Home Meja Kerja Perempuan, Simbol dan Gerakan

Perempuan, Simbol dan Gerakan

by syaldi
2 comments

Tulisan ini sebenarnya aku buat untuk sebuah tugas kuliah di kampusku (dulu). Dalam artikel ini, aku coba melihat keterkaitan antara perempuan, simbol dan gerakan di film “In The Times of Butterflies“. Film yang mencerahkan dan tokoh utamanya dapat diperankan dengan baik oleh Salma Hayek.
Film ini bercerita tentang perjuangan Mirabal bersaudara melawan diktator yang berkuasa di Republik Dominika, Rafael Leonidas Trujillo. Dilatar belakangi oleh situasi politik yang represif di Republik Dominika pada tahun 1950-1960-an, film ini menggambarkan perjuangan Minerva Argentina Mirabal (Minerva). Dalam perjuangannya, Minerva bergabung dengan kelompok pembebasan yang beraliran komunis. Sebagai salah seorang pejuang pembebasan yang cukup berpengaruh, Minerva mendapatkan julukan la Miraposa (Kupu-kupu) sebagai sandi dalam gerakannya.
Perjuangan Minerva telah mengantarkan dirinya pada penderitaan yang berkepanjangan. Minerva harus terpisah dengan dua anaknya serta dipenjarakan dan mengalami penyiksaan. Tekanan dunia internasional terhadap rejim Trujillo membuat Minerva dan saudaranya dibebaskan. Trujillo menyadari bahwa Minerva dan dua saudaranya merupakan  salah satu ancaman bagi kekuasaannya. Pada tanggal 25 November 1960, Minerva dan tiga orang saudaranya kemudian dibunuh oleh orang suruhan dari Trujillo. Tanggal kematian Mirabal bersaudara kemudian diperingati sebagai hari anti kekerasan terhadap perempuan di seluruh dunia.
Perempuan dan Simbol
Yang akan saya soroti adalah penggunaan simbol kupu-kupu untuk tokoh Minerva dalam film In The Times of Butterflies. Dalam pemahaman umum, kupu-kupu selalu di identikan  dengan karakter perempuan; indah, penuh dengan pesona kecantikan, menggoda, lemah namun memberikan insprasi. Ini tidak jauh berbeda dengan apa yang ditampilkan dalam film ini. Minerva merupakan sosok perempuan yang cantik, menggoda, bersemangat,  enerjik dan pandai. Proses metamorfosa kupu-kupu dapat menggambarkan proses kesadaran Minerva sebagai seorang perempuan.
Dalam buku Spider and Spinters, perempuan selalu disimbolkan dengan keindahan dan lemah namun berbahaya dalam berbagai mitos. Di satu sisi, simbol keindahan terhadap perempuan selalu ditonjolkan dengan lemah lembutnya sifat seorang perempuan. Di sisi lain, ini dianggap sebagai berbahaya karena berbagai kemampuannya menaklukan dan memperdayai manusia.
La Miraposa menjadi tokoh sentral dalam menginsipirasikan perlawanan masyarakat terhadap Trujillo. Minerva tampil sebagai perempuan intelektual dan punya semangat perlawanan yang tinggi. Tokoh yang begitu dikagumi oleh hampir semua anggota gerakan perlawanan. Sebaliknya, di mata Trujillo, la Miraposa menjadi momok yang selalu mengintai tampuk kekuasaannya. Kecantikan Minerva menjadi daya pikatnya namun keberaniannya menjadi ancaman.
Peranan Minerva sebagai perempuan dalam sebuah keluarga merupakan hal yang lain. Konflik antara ‘peran’ seorang perempuan dalam sebuah keluarga dan seorang perempuan dalam gerekan menjadi latar belakang yang menarik dalam film ini. Minerva tetap dimunculkan sebagai seorang ‘perempuan’ yang lemah. Dia harus berhadapan mengasuh anak hingga memasak untuk sang suami
Perempuan dan Gerakan
