Beberapa bulan terakhir ini, aku mendapat kesempatan untuk “jalan-jalan” ke Aceh. Tentunya, bukan menjadi turis yang menikmati keindahan alam Serambi Aceh melainkan menjadi “buruh” untuk sebuah lembaga yang mempunyai proyek di sana. Setiap 2 minggu sekali, aku habiskan akhir pekan untuk menempuh perjalanan selama 3 jam (jadi 4 jam jika transit di Medan) ke dengan pesawat terbang. Perjalanan yang melelahkan, tapi cukup sebanding dengan pengalaman telah yang dapatkan.
Sebelumya, sudah bertahun-tahun aku ingin menginjakkan kaki ke bumi rencong ini. Saat terjadi represi militer secara besar-besaran kepada rakyat Aceh pada awal milenium ini, keinginanku untuk datang semakin besar. Namun, keinginan tersebut tidak dapat terwujud. Tidak adanya dana dan masalah keamanan adalah beberapa masalah yang menghadang. Saat Tsunami menerjang Aceh pada akhir 2004, keinginan tersebut kembali muncul. Untuk kesekian kalinya, aku harus menunda keingian tersebut karena tanggung jawab yang harus kuemban dalam mengorganisir bantuan kemanusiaan dari Jakarta.
Aceh di Masa Lalu
Saat pertama kali menginjakkan kaki di Bandara Sultan Iskandar Muda, aku jadi teringat pertama kali mulai berkenalan dengan Aceh. Keterlibatanku di Tim relawan untuk Kemanusiaan (TRK) membawaku untuk mengenal daerah ini. Seorang teman mengajakku untuk menjadi bagian dari tim kerja yang melakukan kampanye perdamaian untuk Aceh. Aku kemudian mendapatkan banyak informasi tentang apa yang terjadi di Aceh saat itu. Bayangan tentang Indonesia yang aman, damai dan tentram menjadi buyar saat mengetahui betapa mencekamnya beberapa wilayah di Aceh karena operasi militer yang dijalankan oleh Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan Kepolisian Indonesia (Polri).
Sejak 1989, Aceh ditetapkan menjadi Daerah Operasi Militer dengan nama operasi Jaring Merah. Penetapan tersebut dikatakan sebagai reaksi pemerintah terhadap kehadiran Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Status tersebut kemudian di cabut pada tahun 1999. Kemudian dilanjutkan oleh beberapa oerasi lainnya, diantaranya Operasi Terpadu, Darurat Militer dan diakhiri dengan Darurat Sipil.
Sejak awal terlibat, aku sudah berurusan dengan berbagai data tentang pembunuhan, penyiksaan, penembakan dan pemerasan terhadap masyrakat sipil di beberapa daerah yang di anggap basis GAM. Tidak ketinggalan pulan penyerangan seksual, termasuk pemerkosaan kerap kali kutemui dalam proses bergelut dengan data yang kuterima dari kawan-kawan aktivis di Aceh. Data yang penuh darah dan air mata menjadi santapan pagi buatku. Saat aku mendengar Aceh, maka kengerian rakyat Aceh-lah yang kemudian tergambar dalam benakku. Keagungan Serambi Mekkah tidak dapat kuterima lagi…
Konflik berkepanjangan yang terjadi telah menjadi penghambat pembangunan di Aceh. Tentu saja, kondisi konflik ini tidak terlihat di Banda Aceh. Ketegangan tersebut terasa benar di daerah-daerah yang dianggap sebagai basis GAM. Akan tetapi dibalik cerita sedih tersebut, masih sering ku dengar cerita yang menyejukkan hati. Solidaritas masyarakat satu gampoeng (desa/kampung) saat membantu gampoeng lainnya saat harus mengungsi karena konflik menjadi catatan tersendiri dalam benakku. Keberanian para kaum perempuan berhadap-hadapan dengan aparat militer untuk memprotes tindakan represi menjadi api penjaga semangat untuk tetap memperjuangkan perdamaian di tanah rencong.
Belum selesai dengan Darurat Sipil, akhir tahun 2004, Tsunami melanda Aceh! Bencana ini meluluh-lantakkan hampir seluruh wilayah Aceh. Beberapa wilayah seperti Banda Aceh dan Meulaboh hampir rata dengan tanah… Tak usah aku gambarkan lagi kengerian dan jumlah korbannya. Yang pasti, anda tidak ingin mengalaminya…
Aceh Masa Kini
Pasca bencana Tsunami, Aceh bagai pintu yang terbuka lebar! Berbagai negara datang dengan berbagai bantuan. Solidaritas dunia kemudian tertuju ke Aceh. Pemerintah tidak mungkin lagi menutup Aceh. Persoalan Aceh kemudian menjadi masalah internasional. Pemerintah dengan terpaksa harus “berdamai” dengan GAM pada 15 Agustus 2005.
Babak baru bagi Aceh pun dimulai. Bantuan dana dalam jumlah besar pun mengalir deras ke Aceh. Lembaga bantuan internasional dan nasional pun berdatangan. Bantuan pasca Tsunami untuk rehabilitasi dan rekonstruksi tidak dapat terhitung lagi jumlahnya. Setidaknya aku kebingungan saat mencari jumlah dana bantuan yang mengalir ke Aceh.
Bantuan dana yang jumlahnya tidak dapat dihitung lagi, telah merubah wajah Aceh. Mobil-mobil mewah milik lembaga bantuan, baik internasional dan nasional, hilir mudik di jalan raya Aceh. Menjadi pekerja di Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) merupakan salah satu profesi yang dapat memberikan kesejahteraan. Apalagi mereka yang bekerja untuk lembaga internasional. Tentu saja, anda akan kaget jika mengaetahui berapa besar gaji mereka. Ini merupakan fenomena yang menarik. Selama ini,menjadi pekerja di LSM bukanlah sebuah pilihan yang bijak bagi yang ingin mendapatkan hidup yang berkecukupan.
Sudah pasti, situasi berdampak pada kehidupan sosial masyarakat Aceh, khususnya daerah yang tersentuh oleh lembaga-lembaga internasional. Seorang kawanku mengatakan bahwa individualisme menjadi sangat terasa dalam kehidupan sehari-hari. Masyarakat pun menjadi konsumtif, tentu saja ini terkait dengan jumlah uang yang berputar di Aceh makin besar. Aku tidak bisa membayangkan kalau di Aceh berdiri sebuah Mall… Pasti akan ramai..
Saat ini, aku hanya ingin mengetahui bagaimana kondisi Aceh saat semua lembaga bantuan angkat kaki. Akan tetap samakah Aceh yang saat ini aku datangi?
4 comments