631/3472539874_d2c7698c02.jpg" alt="Menu Openevsys" width="400" height="242" /></a><p class="wp-caption-text">Menu Openevsys</p></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://syaldi.web.id/2009/04/uji-coba-openevsys/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>[bagian III] Menikmati Jenewa</title>
		<link>http://syaldi.web.id/2008/12/bagian-iii-menikmati-jenewa/</link>
		<comments>http://syaldi.web.id/2008/12/bagian-iii-menikmati-jenewa/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 01 Dec 2008 01:51:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Syaldi Sahude</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jenewa]]></category>
		<category><![CDATA[Perjalananku]]></category>
		<category><![CDATA[Geneva]]></category>
		<category><![CDATA[HURIDOCS]]></category>
		<category><![CDATA[Reformation Wall]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.syaldi.web.id/?p=586</guid>
		<description><![CDATA[Setelah sekian lama tulisan ini masuk dalam status draft, akhirnya bisa juga aku kuselesaikan. Sesuai dengan agenda yang kudapatkan, setiap jam 8.30 waktu setempat kami akan memulai sesi workshop kami. Lokasinya cukup jauh dari tempatku menginap. Aku harus naik trem ke arah Palais des Nations hingga halte terakhir dan berjalan kaki sekitar 300 meter menuju [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>Setelah sekian lama tulisan ini masuk dalam status draft, akhirnya bisa juga aku kuselesaikan.</p></blockquote>
<p>Sesuai dengan agenda yang kudapatkan, setiap jam 8.30 waktu setempat kami akan memulai sesi workshop kami. Lokasinya cukup jauh dari tempatku menginap. Aku harus naik trem ke arah Palais des Nations hingga halte terakhir dan berjalan kaki sekitar 300 meter menuju <strong> </strong>ke <strong>Centre International de Conférences de Genève. </strong>Mendengarkan, berdiskusi dan bertukar informasi dengan sesama peserta menjadi kegiatan seharian.<span id="more-586"></span></p>
<p>Dari hari pertama hingga akhir dari lokakarya tersebut, aku mendapatkan berbagai informasi tentang pengalaman beberapa lembaga yang berupaya mengembangkan sistem pendokumentasian dan pemantauan di negara mereka. Cukup melelahkan, ditengah cuaca yang sangat dingin, kami mencurahkan semua pemikiran untuk pengembangan metode dan aplikasi pemantauan pelanggaran HAM. Dalam lokakarya tersebut, para peserta juga kemudian bersepakat untuk mengembangkan satu aplikasi berbasis open source yang dapat membantu proses pemantuan pelanggaran HAM.</p>
<p>Sudahlah, urusan pekerjaan sudah aku masukkan ke dalam laporan perjalananku. So, yang aku ingin bahas adalah pengalaman berada di Jenewa selama beberapa hari.</p>
<p>Seperti yang sudah aku tuliskan pada bagian II, ada banyak hal yang menarik untuk dinikmati di Jenewa. Selain menjadi salah satu pusat berbagai organisasi hak asasi manusia, ada banyak tempat menarik yang dapat dikunjungi. Ada beberapa tempat yang aku kunjungi sendiri dan beberapa lainnya aku nikmati dengan beberapa teman dari peserta lokakarya tersebut.</p>
<p><strong>Jet d&#8217;eau (Water Fountain)<br />
</strong></p>
<div class="wp-caption alignleft" style="width: 85px"><a class="flickr-image" title="Me and Fountain at Lake Geneve" rel="flickr-mgr" href="http://www.flickr.com/photos/19449578@N00/2229738043/"><img class="flickr-medium" style="border: 1px solid black; margin: 1px 5px;" src="http://farm3.static.flickr.com/2308/2229738043_d254079558_t.jpg" alt="Me and Fountain at Lake Geneve" width="75" height="100" /></a><p class="wp-caption-text">Lake of Geneva</p></div>
<p>Air mancur ini dapat anda nikmati saat sedang berjalan-jalan di sekitar Lake of Geneve. Tempat ini menjadi simbol dari Jenewa. Dengan tinggi air yang mencapai 140 meter, sambil menikmati segarnya udara di sekitar danau akan membuat pikiran menjadi santai. Ada beberapa teman yang mengajak untuk melihatnya dari dekat namun ku tolak. Aku lebih bisa menikmatinya dari jauh&#8230;</p>
