Home Meja Kerja Melawan Lupa

Melawan Lupa

by syaldi
0 comment

Hiruk-pikuk situasi politik di negeri terasa hingga terasa membingungkan. Semuanya masyarakat seolah tersedot perhatiannya ke politik praktis yang tak mendidik. Media dengan gegap gempita mengangkat situasi tersebut demi mengejar rating dan iklan.
Semuanya seolah berusaha melupakan sebuah peristiwa yang menandai catatan sejarah bangsa di bulan ini, Tragedi Trisakti dan Tragedi Mei 98. Peristiwa pada yang terjadi pada 11 tahun yang lalu seolah hanya menjadi potongan fakta yang tidak penting dan layak untuk dingat kembali. Ribuan manusia yang menjadi korban untuk tonggak perubahan seolah menjadi angka statistik.
Pelupaan Sistematik
Saat ini, Tragedi Trisakti dan Mei ’98 mungkin hanya menjadi fragmen dalam kehidupan kita. Namun akan berbeda dengan mereka yang kerabat, anak, orang tua atau saudaranya yang menjadi korban dalam peristiwa tersebut. Empat keluarga harus kehilangan anak mereka yang ditembak oleh pasukan keamanan di Kampus Trisakti saat memperjuangkan kepentingan bangsa. Ratusan orang harus kehilangan harta bendanya karena penjarahan yang terjadi. Puluhan bahkan mungkin ratusan perempuan keturunan yang harus menanggung beban traumatik akibat penyerangan seksual yang dilakukan oleh sekelompok orang. Ribuan orang kehilangan sanak keluarganya karena dibakar dengan sengaja¬† secara sistematik oleh oknum.
Kedua tragedi tersebut tidak terlepas dari berbagai peristiwa kekerasan yang dilakukan oleh Negara terhadap warganya. Dengan latar belakang suasana ketidakpercayaan dan krisis multi-dimensi, pemerintah kemudian berkilah bahwa peristiwa tersebut adalah ekses dan gesekan yang terjadi di tengah masyarakat. Ya, inilah salah satu taktik yang digunakan agar masyarakat kemudian percaya dan kemudian berusahan sebuah pengalaman pahit.
Pemerintah juga berkilah bahwa banyak hal lain yang lebih penting saat ini harus diselesaikan oleh bangsa ini, sehingga menyelesaikan kasus peristiwa ini menjadi agenda kesekian. Terlebih lagi kecenderungan psikologis masyarakat yang ingin status quo dimanipulasi dengan pernyataan bahwa mengangkat peristiwa tersebut sama saja dengan mengungkit luka masa lalu. Kondisi ini dapat menyebabkan perpecahan di tengah bangsa dan mencitapkan ketidakstabilan
Masyarakat kemudian digiring ke dalam sebuah proses pelupaan secara sistemik. Dibantu oleh berbagai komponen dari kelompok agama hingga militer, pemerintah menciptakan situasi bahwa peristiwa masa lalu biarlah berlalu. Ibarat sebuah kesalahan, “marilah kita saling memafkan dan melupakan apa yang telah terjadi di masa lalu”
Saatnya untuk Ingat!
Dalam buku The Book of Laughing and Forgetting, Milan Kundera menyatakan bahwa perjuangan manusia melawan kekuasaan adalah perjuangan manusia melawan lupa menjadi sangat relevan. Kekuasaan akan selalu berusaha membuat kita melupakan apa yang telah terjadi sehingga mereka tetap berkuasa. Terry Eagleton melihat bahwa Politik Amnesia kemudian dilakukan untuk menutupi kejahatan sanga penguasa.
Sekuat apapun usaha tersebut, mereka yaang menjadi korban dan keluarganya tidak akan pernah melupakan peristiwa tersebut. Mereka akan terus membawanya dalam kehidupan mereka. Padahal yang mereka butuhkan hanyala pengakuan dan keadilan! Setelah intu, negara harus menjamin bahwa apa yang mereka alami di masa lalu dapat dicegah di masa yang akan datang.
Oleh karena itu, melawan kekuasaan yang tirani harus dibangun dengan membangun memori-memori kolektif di tengah masyarakat. Ceritakanlah kepada sahabat, kerabat atau orang yang berada di sekelilingmu tentang peristiwa tersebut. Memori koletif tersebut akan meng’hantui’ pemerintah yang berkuasa bahwa mereka masih punya pekerjaan yang belum terselesaikan.
Ingatan kecil tentang sebuah peristiwa akan menjadi catatan penting di masa yang akan datang. Berilah semangat untuk mereka yang menjadi korban dan tidak henti ‘berteriak’ untuk mengingatkan bahwa tragedi ini belum selesai. Jangan biarkan
Ingatlah demi masa depan!

You may also like

Leave a Comment