Home Beranda Menuju Tahun 2009…

Menuju Tahun 2009…

by syaldi
0 comment

Beberapa ratus menit lagi, manusia meyakini bahwa waktu akan bergeser ke tahun yang baru. Momentum ini ditanggapi beragam oleh manusia. Pertama, ada yang menganggapnya sebagai sebuah momentum yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Kedua, ada juga yang menganggap ini sebagai hal yang biasa tidak istimewa. Aku adalah salah satu manusia yang masuk di golongan kedua.
Waktu adalah proses yang linear. Tidak ada yang dapat menghentikannya walaupun sesaat. Setiap waktu bergerak, terjadi sekian banyak perubahan yang berdampak pada dunia. Yap, hanya perubahanla h yang absolut! Makanya, substansinya tetap pada waktu! Manusia lah yang memberikan “judul” pada masa tersebut.
Akan tetapi, tidak perlulah kita membahas alasan filosofis waktu. Terlalu rumit walaupun sangat relevan!
Lalu mengapa aku menganggapnya satu hal ini sesuatu yang tidak perlu? Sederhana saja, buatku tahun baru adalah hal yang sama dengan hari yang biasa. Perubahan terus terjadi! So, buat apa kita membuat resolusi jika jarang sekali kita bisa memenuhi targetnya? Lalu apa bedanya jika kita membuatnya di waktu yang berbeda? Tentu saja tidak akan berbeda, substansinya sama, sebuah rencana yang kita harapkan atau ingin dilakukan ke depan.
Resolusi adalah wujud dari keinginan untuk melakukan perubahan. Namun apakah ada yang berpikir untuk membuat resolusi untuk mendorong terjadinya perubahan sosial? Mungkin hanya sedikit. Lebih banyak orang hanya perduli pada persoalan individu. Sayang sekali…
Selanjutnya, aku melihat bahwa tahun baru menjadi momentum yang sia-sia. Tahun baru dirayakan dengan cara-cara yang tidak perlu; pesta yang tidak perlu menghabiskan biaya, Konvoi-konvoi menggunakan menggunakan kendaraan bermotor hanya menyisakan sampah dan menambah polusi udara. Jalan raya hanya menyisakan kemacetan karena orang kota bergegas menuju ke daerah tujuan wisata.
Beberapa teman dengan repot mengirimkan ucapan selamat melalui SMS. Biasanya, aku juga ikutan mengirimkannya melalui SMS. Namun lama kupikir, salam itu sebenarnya sangat sedikit dampaknya. Malah justru menguntungkan para penyedia jasa layanan selular. Mending sekalian aku memberikan salam saat bertemu dengan teman-temanku.
Tidak ada yang berubah. Siklus itu terus terjadi, hanya konteksnya saja yang berbeda. Anda boleh saja tidak setuju dengan pendapatku dan mengatakan bahwa tidak ada yang salah dengan merayakannya. Tentu saja, aku juga tidak membantahnya. Itu adalah pilihan! Silahkan saja anda melakukan ‘ritual’ yang anda yakini sebagai ajang perayaan momentum tersebut.
Yang miskin mungkin akan bertambah miskin. Pengangguran akan terus bertambah. Keadilan tetap jauh. Globalisasi ekonomi yang mengisap keutuhan bangsa terus berlangsung. Lalu apa gunanya tahun yang baru jika hanya berdampak pada sebagian orang?

You may also like

Leave a Comment