<p>Ini adalah salah satu tempat favoritku selama beberapa hari di Jenewa. Selain karena dekat dari tempatku menginap, tempat ini begitu santai. Mengamati indahnya Lake of Geneve serta para &#8216;penghuni&#8217;nya.</p>
<p><strong>Reformation Wall</strong></p>
<div class="wp-caption alignleft" style="width: 110px"><a class="flickr-image" title="Reformation Wall.jpg" rel="flickr-mgr" href="http://www.flickr.com/photos/19449578@N00/3072453890/"><img class="flickr-medium" style="border: 1px solid black; margin: 1px 5px;" title="http://www.picswiss.ch/Genf/GE-05-02.html" src="http://farm4.static.flickr.com/3054/3072453890_dd1f6899a7_t.jpg" alt="Reformation Wall.jpg" width="100" height="68" /></a><p class="wp-caption-text">Reformation Wall</p></div>
<p>Dalam satu kesempatan, Bert Verstappen, salah satu kolega kami di HURIDOCS International mengajakku dan beberapa teman untuk menikmati &#8216;tour&#8217; malam mengunjungi kota tua. Salah satu tempat yang aku kunjungi adalah Reformation Wall. Menurut Bert, monumen ini dibuat untuk menghormati beberapa tokoh seperti <a title="Theodore Beza" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Theodore_Beza">Theodore Beza</a> (1519 – 1605), <a title="John Calvin" href="http://en.wikipedia.org/wiki/John_Calvin">John Calvin</a> (1509 – 1564), <a title="William Farel" href="http://en.wikipedia.org/wiki/William_Farel">William Farel</a> (1489 – 1565) dan <a title="John Knox" href="http://en.wikipedia.org/wiki/John_Knox">John Knox</a> (c.1513 – 1572) yang berpengaruh dalam perkembangan kota Jenewa. Para tokoh tersebu juga berpengaruh pada masa reformasi yang didorong oleh kelompok Protestan. Saat itu, Jenewa menjadi pusat aktifitas Calvinism.</p>
<p><strong>Saint Peter&#8217;s Cathedral</strong></p>
<div class="wp-caption alignleft" style="width: 110px"><a class="flickr-image" title="At Katedral" rel="flickr-mgr" href="http://www.flickr.com/photos/19449578@N00/2199933102/"><img class="flickr-medium" style="border: 1px solid black; margin-top: 1px; margin-bottom: 1px;" src="http://farm3.static.flickr.com/2158/2199933102_7cb1f9fc80_t.jpg" alt="At Katedral" width="100" height="75" /></a><p class="wp-caption-text">Katedral St. Peter</p></div>
<p>Tidak jauh dari Reformation Wall, kami sampai di Katedral Santo Peter. Tidak banyak yang bisa aku nikmati di tempat ini. Kami hanya bisa menikmatinya dari luar. Dari salah satu situs, aku ketahui bahwa Katedral ini dibangun pada 1407. Bangunan ini sudah beberapa kali mengalami kebakaran dan direstorasi.</p>
<p><strong>Meriam Tua</strong></p>
<div class="wp-caption alignleft" style="width: 110px"><a class="flickr-image" title="Say Cheese....! Again...." rel="flickr-mgr" href="http://www.flickr.com/photos/19449578@N00/2199935374/"><img class="flickr-medium" style="border: 1px solid black; margin-top: 2px; margin-bottom: 2px;" src="http://farm3.static.flickr.com/2260/2199935374_8e078c9f6a_t.jpg" alt="Say Cheese....! Again...." width="100" height="75" /></a><p class="wp-caption-text">Old Arsenal</p></div>
<p>Aku kemudian berjalan lagi. Di tengah perjalanan, kami sempat berhenti sejenak di sebuah tempat seperti air mancur kecil. Menurut Bert, air tersebut dapat langsung di minum. Sayangnya, aku tak sempat mengambil gambarnya. Tidak jauh berjalan, aku sampai di satu tempat yang penuh dengan ornamen yang menarik. Ditengah tempat tersebut terdapat beberapa meriam. Kuhitung, ada lima meriam tua. Keasyikan bercengkrama dan berfoto ria, aku tidak sempat bertanya tentang tempat tersebut. Baru belakangan aku dapat informasi bahwa meriam tersebut dulunya digunakan sebagai senjata pertahananan kota Jenewa. Tempat tersebut dulunya adalah tempat penyimpanan senjata dan ornamen tersebut adalah yang menggambarkan perkembangan kota Jenewa hasil karya <span class="txt">Alexandre Cingria (1949)</span></p>
