Home Jendela Dua Bulletin yang Mengusik

Dua Bulletin yang Mengusik

0 comment

Malam itu, aku sedang duduk di depan monitor komputer. Seperti biasa, aku berselancar mencari berbagai informasi di dunia maya. Sambil iseng, aku buka Friendster, salah satu situs yang menyediakan layanan menghubungkan antara penggunanya. Mataku kemudian terantuk pada satu Bulletin Board yang berjudul “Hentikan Memberikan Uang pada Anak Jalanan” yang dikirmkan oleh seorang teman. Diatasnya lagi, terdapat satu judul “Baca ini sebelum menyebarkan bulletin ttg ‘Hentikan Memberi Uang Pada Anak Jalanan’!!!” yang dikirmkan oleh seorang kawanku yang lainnya.
Agak terusik dengan dua Bulletin ini, aku kemudian membuka dan membaca keduanya. Ooh, ternyata perdebatan tentang tindakan memberikan uang recehan kepada para anak jalanan sama sekali tidak membantu. Pada bulletin pertama, dengan panjang lebar dijelaskan tentang kenapa kita, masyarakat harus menghentikan tindakan kita memberikan uang kepada anak jalanan. Menurut tulisan ini, alasan yang paling kuat adalah jumlah yang diperoleh dari belas kasihan orang itu cukup banyak. Akibatnya, mereka kemudian memilih untuk meninggalkan atau tidak sekolah dan hidup di jalanan. Si penulis bahkan memaparkan beberapa hak anak yang termaktub dalam Konvensi PBB tentang hak Anak.
Bulletin yang kedua, mendebat isi yang disampaikan dalam bulletin pertama. Intinya, si penulis mengajak kita untuk untuk melihat lebih jelas permasalahan anak jalanan. Menurutnya, penilaian yang dilakukan oleh penulis bulletin “Hentikan Memberikan Uang pada Anak Jalanan” sangatlah naif dan tidak melihat permasalahan dengan mendasar. Pada akhir tulisannya, si penulis yang kebetulan adalah seorang teman yang cukup aktif dalam masalah anak-anak terpinggirkan mengajak kita untuk memikirkan bagaimana mengembangkan mereka.
Selesai aku baca, aku terpikir dengan dua argumentasi yang tertuang dalam tulisan singkat tersebut. Lama kupandangi dua tulisan itu, kubaca kembali, satu demi satu aku baca kembali. Kubakar lagi rokok yang sedari tadi ada di tanganku, kutarik sehisapan gulungan tembakau pembunuh ini dalam-dalam.
Kembali lagi pada masalah anak yang dipinggirkan-yang lebih suka aku gunakan daripada anak jalanan- yang menjadi awal coretan ini. Saat bicara tentang masalah anak-anak terpinggirkan memang sangat rumit. Saking rumitnya, benang kusut saja mungkin lebih mudah diurai daripada masalah ini. Berbagai aspek saling terkait; ekonomilah, politiklah, lingkunganlah sampai pendidikan. Belum membicarakannya saja, hanya kepeningan yang akan terbayang oleh kepala banyak orang, bahkan kepalaku.
“Saat mereka -dunia internasional-melihat rekaman pembantaian ini, mereka mungkin akan berkata kasihan. Setelah itu mereka kembali makan malam dan melupakannya” ucap seorang pemeran kameraman dalam sebuah film Hotel Rwanda. Kata-kata ini yang mengingatkan aku saat membaca dua tulisan tersebut. Orang akan memberikan uang kepada seorang anak jalanan pasti didasari pada rasa kasihan (atau mungkin takut). Setelah itu, apapun yang terjadi dengan anak tersebut dikemudian hari, itu urusan lain. Yang penting dengan memberikan uang recehan sudah cukup.