Sejak awal saya mengenal dunia gerakan, jarang sekali terdengar tentang tokoh gerakan perempuan. Hampir semua gerakan yang dianggap berhasil selalu memunculkan seorang laki-laki sebagai figur tokoh. Terlepas bahwa terdapat kelompok perempuan dalam proses tersebut, mereka tidak pernah terdengar dalam sejarah. Justru yang sering muncul adalah cerita sebaliknya, bahwa perempuan sebagai kelompok yang lemah kerap menjadi kendala dalam sebuah proses perjuangan.
Setelah menyaksikan film di atas, berbagai cerita tentang peranan perempuan seperti terpanggil dalam memori. Saya kemudian teringat berbagai cerita tentang peranan perempuan Aceh dalam upaya melawan penjajahan Belanda, Cut Nyak Dien misalnya. Akan tetapi, tetap saja ceritanya tidak pernah terlepas dari peranan suaminya, Teuku Umar. Perempuan seakan berada di bawah bayang-bayang laki-laki. Perempuan kemudian diposisikan sebagai kelompok yang lemah, mudah dimanipulasi, dan tanpa pendirian dalam cerita gerakan.
Begitu juga dengan cerita La Miraposa, peranan suaminya digambarkan begitu kuat. Minerva sempat goyah saat melihat sang suami mengalami siksaan namun dia bergeming, tetap pada pendiriannya. Yang menjadi menarik adalah kemampuan seorang perempuan dalam berjuang akan tetapi tetap melaksanakan fungsinya sebagai seorang perempuan sesuai dengan norma sosial yang ada di masyarakat. Teringat lagi pada cerita yang disampaikan oleh kelompok ibu-ibu yang tergabung dalam Suara Ibu Peduli (SIP) yang harus pandai mengatur di mana mereka berfungsi sebagai seorang ibu dan seorang aktifis.
Sebuah pemahaman terhadap perempuan; sebuah dilema…
Selama ini yang saya pahami tentang seorang perempuan tidak lebih dari seorang manusia yang berbeda jenis kelaminnya dengan seorang laki-laki- sebagai seorang manusia dengan berkelamin laki-laki. Dilahirkan dengan ajaran Islam yang konservatif, perempuan kemudian saya pandang berderajat lebih rendah dari pada laki-laki. Perempuan disimbolkan sebagai makhluk penggoda.
Setelah dewasa, di mana terdapat proses yang panjang dalam meruntuhkan pandangan lama kemudian membangun pemahaman baru tentang sosok seorang perempuan. Tidak mudah merekonstruksi kembali pandangan tentang perempuan dalan pemikiran saya sebagai manusia dengan berbagai pengalaman empirik serta teori yang bertebaran tentang keperempuanan. Tatkala, pemahaman tersebut telah terbangun, yang menjadi masalah berikutnya adalah pelaksanaannya.
Dalam berbagai tindakan dan sikap yang berhubungan dengan perempuan, selalu saja muncul rasa “kelaki-lakian” yang mengganggu. Upaya melakukan internalisasi pemahaman tentang perempuan kemudian menjadi dilema yang tiada akhir. Sebagai seorang laki-laki yang berusaha untuk menjadi feminis masih sangat kental dipengaruhi oleh machoisme yang terbangun oleh norma sosial. Perempuan yang juga kerap kali terkungkung dalam budaya patriarki-sadar maupun tidak sadar- telah memberikan ruang untuk penindaan terhadap dirinya.

You may also like

2 comments

Kampanye #16HAKTP 2015 : Sorge Magazine 24/11/2015 - 21:46

[…] dari peristiwa pembunuhan tiga bersaudari Mirabal, penggiat perempuan yang aktif melawan rejim Rafael Trujillo di Dominika pada tahun 1960. Sejak tahun 1981, para penggiat perempuan di seluruh dunia memperingati hari kematian mereka yang […]

Reply

Leave a Comment