<p><strong>Town Hall</strong></p>
<div class="wp-caption alignleft" style="width: 110px"><a class="flickr-image" title="Tom, Shimam and Me!" rel="flickr-mgr" href="http://www.flickr.com/photos/19449578@N00/2199937488/"><img class="flickr-medium" style="border: 1px solid black; margin: 2px 5px;" src="http://farm3.static.flickr.com/2247/2199937488_3764249173_t.jpg" alt="Tom, Shimam and Me!" width="100" height="75" /></a><p class="wp-caption-text">At Town Hall</p></div>
<p>Hanya beberapa meter dari Old Arsenal, terdapat satu bangunan bersejarah. Town Hall adalah salah satu tempat yang menjadi pusat kegiatan politik di Jenewa pada masa lalu. Bangunannya unik, pintu masuknya sangat kecil sehingga aku sempat terkecoh. Saat berada di dalam, aku kagum dengan arsitekturnya. Walaupun awam dengan persoalan arsitektur, aku masih bisa melihat tata letak serta keunikan dari gedung. Menurut sumber yang bisa dipercaya, gedung ini pernah digunakan sebagai tempat perundingan saat perang sipil terjadi di Amerika. Nah, yang nggak kalah penting adalah tempat ini menjadi saksi sidang Liga Bangsa-Bangsa (sekarang PBB) pada tahun 1920.</p>
<p>Dalam posting sebelumnya, aku sudah bercerita bagaimana sulitnya mencari tempat makan yang sesuai dengan lidahku. Hampir setiap malam, aku dan beberapa kawan <em>hunting </em>mencari tempat makan. Berhubung dana yang tersedia juga tidak banyak, maka memilih makanan pun menjadi perjuangan tersendiri. Untungnya, di sekitar tempatku menginap cukup banyak restoran yang menyediakan berbagai jenis makanan dari berbagai negara.</p>
<p>Sekali aku mencoba makanan Ethopia. Waduh, rasanya campur aduk sehingga sangat sulit diterima oleh lidahku. Rasa asam yang dominan membuat perutku bereaksi.</p>
<div class="wp-caption alignleft" style="width: 85px"><a class="flickr-image" title="Bert and Chese Fondue" rel="flickr-mgr" href="http://www.flickr.com/photos/19449578@N00/2229738483/"><img class="flickr-medium" style="border: 1px solid black; margin: 1px 5px;" src="http://farm3.static.flickr.com/2143/2229738483_4f80c78c52_t.jpg" alt="Bert and Chese Fondue" width="75" height="100" /></a><p class="wp-caption-text">Cheese Fondue</p></div>
<p>Nah, satu pengalaman yang tidak terlupakan adalah menikmati cheese fondue di tengah Lake of Geneve. Menurut Daniel, kolega dari HURIDOCS International, makanan ini adalah khas Swiss. Seperti namanya, makanan ini terbuat dari keju yang dipanaskan di sebuah panci hingga meleleh. Makanan ini disajikan dengan potongan roti dan dimakan bersama-sama. Untuk menikmatinya, roti tersebut di cocolkan ke dalam keju yang panas. Huih nikmatnya jika disandingkan dengan Teh panas. Eits&#8230; jangan terlalu banyak. Aku sempat merasa agak mual karena rasanya yang sangat gurih. Ini adalah makanan yang tidak bisa dilewatkan oleh siapapun yang berkunjung ke Jenewa. Sayangnya, makanan ini tidak tersedia di musim panas.</p>
<p>Pada malam terakhir, kami sempat disuguhi makanan ala Libanon. Hmm&#8230; mulai dari appetizer hingga desert-nya terasa nikmat di lidah dengan minyak zaitun yang begitu berasa ditemani dengan wine yang nikmat. Oh iya, aku sempat mengunjungi salah satu Pub, Pickwik&#8217;s di dekat tempatku menginap. Selain menikmati bir lokal, juga menumpang bandwith. Di tempat ini aku sempat bertemu dengan warga negara Indonesia. Sayangnya, kami tidak sempat berkenalan lebih jauh karena aku haru segera beranjak. Mungkin di lain waktu&#8230;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://syaldi.web.id/2008/12/bagian-iii-menikmati-jenewa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Winevsys, Aplikasi Database Pemantauan Pelanggaran HAM</title>
