Selamat sore perempuan…!!
kuharap matahari tak menyakitimu
Matahari telah beranjak dari singgasananya
Giliran sang dewi malam menyergap dunia ini…
Aku harap kau tak membaca larikan ini dengan air mata
Kuharap kau tak menyimpan semburat biru di wajah
lebam memerah di kulit tipis pembungkus tubuhmu
Atas nama kaumku, aku minta maaf kepadamu, perempuan…
Telah banyak derita, siksa, air mata dan noda yang kaumku tumpahkan kepadamu
Maafkan kami yang telah memandangmu sebagai seonggok daging tanpa jiwa
Kami anggap, jiwamu telah kami beli dengan kuasa kami sebagai lelaki.
Teringatku pada sekat-sekat masa kecil…
Kau, perempuanku kukenal sebagai tubuh dengan buah dada dan vagina..
bukan sebagai manusia dengan lekuk tubuh yang indah lengkap dengan jiwa…
Sedari dunia terbentuk, kau telah menjadi sumber cacian kaumku
Tatkala bulan mulai menampakkan bidangnya yang tidak sempurna
Aku masih termenung, tercerabut dari titik kesadaran seorang lelaki
Ku kenal dirimu dari sosok ibu, perempuan yang mengasihi buah hatinya
Sosok yang telah kehilangan maknanya sebagai perempuan
Aku ingat betul, guru berkata “surga berada di bawah telapak kaki ibumu, nak”
Kulihat sekarang, ibu (perempuan) itu terjerambab di lantai di bawah telapak lelaki
Sang panutan bersabda, maka celakalah jika seorang perempuan tidak memafkan suaminya.
Lalu bagaimana lelaki itu? Apakah dia tidak celaka hanya karena dia seorang laki-laki
Garis perempuan ditakdirkan oleh sang lelaki, kaumku
Apakah kau masih mengenal dirimu, perempuanku?
Masihkah kau ingat siapa kau seungguhnya perempuanku?
Terempas di titik nadir mencari identitasmu dalam dunia kuasa lelaki
Jangan terlalu lama kau, meratapi nasib…
Gugatlah dunia atas kesombongannya terhadap kehadiranmu
Biar Tuhan juga mendengarnya…
Seandainya Tuhan adalah perempuan….
Syaldi, 08 November 2005 17.00
1 comment