Home Jendela Perang, Perang dan Perang

Perang, Perang dan Perang

0 comment

Perang, satu kata yang selalu dikutuk dan dihindari oleh sebagian besar manusia. Kata tersebut selalu dikonotasikan dengan makna yang negatif.
Pertanyaannya kemudian adalah mengapa kata tersebut menjadi momok tersendiri bagi umat manusia? Pertanyaanku kemudian adalah jika itu memang momok, mengapa perang selalu terjadi dan kerap kali digunakan oleh manusia?
Catatan sejarah hidup umat manusia diatas muka bumi tidak pernah luput dari perang. Sejak awal bumi terbentuk, makna ini juga telah ikut tercipta. Melalui mitos Yunani tentang penciptaan dunia hingga saat ini, perang dalam makna sesungguhnya di belahan timur tengah dunia.
Perang dari dulu hingga sekarang tidak pernah berubah. Motifnya adalah perebutan kekuasaan. Apapun pembelannya, pembelaan diri dan kehormatan, perang adalah masalah perebutan kekuasaan. Untuk merebutnya, harus dilakukan dengan tindakan. Tindakan itu bisa berupa upaya yang halus seperti diplomasi maupun agresi langsung pada obyek yang ingin direbut. Apa yang dikatakan saat perang salib dimulai? Perang atas nama Tuhan! Bayangkan, Tuhan yang menciptakan manusia untuk hidup berdampingan jadi penyebab perang?!
Butuh yang lebih konkrit? Mari kita lihat sejarah bangsa ini. Apa motif dari penjajahan yang dilakukan oleh VOC, sebuah konsorsium pedagang Belanda (bukan Belanda sebafai negara) di belahan tanah nusantara? Jelas, menguasai! Menguasai sumber daya alam yang mereka butuhkan saat itu, rempah-rempah. Bangsa ini kemudian memerangi mereka dengan alasan merebut kemerdekaan. Saat bangsa ini sepakat membentuk satu Negara, Indonesia kebutuhan akan perang tetap dibutuhkan. Mulailah, perang terhadap “pemberontakan” (1942). Mereka yang memiliki/dituduh menganut paham komunisme (1965-1969) kemudian menjadi sasaran berikutnya. Terus menerus hingga saat ini.
Perang selalu meminta korban, apa saja entah itu jiwa, harta maupun martabat manusia itu. Apapun pemaknaannya, perang tetap membutuhkan korban. Perang tidak peduli dengan apa yang berada dihadapannya. Semua benda akan dilumatnya jika berada dalam pusarannya, termasuk manusia.
Menariknya, justru manusialah yang selalu menjadi aktor dalam perang. Manusia yang selalu memulai perang. Seorang jendral dengan mudah menggerakkan para prajurit untuk secepat mungkin melawan musuh. Prajurit dengan secepat kilat membunuh lawannya, entah itu laki-laki, perempuan, orang tua atau anak-anak. Tidak peduli, selama kemenangan akan berada di sisinya. Bahkan, mereka rela meregang nyawa demi satu kepercayaan semu dari sebuah kemenangan. Tidak ada rasio apalagi nurani dalam sebuah medan pertempuran. Yang ada hanya, kau mati atau aku yang mati!
Dalam perang, selalu harus ada pihak yang menang dan yang kalah. Tidak ada perang yang berakhir dengan status seri, harus ada yang menang atau perang tetap berlangsung. Ada pomeo bijak yang mengatakan bahwa dalam perang, yang menang jadi arang. Menurutku, pomeo ini hanyalah angan-angan dari manusia saat berada dalam posisi terjepit atau kalah. Toh jika itu di adalah sebuah fakta, mengapa perang terus berlanjut, pasti ada sesuatu yang jelas dalam sebuah perang. Apa itu? Apalagi kalau bukan sebuah kemenangan.
Sebagian kecil manusia menyadari bahwa perang adalah sebuah peristiwa yang menjadi bukti kebiadaban manusia. Mereka kemudian mencoba mengaturnya menjadi perang yang lebih beradab. Pertanyaanku kepada mereka, apakah ada perang yang beradab? Atau itu hanya usaha untuk menebus kesalahan masa lalu dari mereka? Mungkinkah mengatur satu tata cara berperang dari kumpulan meja kecil yang ditempati oleh intelektual yang bahkan tidak pernah tahu apa itu perang. Mungkin ada yang tahu, tapi tentunya mereka yang menjadi pemenang atau penikmat dari perang itu sendiri.
Dampak dari sebuah perang adalah sebuah hal yang nyata. Hancurnya tatanan kehidupan manusia dengan jelas tergambar dalam sebuah perang. Sebuah kota yang porak-poranda akibat artileri adalah pemandangan klasik dalam sebuah perang. Gambar manusia yang mati atau sedang meregang nyawa menjadi tontonan wajib dalam sebuah perang. Tangisan dan teriakan manusia menjadi satu adegan dalam drama besar yang berjudul perang.
