Home Review The Take; Merebut Alat Produksi

The Take; Merebut Alat Produksi

by syaldi
0 comment

Judul: The Take
Jenis: Dokumenter
Sutradara: Avi Lewis
Penulis: Naomi Klein
Durasi 90 menit
Deskripsi Singkat
Film dokumenter berkisah tentang perjuangan sekelompok buruh pekerja sebuah perusahaan spare-part otomotif, Forja San Martin untuk mengambil alih perusahaan yang telah ditutup oleh pemiliknya. Perjuangan panjang mereka lalui, sistem peradilan tidak memihak dan lobby ke wakil pemerintah yang panjang. Pada akhirnya mereka berhasil mengambil alih pabrik dan berproduksi kembali. Kisah ini adalah wakil dari fenomena perjuangan kelompok buruh yang terjadi di Argentina.
Penuh dengan inspirasi bagi gerakan sosial, khususnya gerakan buruh ditengah arus besar globalisasi ekonomi. Kesan inilah yang akan muncul setelah menyaksikan film dokumenter ini. Film yang dibuat di Argentina mencoba menangkap proses perjuangan gerakan buruh dalam meraih hak mereka.
“Manfaat” Hutang dari IMF bagi Argentina
Pada masa pemerintahan Carlos Menem, Argentina terbelit utang yang diberikan oleh International Monetary Fund (IMF). Sebelumnya, Carlos Menem menjalankan perbaikan program ekonomi dengan cara mem-privatisasi berbagai perusahaan sebagai salah satu kesepakatan dengan IMF untuk mendapatkan hutang. Seperti negara lainnya yang terbelit utang IMF, Argentina kemudian jatuh ke dalam krisis moneter dan politik yang berkepanjangan. Para pemodal yang mendapatkan keuntungan dari hutang tersebut kemudian menutup pabrik-pabrik mereka. Akibatnya, ribuan bahkan jutaan buruh kehilangan mata pencaharian mereka dan hidup dalam ketidak pastian.
Sekelompok aktivis bersama gerakan buruh kemudian melihat permasalahan ini kemudian membangun sebuah gerakan, Unemployed Workers Movement (MTD). Mereka kemudian menjalankan sebuah kampanye National Movement of Recovered Companies (NMRC) untuk mengambil alih pabrik sebagai alat produksi. Slogan mereka yang terkenal adalah occupy (duduki), resist (lawan) and produce (produksi)
Kondisi di atas menjadi latar belakang dari film dokumenter ini. Sebagai wakil dari sekian banyak fenomena, perjuangan sekelompok buruh suku cadang otomotif, Forja San Martin kemudian diangkat. Freddy Espinosa, salah seorang buruh yang terlibat dalam usaha tersebut menjadi obyek dalam film ini.
Freddy adalah salah satu buruh yang dulu bekerja di Forja San Martin. Kehidupan Freddy dan keluarganya saat masih bekerja dapat dikatakan berkecukupan. Mereka dapat membangun rumah dan menghidupi 2 putrinya dengan layak. Namun, kondisinya berbalik 180 derajat saat pabrik tempatnya kemudian ditutup dan ditinggalkan oleh pemiliknya. Freddy terlilit utang untuk menghidupi keluarganya.
Freddy bersama 30 orang mantan buruh Forja San Martin di dukung oleh NMRC berencana untuk mengambil alih Forja San Martin. Berbagai upaya mereka gunakan untuk mendapatkan ijin untuk mengambil alih Forja San Martin. Langkah awal yang mereka lakukan adalah melalui mekanisme hukum. Mereka harus mampu meyakinkan hakim yang menyidangkan tuntutan mereka bahwa mereka mampu mengoperasikan Forja San Martin. Usaha tersebut gagal…
Mereka kemudian mencoba melalui dewan (semacam DPR) untuk membuat semacam aturan yang mengesahkan pengambilalihan pabrik oleh serikat pekerja. Upaya panjang ini pada akhirnya berhasil, dewan kemudian mengeluarkan kebijakan yang memberikan kesempatan kepada serikat buruh untuk menjalankan Forja San Martin.
Sebelumnya, telah banyak fasilitas swasta yang ditinggalkan oleh para pemodal diambil alih oleh para pekerja. Instituto Comunicaciones (Sekolah), Clinica Medrano (Klinik Kesehatan), Astillero Almirante Brown (pembuatan kapal), Ghelco (es krim), Brukman (garmen) dan Zanello (traktor) adalah beberapa milik swasta yang telah diambil alih. Salah satu yang dianggap cukup berhasil adalah Zanon Ceramic (pabrik keramik).
Mengambil-alih, solusi konkrit gerakan buruh…
Expropriation, pengambil alihan adalah kata digunakan oleh serikat buruh yang menduduki pabrik dan menjalankannya. Sebuah gagasan yang mungkin bagi sebagian orang awam sangat asing. Tidak sedikit juga yang meragukan bahwa gagasan ini mungkin dilakukan. Akan tetapi, gerakan buruh di Argentina telah membuktikan bahwa gagasan ini adalah hal yang mungkin. Bahkan gagasan ini telah menyebar di gerakan buruh Amerika Latin. Penguasaan buruh terhadap alat produksi adalah salah satu langkah maju untuk melawan laju globalisasi ekonomi dan politik yang hanya berpihak pada pemodal
Kunci keberhasilan gerakan buruh tersebut adalah semangat kolektifitas serta dukungan dari masyarakat. Secara bersama-sama, serikat buruh membicarakan langkah serta mengambil keputusan dalam menjalankan pabrik yang mereka ambil alih. Salah satu contoh-yang sekali lagi hampir tidak mungkin- adalah menerapkan gaji yang sama diantara para pekerja. Mereka juga saling bekerja sama diantara serikat pekerja, baik untuk mendapatkan bahan produksi atau distribusinya.
Dampak dari pengambil alihan tersebut juga dirasakan oleh masyarakat. Harga dari hasil produksi dapat ditekan dalam proses produksi. Masyarakat mendapatkan harga yang tidak mahal karena serikat pekerja dapat memangkas biaya produksi serta nilai lebih (keuntungan) yang masuk ke kantung para pemodal. Terlebih lagi, kesempatan kerja kembali terbuka bagi masyarakat
Pengambil alihan ini bukan berarti tidak mendapatkan perlawanan dari para pemodal. Setelah melihat pabrik yang ditinggalkan dapat berproduksi kembali, mereka kemudian berencana memiliki kembali. Alasan utama mereka adalah alat produksi tersebut adalah aset mereka. Politisi dan kepolisian mereka gunakan. Salah satu contoh konkrit adalah penutupan Brukman oleh polisi Argentina. Serikat buruh dianggap menduduki pabrik tersebut secara ilegal.
Perlawanan kemudian dilakukan oleh serikat pekerja bersama berbagai elemen gerakan sosial lainnya. Salah satu pendukung dari gerakan ini adalah Madres Plaza de Mayo. Mereka bersama-sama serikat buruh turun ke jalan dan menuntut dikembalikannya pabrik tersebut kepada para pekerja yang telah menjalankannya selama beberapa tahun.
Jika anda ingin mengetahui lebih lanjut tentang film ini, silahkan klik www.thetake.org
dimuat di www.sekitarkita.com

You may also like

Leave a Comment