		<link>http://syaldi.web.id/2008/09/winevsys-aplikasi-database-pemantauan-pelanggaran-ham/</link>
		<comments>http://syaldi.web.id/2008/09/winevsys-aplikasi-database-pemantauan-pelanggaran-ham/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 03 Sep 2008 21:19:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Syaldi Sahude</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hak Asasi Manusia]]></category>
		<category><![CDATA[Informasi dan Dokumentasi]]></category>
		<category><![CDATA[Pemantuan HAM]]></category>
		<category><![CDATA[aplikasi]]></category>
		<category><![CDATA[Database Pelanggaran HAM]]></category>
		<category><![CDATA[Event Based Methodology]]></category>
		<category><![CDATA[HAM]]></category>
		<category><![CDATA[Human Rights Documentation Support Group for Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[HURIDOCS]]></category>
		<category><![CDATA[Metodologi Berbasis Peristiwa]]></category>
		<category><![CDATA[winevsys]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.syaldi.web.id/?p=312</guid>
		<description><![CDATA[Untuk menyediakan data yang akurat terkait dengan sebuah pelanggaran HAM yang terjadi, dibutuhkan beberapa aktifitas yang harus dilalui. Salah satunya adalah proses pencatatan serta analisis dari data yang telah dikumpulkan dari hasil investigasi lapangan. Beberapa organisasi HAM kemudian berusaha membuat seperangkat alat untuk mencatatnya, namun banyak yang berakhir dengan kegagalan. Tulisan ini akan membahas salah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Untuk menyediakan data yang akurat terkait dengan sebuah pelanggaran HAM yang terjadi, dibutuhkan beberapa aktifitas yang harus dilalui. Salah satunya adalah proses pencatatan serta analisis dari data yang telah dikumpulkan dari hasil investigasi lapangan. Beberapa organisasi HAM kemudian berusaha membuat seperangkat alat untuk mencatatnya, namun banyak yang berakhir dengan kegagalan. Tulisan ini akan membahas salah satu aplikasi pendokumentasian pelanggaran HAM yang dapat membantu organisasi HAM dalam bekerja.<span id="more-312"></span></p>
<p>Winevsys adalah salah satu perangkat pendokumentasian pelanggaran HAM saat ini cukup banyak digunakan oleh berbagai organisasi HAM di seluruh dunia. Perangkat ini dikembangkan oleh <a href="http://www.huridocs.org" target="_blank">HURIDOCS International</a> sejak tahun 1998.  Proses pengembangannya melibatkan banyak pakar yang ahli di bidang pendokumentasian, investigasi dan advokasi. Selain itu, dukungan dari berbagai organisasi HAM di seluruh dunia menjadi bahan sangat penting dalam proses tersebut.</p>
<p>Dalam pencatatannya, Winevsys menggunakan Metodologi Berbasis Peristiwa atau <em>Event Based Methodology</em>. Sudah pasti berbeda dengan metode konvensional yang sering digunakan di Indonesia. Winevsys menempatkan Orang dan peristiwa sebagai entitas besarnya. Kedua entitas tersebut kemudian dihubungkan dengan relasi sesuai dengan fakta yang ditemukan.</p>
<p>Pemilahan secara rigid antara pelaku, korban, sumber informasi dan pihak yang melakukan intervensi menjadi satu kelebihan dari aplikasi ini. Peristiwa pun kemudian dipotret secara komprehensif dengan melihat keterkaitan setiap orang dengan peristiwa dalam relasi tindakan atau informasi. Dalam bagian analisisnya, aplikasi ini menawarkan indikator yang sangat lengkap. Penggunaan kosa kata terkendali untuk meminimalkan terjadinya kesalahan menjadi satu nilai lebih dari Winevsys. Walaupun tidak terlalu fleksibel, beberapa modifikasi kecil dapat dilakukan oleh pengguna untuk menyesuaikan kebutuhannya. Tidak banyak aplikasi yang  yang dilengkapi dengan fasilitas pendukung seperti ini.</p>
<p>Aplikasi ini dianggap terlalu rumit oleh banyak pihak sehingga dilihat sebagai proses yang rumit. Padahal, aplikasi ini akan membantu kita untuk mengetahui kelemahan sebuah data yang kita terima. Selain itu, akan menambah ketajaman pencarian informasi di lapangan.</p>
