Home Perjalanan Ironi di Atas KRL Jabotabek

Ironi di Atas KRL Jabotabek

by syaldi
2 comments

Sore itu, aku baru pulang dari sebuah tempat di bilangan Bogor, Jawa Barat. Sedianya, aku pulang ke Jakarta bersama teman-teman satu kantor. Tapi karena ada urusan lain mendadak dan perubahan rencana, maka aku memutuskan pulang menggunakan angkutan umum. Salah satu pilihan terbaik dan tercepat adalah KRL Jabotabek. Segeralah kuputuskan untuk menuju ke Stasiun Bogor…
Aku bersama dengan salah satu sahabat, Idaman Andarmosoko beserta seorang temannya (maaf aku lupa namanya) kemudian naik kereta AC Ekonomi jurusan Bogor-Jakarta, Kota. Setelah membeli karcis di loket, kami bergegas naik ke gerbong kereta yang sudah menunggu di jalur 3. Kami harus menunggu cukup lama, sekitar 15 menit dari jadwal keberangkatan. Oh iya, jangan lupa kereta jadwal KRL bisa berubah sesuai kehendak pengelola. Jadi jangan mengharapkan tepat waktu.
Selama 15 menit kami menunggu di atas kereta. Di gerbong yang kami tempati, masih kosong. Depan tempat duduk kami, hanya ada satu orang pria. Kantuk yang menyerang membuatku memilih memejamkan mata. Tak lama, aku kemudian terbangun. Kulihat tempat duduk di depan kami sudah ditempati oleh beberapa orang berpakaian dinas harian (PDH) TNI, mungkin sekitar 5 orang. Sepertinya masih dalam dalam masa pendidikan. Kuperhatikan simbolnya, mereka dari TNI Angkatan Darat (TNI AD) seperti dari Batalyon Zeni. Ada tulisan DITZI, yang mungkin berarti Direktorat Zeni AD.
Setelah kereta berjalan, para petugas yang bertugas memeriksa karcis mulai beraksi. Mereka berjumlah 5 orang mulai memeriksa para penumpang untuk menghindari adanya ‘penumpang gelap’. Kuperhatikan dengan seksama, satu persatu penumpang diperiksa. Penumpang diminta memperlihatkan tiketnya.
Akhirnya, sampailah mereka sampai di gerbongĀ tempatku berada. Segera mereka memeriksa, satu persatu penumpang diperiksa, aku pun dapat bagian. Setelah selesai, mereka pindah ke tempat duduk depan. Tapi apa yang kulihat? Petugas itu tidak memeriksa bahkan tidak meminta karcis pada lima orang yang mengenakan PDH! Mereka lewat begitu saja. Langsung memeriksa satu orang yang sebelumnya duduk. Setelah itu, mereka memeriksa seseorang yang mengenakan pakaian sipil. Sialnya, orang tersebut salah naik kereta. Karcis ditangannya adalah untuk naik kereta ekonomi, bukan AC ekonomi.
Disinilah muliat terlihat ironis-nya sebuah bangsa yang hidup di bayang-bayang militer. Seseorang yang menggunakan seragam masih saja memiliki hak untuk mendapatkan keistimewaan. Mungkin aku terlalu naif dengan mengira praktek seperti ini sudah enyah di Indonesia. Aku kira masyarakat sudah lelah dengan praktek semacam ini.
Orang tersebut kemudian diminta membayar denda sekian rupiah karena tidak memiliki karcis. Walaupun sudah berargumen salah naik kereta, namun tetap saja didenda. Ok, aturan tetap harus dijalankan tapi kenapa orang yang berpakaian dinas tidak diminta? Itu bukan aturan namanya…
Mungkin jika mereka bertugas untuk, mungkin sudah seharusnya mereka mendapatkan keistimewaan tersebut. Tentu saja dalam batas tertentu! Ingat merekalah sebagai aparat negara yang hidup dari pajak rakyat seharusnya memberikan pelayanan kepada rakyat. Dalam kondisi tertentu mereka tetap saja sebagai warga negara yang harus menjalani kewajiban mereka danĀ  menghormati hak warga negara lainnya.
Selayaknya mereka yang harus memberikan contoh pada warga negara lainnya untuk mematuhi peraturan. Bukannya malah memberikan contoh sebaliknya. Melanggar aturan yang seharusnya mereka tegakkan. Sebaiknya, sesama aparat negara saling mengingatkan jika ada yang melanggar. Jangan hanya karena menggunakan seragam maka bertindak sewenang-wenang kepada warga negara.

You may also like

2 comments

Mpu Gondrong 29/01/2009 - 10:19

Tulisan di blog ini tidak akurat. Harap diperhatikan, “Peron = pelataran (halaman) pada stasiun kereta api, tempat penumpang menunggu atau tempat turun naik dari kereta.” Bila pemilihan kata tidat tepat, bagaimana keseluruhan artikel ini bisa dibilang tepat? Harap menjadi perhatian, terima kasih.

Reply
Syaldi Sahude 29/01/2009 - 11:47

Terima kasih atas koreksinya! Yang aku maksud adalah gerbong dan sudah di revisi. Walaupun pemilihan kata tidak tepat, tidak berarti bahwa keseluruhan tulisan ini tidak tepat. Aku bisa mempertanggung-jawabkan kebenaran dari cerita ini.
Kalau anda pernah naik kereta, mungkin sekali dua kali dapat menemui cerita ini.

Reply

Leave a Comment