Kita kemudian melupakan bahwa kita punya tanggung jawab sosial bagi anak-anak yang dipinggirkan. Dari konstitusi bahkan sampai ke agama, tanggung jawab sosial manusia dipaparkan dengan detil. Kuperhatikan dari beberapa teman, kerabat dan keluargaku merasa sudah melepaskan tanggung jawab sosialnya saat memberikan bantuan pada anak jalanan. Mereka kemudian tidak mau tahu lagi apa yang terjadi dengan mereka setelah itu. Apalagi berpikir tentang apa yang telah menyebabkan mereka dipaksa untuk memilih menjadi “sampah masyarakat”. Hidup sebagai anak jalanan bukanlah sebuah impian seorang anak yang tengah tumbuh berkembang. Ada sebuah sistem yang terbangun telah meminggirkan mereka dari kehidupan nyata ini. Sistem telah membuat mereka kehilangan kesempatan untuk memilih apa yang mereka inginkan.  Aku yakin sekali, saat mereka ditanya tentang keinginan, ada seribu cita-cita yang muncul dalam benak mereka.
Memberikan uang recehan kepada mereka tanpa didasari kesadaran bahwa tindakan memberi memang tidak akan menyelesaikan permasalahan tersebut bukanlah satu tindakan yang tepat. Tanggung jawab sosial manusia adalah sebuah garis takdir yang sudah tergaris sejak kita menghirup napas sesaknya dunia. Kehidupan individualistik yang telah terbangun dari sistem masyarakat ini telah membuat kita menjadi berpikir instan, “jika aku memberi (uang), maka selesailah masalah”. Kata kasihan menjadi satu kata instan dari rasa simpati kita. Pertanyaanya, apakah dia sampai menelusr pada ruang empati di dalam jiwa kita.
Kehadiran yayasan, rumah singgah atau memberikan mereka uang receh tidak pernah akan menyelesaikan masalah yang dihadapi oleh para anak jalanan. Yayasan dan rumah singgah belum tentu menjawab permasalahan yang dihadapi oleh mereka. Bahkan, terkadang terdengar selintingan, beberapa yayasan telah mengekploitasi mereka demi keuntungan pihak tertentu. Dengan meberikan makan gratis dan rumah untuk singgah tidak pernah akan menyelesaikan masalah mereka. Justru terkadang membuat mereka semakin tidak berdaya dalam usaha mereka bertahan di dunia yang begitu keras.
Aku memahami usaha mereka mencari uang dengan mengamen, berpuisi, berjualan, memalak bahkan menipu adalah sebuah usaha bertahan ditengah perangkap pemiskinan. Aku menghirup tehku yang sudah dingin diatas meja. Kubakar satu batang rokok… puss… asapnya mengepul di depan monitorku
Aku kemudian teringat dengan satu kata-kata yang pernah aku sampaikan kepada temanku. “Aku telah menghapus KASIHAN dan memori rasaku” ujar kepada sahabatku. “Kenapa, bukankah loe akan kehilangan rasa dalam bekerja di tengah masyarakat?” sahabatku bertanya. Aku hanya tersenyum… dan kemudian bertanya dalam hati, apakah aku bisa menjelaskan kepadanya proses yang kualami selama ini sehingga sampai pada satu kata itu? “Mungkin saat awal aku terlibat dalam dunia sosial, aku terpanggil oleh rasa kasihan. Akan tetapi, proses mengajarkanku untuk bekerja bukan pada rasa kasihan. Bekerja didasarkan pada sebuah kesadaran bahwa itu adalah tanggung jawabku sebagai bagian dari masyarakat” jawabku. “Aku berusaha untuk tidak kasihan melihat penderitaan seseorang jika aku tidak bisa membantunya, percuma. Setelah orang itu hilang dari hadapanmu, kau akan asyik dengan duniamu !!” Temanku mengerenyitkan dahinya, mungkin itu pertanda mengerti atau sebaliknya? Entahlah…

0 comment
0

You may also like

Leave a Comment

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More

Privacy & Cookies Policy