<p>Sayangnya, aplikasi ini masih menggunakan Microsoft Acces sebagai database dan interface-nya. Akibatnya, kompabilitasnya dengan Operating System lain seperti Linux dan Macintosh sangat sulit. Dalam kondisi tersebut, database ini tidak mampu melayani data yang mempunyai data yang sangat besar. Selain itu, bahasa yang digunakan masih menggunakan bahasa Inggris</p>
<p>Menyadari hal tersebut, pada tahun Februari 2007, dalam sebuah lokakarya di Jenewa, Swiss perangkat ini sepakat untuk mengembangkan aplikasi yang berbasiskan <em>open source</em> dan open <em>method</em>. Pengembangan ini akan mampu menjawab beberapa persoalan yang selama ini dihadapi oleh penggunanya. Aplikasi ini telah dikembangkan oleh Human Rights Documentation Support Group for Indonesia, salah satunya adalah penggunaan bahasa Indonesia serta beberapa fitur yang sesuai dengan konteks Indonesia, seperti penyediaan local georaphical area.</p>
<p>Aplikasi yang akan diberi nama OpenEvsys direncanakan diluncurkan pada awal tahun depan. Tentunya dengan beberapa fitur yang lebih lengkap seperti <em>report manager</em> dan dapat digunakan oleh <em>multi-use</em>r.</p>
<p>Jika anda ingin menggunakannya, silahkan mengunduhnya <a href="http://rapidshare.com/files/139835203/Winevsys_indo_V.4.0.zip">di sini</a>. Untuk layanan konsultasi dan pelatihan, silahkan menghubungiku di <a href="mailto: syaldi.sahude@gmail.com ">syaldi.sahude[at]gmail.com</a>. Tidak dipungut bayaran alias gratis!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://syaldi.web.id/2008/09/winevsys-aplikasi-database-pemantauan-pelanggaran-ham/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>HuriSearch; Mesin Pencari Bagi Penggiat HAM</title>
		<link>http://syaldi.web.id/2008/04/hurisearch-mesin-pencari-bagi-penggiat-ham/</link>
		<comments>http://syaldi.web.id/2008/04/hurisearch-mesin-pencari-bagi-penggiat-ham/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 25 Apr 2008 22:27:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Syaldi Sahude</dc:creator>
				<category><![CDATA[Informasi dan Dokumentasi]]></category>
		<category><![CDATA[Hak Asasi Manusia]]></category>
		<category><![CDATA[HAM]]></category>
		<category><![CDATA[HURIDOCS]]></category>
		<category><![CDATA[Internet]]></category>
		<category><![CDATA[Mesin Pencari]]></category>
		<category><![CDATA[Search Engine]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://syaldi.wordpress.com/?p=64</guid>
		<description><![CDATA[Anda mencari mesin pencari yang spesifik di sekitar persoalan Hak Asasi Manusia? Jika iya, maka anda wajib membaca artikel ini. Jika tidak, maka ada baiknya anda tetap membaca artikel ini untuk mengetahui perkembangan teknologi mesin pencari Mencari informasi yang sesuai dengan kebutuhan di sekitar persoalan Hak Asasi Manusia, mulai dari wacana hingga perkembangannya di dunia [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Anda mencari mesin pencari yang spesifik di sekitar persoalan Hak Asasi Manusia? Jika iya, maka anda wajib membaca artikel ini. Jika tidak, maka ada baiknya anda tetap membaca artikel ini untuk mengetahui perkembangan teknologi mesin pencari<span id="more-72"></span></p>
<p>Mencari informasi yang sesuai dengan kebutuhan di sekitar persoalan Hak Asasi Manusia, mulai dari wacana hingga perkembangannya di dunia maya bukanlah hal yang mudah. Walaupun informasi tersebut tersedia dengan jumlah yang berlimpah, akan tetapi terserak tak beraturan. Jika tidak mengetahui dengan jelas informasi apa yang ingin kita cari, niscaya seperti mencari jarum di tumpukan jerami. Solusi yang paling sering digunakan oleh para penggiat HAM dalam mencari informasi adalah mesin pencari (search engine). Beberapa mesin pencari konvensional seperti google, lycos dan yahoo terbukti tidak efektif, terutama dalam pencarian spesifik.</p>