Perang, sebuah kebutuhan dasar dari manusia!
Pikiranku tergelitik saat membaca sebuah pamflet di atas mejaku. Bunyinya “perangi koruptor” ditulis diatas kertas putih dengan tulisan berwarna merah. Begitu kontras, putih yang diberikan warna merah yang mencolok! Eye catching, para desainer yang akan dikatakannya saat melihat perpaduan warna tersebut. Tegas dan berwibawa menggambarkan semangat dari pesan yang ingin disampaikan. Pesan ini dibuat oleh sekelompok orang dengan wawasan yang luas dan punya pemahaman yang cukup dalam tentang kemanusiaan. Mereka membuat itu karena tidak setuju dengan tindakan korupsi yang dilakukan oleh sebagian kecil orang.
Pertanyaanya, (aku ulangi lagi) perang adalah momok tapi tetap saja menjadi kata favorit dari manusia?
Perang adalah agresi. Agresi adalah sifat dasar dari setiap manusia. Minimal, Sigmund Freud, seorang psikoanalisis (yang aku tidak pernah senang dengan pemikirannya) telah menyatakannya dalam bukti empiris. Penelitiannya begitu digandrungi oleh mahasiswa fakultas Psikologi semester awal yang mementahkan berbagai teori awal tentang mulianya sosok manusia. Manusia adalah binatang yang-sayangnya-mempunyai akal dan pikiran
Perang mengajarkan kita tentang siapa sebenarnya manusia. Tanpa perang, kita tidak akan memahami apa yang dimaksud dengan kebiadaban manusia. Tanpa perang, kita tidak pernah akan tahu apa itu perdamaian. Tanpa perang, manusia tidak akan pernah punya harapan. Menurutku, perang adalah proses pendewasaan manusia. Pada dasarnya, manusia dianugrahi kemampuan untuk bertahan hidup. Dari perang, kita bisa lihat teori Darwin yang kerap dipakai dalam ilmu sosial, manusia yang kuatlah yang akan bertahan!
Seorang teman mengingatkanku, jangan terlalu polos melihat sebuah perang sebagai kontradiksi antara dua pihak yang bersiteru. Perang adalah BISNIS! Ya, harus diakui, perang adalah sebuah medan bisnis; senjata, teknologi dan manusia. Bukalah sedikit mata anda, perusahaan senjata adalah bisnis yang menguntungkan. Semua Negara membutuhkannya, mulai dari Negara besar hingga Negara miskin sekalipun, mereka butuh senjata. Untuk mempertahankan diri, katanya. Untuk menguji senjata yang mereka ciptakan dan kembangkan, apa yang mereka butuhkan? PERANG! Apa yang mereka promosikan? Senjata A mempunyai daya hancur sekian dengan jangkauan, dan seterusnya. Camkan kata-kata ini, tidak ada satu pun senjata, apa pun bentuknya, diciptakan untuk perdamaian.
Bila seseorang mengatakan dengan bangga bahwa dia adalah manusia modern, maka dia harus mengetahui bahwa modernitas yang kini dinikmatinya adalah hasil dari sebuah perang. Revolusi Perancis yang terjadi pada abad 17 adalah tonggak awal jaman modern. Peristiwa ini ditandai dengan pembantaian luar biasa monarki Perancis dan pendukungnya. Jadi, modern lahir dari pembantaian manusia, satu harga yang harus dibayar demi sebuah perubahan. Jika kita buat kesimpulan yang simplifikasi, perang adalah salah satu cara melakukan perubahan.
Hak Asasi Manusia (HAM) yang dibanggakan sebagai sebuah nilai-nilai kemanusiaan merupakan anak kandung yang lahir dari sebuah kekejian. Perang dunia ke-2 antara tentara sekutu dengan Nazi-Italia meninggalkan jejak yang paling berdarah (mungkin) dalam sejarah umat manusia. Pembunuhan, tepatnya pembantaian kaum Yahudi, homosexual dan hippies dilakukan oleh NAZI. Alih-alih menghentikan pembantaian, tentara Rusia melanjutkan kebiadaban tersebut dengan memperkosa perempuan saat menaklukan Jerman.  Nah, dari peristiwa inilah HAM mulai dikumandangkan setelah tentara sekutu sebagai pihak yang menang menghukum gantung sejumlah pimpinan NAZI.
Jangan kaget kalau pemaparanku di atas terkesan begitu sadis dan menyanjung sebuah perang. Saat aku berpikir dan membaca ulang tulisan ini, terus terang terbersit rasa terkejut dan tidak percaya bahwa ini adalah buah pikiranku. Akan tetapi, tidak bisa aku nafikan bahwa ini adalah realitas. Suka tidak suka, perang terus terjadi…
Aku adalah bagian dari sedikit orang yang “terjebak” dalam utopia perdamaian. Namun, memimpikan sebuah bukan hal yang salah!
ditulis: 26 Februari 2006

0 comment
0

You may also like

Leave a Comment

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More

Privacy & Cookies Policy