Home Jendela Cerita Seorang Sahabat…

Cerita Seorang Sahabat…

by syaldi
4 comments

Saat ingin menuliskan cerita tentang pengalaman seorang sahabat, aku kebingungan untuk memulai kata apa yang tepat. Pengalamannya terlalu-bahkan-sangat mengguncang perasaanku. Mendengarkannya saja, ada amarah yang membuncah, seolah ingin meledak saat itu. Tak ada kata yang bisa terucap dengan baik, kalaupun ada yang pantas, hanya sumpah serapah yang akan terdengar. Anda pasti akan berlaku sama denganku, saat seorang sahabat anda bercerita bahwa dia pernah mengalami satu peristiwa yang tidak akan dilupakannya selamanya, DIPERKOSA dengan biadab!
Sahabatku tampak masih menahan amarah saat menceritakan kisahnya. Si pelaku adalah salah seorang pemain sinetron yang saat itu sedang naik daun. Pelaku pernah menjadi orang yang dekat dengan sahabatku namun tak lama. Sahabatku memutuskan hubungannya karena mengetahui bahwa pelaku adalah playboy cap kampak yang kerap kali mempermainkan perempuan. Tidak terima dengan keputusan sahabatku, pelaku kemudian merencanakan tindakannya yang biadab.  Sahabatku dicekoki dengan napza lalu diperkosa. Tak perlulah kuceritakan selanjutnya, terlalu perih untuk ku sekalipun hanya menuliskannya.
Mendengar ceritanya seperti membalik halaman buku yang sudah lama kubaca bagaimana seorang perempuan yang menjadi korban diperlakukan dengan tidak seharusnya oleh mekansime hukum di negeri ini. Sahabatku kemudian harus menghadapi sistem peradilan yang kerap kali ‘memperkosanya’. Mulai dari polisi hingga pengadilan, tak satupun yang berpihak kepada perempuan yang menjadi korban. Perempuan selalu dituding sebagai pihak yang mengoda dan selalu bersalah.
Alasan suka sama suka pun menjadi senjata ampuh pelaku untuk berkelit. What?! Merencanakan pemerkosaan dengan mencekoki sahabatku bukan bentuk suka sama suka! Lalu pelaku ingin berlindung dibalik nama besar kakeknya yang notabene adalah salah satu pakar hukum di negeri ini? Tunggu dulu, jaman seperti ini sudah tidak mempan coy!
Media melakukan hal yang tidak jauh berbeda. Mereka juga ikut ‘memperkosa’ sahabatku dengan cara yang lain, terutama media infotainment. Mengejar sahabatku hanya demi mendapatkan berita lalu menanyakan perihal yang sama sekali tidak relevan. Tanpa mempertimbangkan apa yang sedang dialami sahabatku, mereka terus mengejar. Etika media mungkin sudah terlupakan, mungkin. Walaupun ada beberapa yang tampak berpihak, namun pelaku berusaha menggunakan trial by press dengan media tersebut!
Sahabatku yang selama ini kulihat begitu ceria, ternyata menyimpan cerita yang akan menemaninya entah sampai kapan. Aku harus kagum dengannya saat ini. Rasa putus asa dan trauma yang dulu dihadapinya telah dilalui. Tak terpikir olehku bagaimana dia mampu melalui masa sulitnya. Sahabatku telah menjadi seorang penyintas!
Beranjak dari cerita inilah, sebuah pertanyaan muncul di kepalaku. Jika menimbang penderitaan yang dialami oleh sahabat dengan hukuman yang diberikan oleh negara ini kepada pelaku, rasanya tidaklah adil. Sahabatku akan terus menanggung akibat tindakan yang diterimanya, sementara pelaku hanya mendapat hukuman sekian tahun (itupun hanya dijalaninya setengah). Sepertinya hukuman mati bagi pelaku cukup setimpal dengan apa yang dirasakan oleh sahabatku.
Terlalu naifkah diriku?

You may also like

4 comments

Andy MSE 25/09/2008 - 22:24

Mohon maaf lahir batin

Reply
arehs 28/09/2008 - 23:02

thx yah tax! its an honour, really! ga tau mo ngomong apa, komentar apa..jujur bingung…

Reply
Sistem Peradilan Yang Tidak Ramah – House of Question 16/12/2008 - 22:33

[…] lebih parah lagi kalau seorang perempuan menjadi korban pelecehan atau pemerkosaan. Dia akan menghadapi sebuah sistem hukum yang tidak berpihak padanya. Ditambah lagi budaya […]

Reply
Sistem Peradilan Yang Tidak Ramah - House of Question 14/01/2016 - 19:55

[…] lebih parah lagi kalau seorang perempuan menjadi korban pelecehan atau pemerkosaan. Dia akan menghadapi sebuah sistem hukum yang tidak berpihak padanya. Ditambah lagi budaya […]

Reply

Leave a Comment