<p><a href="http://syaldi.files.wordpress.com/2008/04/hurisearch-printscreen.jpg"><img class="alignleft alignnone size-medium wp-image-68" style="border:5px solid black;float:left;margin:5px 10px;" src="http://syaldi.files.wordpress.com/2008/04/hurisearch-printscreen.jpg?w=300" alt="HuriSearch Home" width="300" height="242" /></a>Menyadari kebutuhan tersebut, HURIDOCS Internasional membangun sebuah mesin pencari sebagai solusi para penggiat HAM. Mesin pencari tersebut dinamakan <a title="HuriSearch" href="http://www.hurisearch.org" target="_blank"><strong>HuriSearch</strong> </a>difokuskan untuk mencari informasi yang relevan dengan informasi HAM. Tentu saja, HuriSearch berbeda dengan mesin pencari lainnya, terutama dari fitur-firtur pencarian yang disesuaikan dengan kebutuhan penggiat HAM. Penggunaan terminologi (istilah) HAM juga menjadi salah satu  keistimewaan dari mesin pencari ini. Selain itu, HuriSearch hanya mencari informasi dari situs-situs internet yang telah diverifikasi sebagai organisasi yang bekerja untuk  HAM seperti NGO, Universitas, Lembaga Negara serta Komisi HAM di seluruh dunia. Sampai saat ini, telah terdaftar sekitar 4500 situs yang mempublikasikan berbagai persoalan HAM.</p>
<p>Fasilitas pencarian yang disediakan oleh HuriSearch sudah pasti akan sangat membantu. HuriSearch terdiri dari tiga bagian utama; boks pencarian, boks hasil pencarian dan boks drill down. Sejak memasukkan kata kunci (keyword), para pengguna telah diberikan pilihan untuk memilih sumber informasi yang mereka inginkan, apakah dari NGO, Universitas, lembaga Negara dan/atau Komisi HAM. Jika pengguna memilih satu atau lebih pilihan sumber, HuriSearch akan membatasi pencariannya pada pilihan anda sehingga ketepatan pencariannya juga lebih terpercaya.</p>
<p>Tidak cukup sampai disitu, jika ingin mencari informasi secara spesifik di organisasi tertentu atau bahkan di negara tertentu, pengguna dapat memanfaatkan fasilitas drill-down yang otomatis mendeteksi nama lembaga penerbit dan lokasinya.  Bahkan bahasa mendeteksi bahasa yang digunakan dalam dokumen hasil pencarian pengguna. Dalam hasil pencariannya, anda akan melihat judul, ringkasan, jenis organisasi dan tempat informasi tersebut dipublikasikan.</p>
<p>Jika pengguna tidak mengetahui secara tepat istilah yang bisa menjadi kata kunci, HuriSearch memfasilitasinya dengan menampilkan indeks istilah HAM di wilayah drill down.  Indeks tersebut merupakan bagian dari kosa-kata terkendali yang telah dikembangkan oleh HURIDOCS cukup lama. Dengan mengetik satu kata kunci, maka pengguna akan mendapatkan hasil yang sama dalam 9 bahasa lainnya jika tidak menggunakan filter bahasa. Oleh karena itu, fasilitas ini mampu mencari berbagai informasi yang sangat spesifik. Jika membutuhkan bantuan lebih lanjut, HuriSearch akan membantu pengguna memilih istilah yang telah diklasifikasi secara otomatis</p>
<p>Fasilitas lainnya adalah pencarian dokumen yang tersimpan dalam media tertentu, misalnya dalam PDF, Word atau format lainnya. Walaupun jarang digunakan, fasilitas ini akan sangat membantu pengguna yang membutuhkan format dokumen tertentu. Pengguna juga dapat melakukan pencarian lebih spesifik dari dokumen yang terpanggil dari hasil pencarian sebelumnya.</p>
<p>Saat ini, HuriSearch bisa diklaim sebagai satu-satunya mesin pencari HAM di dunia maya. Setiap pengiat HAM sepertinya wajib untuk menggunakannya. Terutama jika terdapat kebutuhan akan validitas informasi yang dibutuhkan. Toh, saat ini HuriSearch telah tersedia dalam 10 bahasa, sudah pasti informasi yang tersedia akan lebih memudahkan penggunanya. Dalam waktu dekat, HuriSearch akan memasukkan Bahasa Indonesia sebagai salah satu pilihan bahasa dengan dukungan dari HSG-Indonesia.</p>
<p>Lihat juga<a href="http://www.syaldi.web.id/?p=58"> Penggunaan Internet untuk HAM</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://syaldi.web.id/2008/04/hurisearch-mesin-pencari-bagi-penggiat-ham/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>[bagian II] First Experience in Geneva; Get Lost.</title>
		<link>http://syaldi.web.id/2008/03/part-2-first-experience-in-geneva-get-lost/</link>
		<comments>http://syaldi.web.id/2008/03/part-2-first-experience-in-geneva-get-lost/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 11 Mar 2008 19:13:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Syaldi Sahude</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jenewa]]></category>
		<category><![CDATA[Perjalananku]]></category>
		<category><![CDATA[Brunswick]]></category>
		<category><![CDATA[Geneva]]></category>
		<category><![CDATA[HURIDOCS]]></category>
		<category><![CDATA[lake geneva]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://syaldi.wordpress.com/?p=65</guid>
		<description><![CDATA[Setelah menghabiskan dua batang rokok kretek yang aku bawa, tanpa bertanya lagi aku pun bergegas untuk naik tram 13. Menurut petunjuk yang aku pegang, setelah dua pemberhentian tram itu aku akan sampai di Rue Butini. Dengan seksama, aku perhatikan pemberhentian pertama, kedua, ketiga, keempat… nah lho… aku tidak menemukan Rue Butini! Jangan-jangan, aku salah naik [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Setelah menghabiskan dua batang rokok kretek yang aku bawa, tanpa bertanya lagi aku pun bergegas untuk naik tram 13. Menurut petunjuk yang aku pegang, setelah dua pemberhentian tram itu aku akan sampai di Rue Butini. Dengan seksama, aku perhatikan pemberhentian pertama, kedua, ketiga, keempat… nah lho… aku tidak menemukan Rue Butini! Jangan-jangan, aku salah naik tram…! Aku memutuskan turun di pemberhentian kelima. Yup, aku salah arah. Seharusnya aku menuju Place des Nations, aku malah ke arah sebaliknya! Walhasil aku harus balik arah lagi. Entah karena bingung atau kurang kerjaan, aku kemudian memutuskan jalan kaki ke arah Gare Cornavin. Jaraknya tidak terlalu jauh, mungkin sekitar 1 km. Lumayan, aku bisa menikmati Jenewa di pagi hari di tengah udara yang lumayan menggigit. Setelah 30 menit berjalan, tepat pada 10.30 waktu setempat, dengan beban yang lumayan berat, akhirnya aku sampai di tujuan, Drake Hotel di Ruė Butini.<span id="more-69"></span></p>
<p>Aku kemudian bergegas check-in. Aku ingin segera rebahan dan menaruh bawaan yang berat. Cukup dengan menunjukkan paspor, aku pun dapat kunci serta satu kartu transportasi publik gratis selama berada di Jenewa. Waw…, artinya selama berada di Jenewa, aku bisa naik transportasi publik apapun; tram, bis, kereta, bahkan perahu. Hihihi… seandainya Jakarta bisa seperti ini. Berdasarkan informasi dari Front Desk hotel, aku mengetahui kalau teman sekamarku bernama Andre Titus dari Afrika Selatan. Dia seorang manajer database di <a href="http://www.hurisa.org.za">Human Rights Institute for South Africa</a>. Wah, aku bisa ngobrol banyak dengan dia soal KKR dan gerakan di Afrika Selatan. Sip…!</p>
<p><img class="alignleft" style="border: 3px solid black; margin: 10px;" src="http://farm3.static.flickr.com/2006/2199147891_c31c7c111a.jpg" border="3" alt="" hspace="10" vspace="10" width="156" height="203" align="left" />Setelah selesai dengan urusan kamar, aku kemudian memutuskan untuk berjalan-jalan keliling kota. Cuci mata sekalian menyesuaikan diri dengan Jenewa, agar tidak terlalu bermasalah dengan jet-lag. Tanpa berbekal apapun, aku kemudian berjalan ke tanpa tujuan di sekitar hotel. Menjadi pejalan kaki di Jenewa sangatlah nyaman. Pedestrian yang cukup lebar, jika anda menyeberang jalan pada tempatnya, kendaraan lain sudah pasti akan berhenti dan memberikan jalan pada anda. Hmm… <span style="font-style: italic;">what a nice trait</span>! Yang lebih asyik lagi adalah ada jalur khusus untuk pengendara sepeda. Asyik banget&#8230; jadi pengen keliling naik sepeda. Oh iya, aku banyak sekali menemukan &#8220;bangkai&#8221; sepeda di beberap sudut kota.</p>
<p>Aku terpesona dengan tata kota yang sangat baik. Beberapa bangunan model klasik menarik perhatianku. Aku sempat memotret beberapa sudut kota… Aku terpikir apakah ada masjid di kota ini.</p>
<p><img class="alignright" style="border: 5px solid black; margin: 10px;" src="http://farm3.static.flickr.com/2132/2199136863_e343dabaa2.jpg" border="5" alt="Monumen Brunswick" hspace="10" vspace="10" width="120" height="149" align="right" />Setelah berjalan 15 menit, tanpa sengaja aku berhenti di sebuah monumen yang tidak jauh dari sebuah danau. Aku memutuskan untuk nongkrong sambil memijat kakiku yang mulai pegal. Nama monumen tersebut adalah Brunswick, entah apa sejarahnya. Yang jelas, dia adalah salah satu orang terkaya yang dulu hidup di Jenewa. Setelah menghabiskan satu linting tembakau, aku pun bergegas ke arah danau. Aku baru mengetahui bahwa ini adalah Lake Geneva, salah satu danau yang cukup besar di Eropa. Airnya begitu bening, sampai-sampai aku dapat melihat dasarnya. “Hmm… seandainya Jakarta punya danau yang bening seperti ini, aku pasti akan nongkrong di sana setiap hari” tukasku dalam hati. Beberapa gerombol camar, bebek dan angsa terlihat di sekitar danau mencari makan.</p>
<p><img class="alignleft" style="border: 3px solid black; margin: 10px;" src="http://farm3.static.flickr.com/2412/2229774005_0545231d8f.jpg" border="3" alt="lake of geneve" hspace="10" vspace="10" width="206" height="159" align="left" />Aku duduk dan menikmati pemandangan danau tersebut. Sebuah air mancur yang tinggi, terlihat begitu indah membuatku makin betah untuk berlama-lama. Udara yang makin dingin memaksaku untuk mengeluarkan sarung tangan, topi kupluk aku tarik menutup telingaku. Satu linting tembakau kemudian menemani lamunanku. Seandainya ditemani secangkir kopi hangat, pasti aku betah duduk berlama-lama ditengah udara yang dingin.</p>
<p>Perut yang keroncongan memaksaku untuk segera beranjak dari tepi danau. Mencari makanan di sebuah kota yang baru kudatangi sudah pasti bukan perkara mudah. Daripada bingung, akupun memutuskan untuk membeli junk-food di sebuah gerai McDonald. Setelah makan, aku langsung menuju ke hotel untuk istirahat.</p>
<p>Sesuai dengan agenda, para peserta yang telah tiba berkumpul di lobby hotel tepat pukul 19.00. Aku kemudian berkenalan dengan beberapa peserta, 3 orang berasal dari Afrika (Andre, Joyce dan Jestina), dua dari Asia (Shiham dan Dhamnika), dua dari Amerika Latin (Aida dan Adolfo) Sisanya berasal dari Eropa. Aida Maria Noval, yang berasal dari Meksiko adalah orang yang selama ini aku ingin jumpai. Selama ini aku hanya mengenalnya melalui tools HURIDOCS yang ditulisnya. Dia adalah perempuan setengah baya yang sangat hangat dan enak diajak berdiskusi, khususnya masalah <em>documentation handling</em>.</p>
<p>Kami kemudian memutuskan untuk makan malam di sebuah restoran India yang letaknya sekitar 3 blok dari hotel. Lumayan, aku bisa bertemu dengan nasi putih serta kari ayam yang rasanya dapat ditolerir oleh lidah Indonesia yang sangat kental. Wajah-wajah lelah para peserta tampak jelas namun terhapus oleh suasana yang hangat mewarnai makan malam bersama. Kami saling bertukar cerita tentang pengalaman di negeri masing-masing.</p>
<p>Pukul 21.30, kami kembali ke hotel. Aku sendiri sangat lelah sehingga tidak terasa tertidur dengan pakaian lengkap.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://syaldi.web.id/2008/03/part-2-first-experience-in-geneva-get-lost/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

